• Sebuah Perjalanan

    Perjalanan apapun, dimulai dari sebuah langkah kecil.

  • Singha Barwang

    Singha Barwang / Macan Ali adalah simbol kerajaan di Cirebon. Merupakan kaligrafi berbentuk seekor singa.

  • Makrifatullah

    MAKRIFAT IALAH :Mengenal Allah SWT.pada Zat-nya,pada Sifat-nya,pada Asma'nya dan pada Af'al-nya.

  • Rajah Kalacakra

    Ilmu Rajah KalaCakra merupakan ilmu untuk menyerang makhluk halus yang mengganggu kita.

  • Abdul Jabbar

    لا فتى إلا علي ولا سيف إلا ذوالفقار

Showing posts with label Sastrajendra. Show all posts
Showing posts with label Sastrajendra. Show all posts

Thursday, August 4, 2011

Meluruskan Makna Mistik

Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern, westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti akekatnya, dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu (kesadaran “kulit”). Manakala mendengar istilah mistik, akan timbul konotasi negatif. Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan, terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit. Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat. Selama puluhan tahun, kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism, westernisme dan agamisme. Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit, irasional, dan primitive. Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum agamisme sebagai paham sesat dan sumber kemusrikan. Pandangan itu salah besar, jika tidak mau disebut sebagai fitnah keji !

Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah. Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri, kepentingan rezim, dan kepentingan egoisme (keakuan). Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan, diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan, ela-elu, dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah mistis yang sesungguhnya. Untuk itu, perlulah kiranya saya ingin berbagi kepada para pembaca yang budiman, mengenai makna yang sejatinya akan istilah mistis. Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana, selalu hati-hati terutama dalam menilai seseorang atau suatu kelompok, golongan dan cara pandang masyarakat tertentu. Jika perilaku hidup dan pola piker kita tidak eling dan waspada, kita akan melebur ke dalam roda “wolak-waliking jaman” di mana orang salah akan berlagak selalu benar. Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh. Emas dianggap Loyang (besi). Besi dikira emas. Burung bangau dianggap dandang (alat menanak nasi). Yang asli dianggap palsu, yang palsu dibilang asli. Semua serba salah kaprah, kacau-balau, chaos, dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.

Eksistensi Mistik
Mistik dapat dipahami sebagai eksistensi tertinggi kesadaran manusia, di mana ragam perbedaan (“kulit”) akan lenyap, eksistensi melebur ke dalam kesatuan mutlak hal ikhwal, nilai universalitas, alam kesejatian hidup, atau ketiadaan. Kesadaran tertinggi ini terletak di dalam batin atau rohaniah, mempengaruhi perilaku batiniah (bawa) seseorang, dan selanjutnya mewarnai pola pikir nya. Atau sebaliknya, pola pikir telah dijiwai oleh nilai mistisisme yakni eksistensi kesadaran batin.

Meskipun demikian, eksistensi mistik yang sesungguhnya tidaklah berhendi pada perilaku batin (bawa) saja, lebih utama adalah perilaku jasad (solah). Artinya, mistik bukanlah sekedar teori namun lebih kearah manifestasi atau mempraktikkan perilaku batin ke dalam aktivitas hidup sehari-harinya dalam berhubungan dengan sesama manusa dan makhluk lainnya. Apakah anda ingin menjadi seorang agamis, yang hanya terpaku pada simbol-simbol agama berupa penampilan fisik, jenis pakaian, cara bicara, bahasa, gerak-gerik, bau minyak wanginya. Agamis hanya kenyang teori-teori agama atau dalil-dalilnya saja. Ataukah sebaliknya anda ingin menjadi seorang praktisi (penghayat) akan teori-teori tersebut sehingga tidak omong doang. Hal itu menjadi hak setiap orang untuk memilih, masing-masing akan membawa dampak yang berbeda-beda.

Dalam menjabarkan istilah mistik, saya sangat sepakat dengan guru besar Filsafat UGM Prof. Dr. Damarjati Supadjar, bahwa cirri-ciri mistikisme adalah sbb ;
1. Mistisisme adalah persoalan praktek.
2. Secara keseluruhan, mistisisme adalah aktifitas spiritual.
3. Jalan dan metode mistisisme adalah cinta kasih sayang.
4. Mistisisme menghasilkan pengalaman psikologis yang nyata.
5. Mistisisme sejati tidak mementingkan diri sendiri.

Jika kita cermati dari kelima ciri mistikisme di atas dapat ditarik benang merah bahwa mistik berbeda dengan sikap klenik, gugon tuhon, bodoh, puritan, irasional. Sebaliknya mistik merupakan tindakan atau perbuatan yang adiluhung, penuh keindahan, atas dasar dorongan dari budi pekerti luhur atau akhlak mulia. Mistik sarat akan pengalaman-pengalaman spiritual. Yakni bentuk pengalaman-pengalaman halus, terjadi sinkronisasi antara logika rasio dengan “logika” batin. Pelaku mistik dapat memahami noumena atau eksistensi di luar diri (gaib) sebagai kenyataan yang logis atau masuk akal. Sebab akal telah mendapat informasi secara runtut, juga memahami rumus-rumus yang terjadi di alam gaib. Sebagai contoh ;

Kenapa simpanan uang di Bank tidak ada yang hilang di curi makhluk pesugihan ? Atau perhiasan emas di toko emas tidak bias hilang digondol sejenis jin atau pun siluman pesugihan ?
Secara logis-rasional, makhluk pesugihan yang sering mencuri uang atau perhiasan di rumah-rumah penduduk seharusnya bias mencuri uang dan perhiasan di kedua tempat tersebut. Namun kenyataannya kedua jenis harta kekayaan tersebut tidak bias dicuri oleh makluk gaib sejenis pesugihan manapun. Hal ini dikarenakan terdapat rumus di alam gaib yang berbeda dari dimensi bumi. Pada kesempatan selanjutnya saya akan bahas mengenai sebagian rumus-rumus di alam gaib (hukum di alam gaib) yang sejauh ini bisa saya ketahui, pernah saksikan dan buktikan dengan mata kepala sendiri.

Agama sebagai sarana menggapai tataran spiritual. Sementara spiritual adalah kesadaran tinggi akan nilai-nilai transenden atau ketuhanan. Mistisisme adalah wujud kesadaran itu dalam laku perbuatan konkrit. Dengan adanya kesadaran yang cukup memadai akan bagaimana sesungguhnya yang terjadi di alam gaib hal itu membuka pola pikir kita sehingga mampu memahami noumena kegaiban secara logis. Hal ini menjadikan para pelaku spiritual memiliki kemantapan tidak hanya sekedar yakin, tetapi dapat dikatakan bisa menyaksikan sendiri bagaimana “rumus-rumus halus” akan bekerja. Antara pengetahuan spiritual dengan tindakan nyata seiring dan seirama. Bagaikan lirik dengan syairnya. Aransemen dengan nada-nada musicnya. Sastra dengan gendhingnya. Sinergis dan harmonis, antara pengetahuan spiritual dengan perbuatannya. Menjadikan para pelaku spiritual sejati justru terkesan lebih santun dan memiliki sense on humanity yang tinggi, memiliki kepekaan social, solidaritas dan toleransi, kepedulian lingkungan social dan alam yang sangat mendalam. Perilaku-perilaku yang menunjukkan sikap arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan ini ketimbang orang-orang bergaya “agamisme” (kesadaran symbolic) yang terkadang perilakunya lepas kendali, sewenang-wenang dan beringas, emosional dan reaksional. Karena merasa diri menjadi sangat kuat telah menjadi orang yang memegang hak istimewa (privilege) di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Penjelasan singkat mengenai arti harfiah dan maknawiah tentang mistik, dapat diambil benang merah bahwa mistik Kejawen adalah laku spiritual berdasarkan pandangan hidup atau falsafah hidup Jawa. Atau disebut jawaisme (javanism). Yang paling utama dalam laku spiritual Jawa, adalah perilaku didasari oleh cinta kasih dan pengalaman nyata. Maka, bagi siapapun yang mengaku menghayati falsafah hidup Jawa namun perangainya masih mudah terbawa api emosi, angkara murka, reaksioner, sektarian, dan primordialisme, kiranya belum memahami secara baik apa itu nilai-nilai dalam falsafah hidup Kejawen. Mistik kejawen merupakan bagian dari ribuan mistik yang ada di bumi ini. Setiap masyarakat, bangsa dan budaya biasanya memiliki nilai-nilai tradisi mistik yang dipegang teguh sebagai pedoman hidup. Sekedar contoh, misalnya mistik Islam, dikenal dengan tradisi tasawuf, orang-orang yang mendalami disebut orang-orang zuhud, dan para sufistik. Mistik Budha atau Budhisme, mistik Hindu atau Hinduisme, dan masih terdapat ratusan bahkan ribuan lagi banyaknya mistik-mistik di dunia ini.

Mistik lebih fleksibel jika dibandingkan dengan agama, sebab mistik tidak mempersoalkan apa latar belakang ajaran, agama, budaya orang yang ingin menghayati. Hal itu tidak menimbulkan resiko terjadinya benturan nilai-nilai, karena dalam tradisi mistik yang sesungguhnya, keberagaman “kulit” akan dikupas, lalu mengambil sisi maknawiahnya yang bersifat hakekat atau esensial. Orang Jawa, Hindu, Kristen dan Budha, bias saja mempelajari ilmu tasawuf. Demikian pula sebaliknya, umat Islam bias pula mempelajari falsafah hidup Jawa. Hanya saja, kecenderungan kekuasaan rezim agama akan membuat batasan-batasan tegas kepada para penghayat mistik dengan mistik itu sendiri. Bahkan sering terjadi prejudis, pencitraan secara subyektif, dan punishment yang berdasarkan kepentingan rezim. Jangankan terhdap lintas budaya dan agama, kita ambil contoh sederhana saja misalnya, sebagian umat Islam melarang sesame umat Islam lainnya masuk ke dalam wilayah mistik Islam. Pelarangan dilakukan dengan dalih agama pula, sehingga pelarangan seringkali bekerja secara efektif membelenggu dinamika kesadaran umat. Yang terjadi adalah umat yang terkesan “agamis” tetapi sangat miskin pencapaian spiritualnya.

Hal Yang Berbeda Dalam Mistik Kejawen

1. Kejawen tentu saja tidak memiliki kitab suci sebagaimana layaknya semua agama-agama yang ada. Karena Kejawen bukanlah agama melainkan pandangan hidup yang sudah turun temurun ribuan tahun, melalui proses asimilasi dan sinkretisme dengan nilai-nilai agama yang pernah ada di bumi nusantara. “Kitab Suci” Kejawen adalah hidup itu sendiri. Hidup yang meliputi jagad gumelar. Terdiri dari kehidupan sehari-hari, kesejati di dalam diri, dan apa yang ada di dalam lingkungan alam sekitarnya. Semua itu disebut sebagai “kitab satra jendra”. Cara membacanya bukan dengan ucapan lisan, melainkan dengan perangkat ngelmu titen yang berlangsung turun-temurun. Membaca “kitab sastra jendra” dengan menggunakan gelmu titen, indera yang digunakan adalah indera keenam (six-sense) atau indera batin. Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam mengolah rahsa-pangrasa yakni rasajati atau rahsa sejati.
2. Di samping nilai-nilai kearifan local yang adiluhung, Kejawen menjadikan nilai-nilai “impor” yang dinilai berkualitas sebagai bahan baku yang dapat diramu dengan nilai kearifan local. Keuntungannya justru terjadi proses penyempurnaan seperangkat nilai dalam pandangan hidup Jawa atau Kejawen. Jika definisikan, mistik kejawen merupakan hasil dari interaksi nilai-nilai kearifan local yang terjadi sejak zaman kuno pada masa kebudayaan spiritual animisme, dinamisme, dan monotesime hingga saat ini. Sikap terbuka, menghargai dan toleransi, serta dasar spiritual cinta kasih sayang membuat Kejawen mudah menerima anasir asing yang positif. Berbeda dengan nilai agama yang bersifat statis, kaku atau saklek dan anti-perubahan, nilai-nilai dalam falsafah hidup Jawa bersifat fleksibel dan selalu berusaha mengolah nilai-nilai kebudayaan asing yang masuk ke nusantara misalnya Budha, Hindu, Islam, Kristen, dan sebagainya. Yang terjadi bukanlah kebangkrutan nilai-nilai falsafah Jawa itu sendiri, sebaliknya justru mengalami penyempurnaan seiring perjalanan waktu. Hingga terdapat anekdor, kalau nilai agama masuk sampai mendarah- daging, pandangan hidup Jawa bahkan mbalung-sungsum sehingga tidak pernah lapuk dan selalu eksis. Tidak hanya pada usia tua, bahkan masyarakat usia muda banyak pula yang diam-diam menghayati dan mengakui fleksibilitas dan kedalaman falsafah Kejawen. Seperti kekuatan misterius, terkadang semangat penghayatan dirasakan tiba-tiba muncul dengan sendirinya seperti panggilan darah.
3. Ritual, yang dilakukan oleh penghayat falsafah hidup Jawa. Walaupun latar belakang keagamaan masyarakat Jawa berbeda-beda, namun memiliki unsur kesamaan dalam tata laksana ritual Jawaisme. Bedanya hanyalah pada bahasa yang digunakan dalam doa atau mantra. Namun hakekat dari ritual adalah sama saja yakni bertujuan untuk selamatan. Selamatan adalah tata laku untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan yang Mahasuci. Maka dalam ritual banyak terdapat ubo rampe, atau syarat-syarat sesaji, di dalamnya banyak sekali mengandung maksud permohonan doa kepada Tuhan YME. Misalnya pada saat bulan Ruwah merupakan bulan arwah dilaksanakan acara selamatan nyadran. Bulan ruwah tepatnya satu bulan menjelang bulan puasa, hendaknya orang memuliakan para arwah leluhurnya, mendoakannya agar mendapat tempat yang mulia, luhur, dan suci. Dibuatlah ketan, kolak dan kue apem, berarti sedaya kalepatan nyuwun pangapunten. Mohon ampunan atas segala kesalahan semasa hidup. Apem berarti affuwwun, adalah lambang permohonan ampunan kepada Tuhan. Dilanjutkan acara nyekar atau ziarah dan gotong royong bersih-bersih serta merawat makam para leluhurnya sebagai wujud tindakan nyata rasa berbakti dan memuliakan pepundennya yakni para leluhurnya. Karena bagi masyarakat mistik Jawa, berbakti kepada orang tua, dilakukan tidak saja selama masih hidup, namun saat sudah meninggal dunia pun anak turun tetap harus berbakti padanya. Tidak ketinggalan pula acara bersih desa, sungai, hutan, sawah, ladang, sebagai bentuk kesadaran diri untuk selalu menghargai alam semesta sebagai anugrah terindah Tuhan yang Mahapemurah.
4. Istilah ritual seringkali diartikan secara kurang proporsional, dianggap hanya sekedar menjadi basa-basi tradisi yang irasional. Kadang malah dianggap pula sebagai kegiatan buang-buang waktu, beaya dan tenaga alias mubazir. Secara ekstrim ritual dikonotasikan sebagai kegiatan yang melenceng dari kaidah atau norma agama. Tuduhan itu sangat menyakitkan, karena tentunya hanya terucap oleh orang-orang yang tidak mampu memahami apa makna yang sesungguhnya dari mistik dan ritual. Padahal, ritual adalah tata laku yang melekat tidak bisa dipisahkan dari setiap agama, ajaran, tradisi dan budaya manapun di dunia ini. Dalam Budhisme dan Hinduisme, Islam, Yahudi, Nasrani, Kong Huchu, Sakura, dll banyak sekali terdapat berbagai ritual keagamaan. Mulai dari peringatan hari besar keagamaan hingga berbentuk tradisi agama. Bahkan masyarakat modern, tradisi Barat, masyarakat akademik, masyakarat medik, semua memiliki ritual-rutual khusus yang dutujukan untuk meraih kesuksesan termasuk keselamatan. Dalam masyarakat Jawa ritual selamatan atau slametan menjadi main stream penghayatan perilaku mistik Kejawen. Di dalamnya terdapat simbol-simbol atau perlambang berupa sesaji, mantera, ubo rampe, syarat-syarat tertentu. Semua ubo rampe sesaji mengandung makna yang dalam. Adalah keliru besar mengartikan makna sesaji sebagai pakan setan. Bagi masyarakat Jawa sangat mengenal bahwa “setan” atau makhluk halus bukan untuk diberi makan, tetapi harus diperlakukan secara adil dan bijaksana karena disadari bahwa mereka semua adalah makhluk ciptaan Tuhan juga. Manusia lantas tidak boleh bersikap negatif dan destruktif dengan mentang-mentang, semena-mena, takabur, arogan atau sombong kepada makhluk halus. Karena sikap negatif itu hanya akan membuat manusia jatuh pada derajat yang hina. Itulah keluhuran pandangan hidup manusia yang sering dituduh sebagai masyarakat engan kesadaran primitif dan tidak masuk akal.
5. Sesaji merupakan bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi baik secara vertikal maupun horisontal. Karena dasar dari mistik adalah tindakan nyata, sebagai konsekuensinya harus menghindari tabiat buruk tong kososng berbunyi nyaring, atau banyak mulut doang, tetapi enggan menghayati dalam perbuatan sehari-hari. Maka dalam berdoa pun tidak cukup diucapkan melalui mulut. Rasanya kurang afdhol atau kurang besar tekadnya dalam berdoa apabila tidak diwujudkan dalam berbagai simbol yang terdapat dalam sesaji. Misalnya; doa yang beragam hendaknya dilakukan secara tulus, suci, hati yang “putih bersih” tidak terpolusi nafsu duniawi, dan ditujukan hanya kepada Hyang Widhi atau Tuhan Yang Mahatunggal. Maka hal itu diwujudkan dalam bentuk tumpeng nasi putih berbentuk kerucut, besar di bawah, runcing di bagian atas. Bubur merah dan bubur putih dalam bancakan weton sebagai lambang ibu dan bapa. Hendaknya anak selalu ingat pada pengorbanan orang tua sejak ia di dalam kandungan ibu, lalu dilahirkan dan diasuh hingga dewasa dan mandiri. Bubur merah silang bubur putih, merupakan gambaran hubungan ibu dengan bapa diikat dengan tali cinta kasih yang tulus, sampai membuahkan anak sebagai anugrah buah cinta, dilambangkan dalam bubur baro-baro, yakni bubur putih ditumpangi parutan kelapa dan gula merah. Masih banyak lagi contoh yang dapat kita pelajari satu persatu maknanya secara esensial.

Ilmu “Kesaktian” Sejati
Kesimpulan dari semua itu, Kejawen merupakan ilmu metafisika yang transenden dan bersifat terapan. Perilaku mistik merupakan upaya yang ditempuh manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Mendekatkan diri, atau upaya manunggal jati diri dengan kehendak Tuhan (sumarah). Sikap sumarah merupakan wujud dari sikap manembah kepada Tuhan YME. Sikap manembah inilah yang menjadi pedoman utama dalam menghayati mistik Kejawen. Muara dari perjalanan spiritual pelaku mistik Kejawen, tidak lain untuk menemukan “lautan” rahmat Tuhan, berupa manunggaling kawula kalawan Gusti, atau sifat roroning atunggil (dwi tunggal). Eneng ening untuk masuk ke alam sunya ruri. Meraih nibbana menggapai nirvana, jalan wushul menuju wahdatul wujud. Dengan pencapaian pamoring kawula-Gusti, akan menciptakan ketenangan batin sekalipun menghadapai situasi dan kondisi yang sangat gawat. Karena antara manusia sebagai mahluk dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta terjadi titik temu yang harmonis. Batin manusia selalu tersambung dengan getaran energi Tuhan, menjadi dasar atas segala tindakan yang dilakukannya. Atau disitilahkan sebagai sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Sesotya adalah ungkapan yang mengandikan Tuhan bagaikan permata yang tiada taranya. “Permata” yang menyatu ke dalam embanan. Embanan sebagai ungkapan dari jasad manusia. Tuhan yang bersemayam di dalam batin (immanen), melimputi seluruh yang ada “being” di dunia ini. Jika manusia berhasil manembah, otomatis ia akan menjadi manusia yang sekti mandraguna. Kesaktian sejati, bukan berasal dari usaha yang instan hanya dengan rapal wirid semalam suntuk, atau membeli dengan mahar. Namun kesaktian itu diperoleh seseorang apabila berhasil menghayati sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Seseorang selalu manembah dalam setiap perbuatannya. Cirikhas orang yang kesaktiannya berkat manembah (kesaktian sejati/ilmu putih) apabila perilaku dan perbuatan sehari-harinya selalu sinergis dengan sifating Gusti; Welas tanpa alis (kebaikan tanpa pamrih jasad/nafsu/duniawi), tidak menyakiti hati, tidak mencelakai, dan merugikan orang lain. Dilakukan dalam kurun waktu lama, tidak angin-anginan atau plin-plan, dilakukan secara konsisten, teguh, dan penuh ketulusan serta kasih sayang tanpa pilih kasih. Monggo dilanjut.


Source : Sabda Langit

Kejawen bukan Agama tapi Esensi dan Substansi Perilaku Hidup

1. Kejawen tentu saja tidak memiliki kitab suci sebagaimana layaknya semua agama-agama yang ada. Karena Kejawen bukanlah agama melainkan pandangan hidup yang sudah turun temurun ribuan tahun, melalui proses asimilasi dan sinkretisme dengan nilai-nilai agama yang pernah ada di bumi nusantara. “Kitab Suci” Kejawen adalah hidup itu sendiri. Hidup yang meliputi jagad gumelar. Terdiri dari kehidupan sehari-hari, kesejati di dalam diri, dan apa yang ada di dalam lingkungan alam sekitarnya. Semua itu disebut sebagai “kitab satra jendra”. Cara membacanya bukan dengan ucapan lisan, melainkan dengan perangkat ngelmu titen yang berlangsung turun-temurun. Membaca “kitab sastra jendra” dengan menggunakan ngelmu titen, indera yang digunakan adalah indera keenam (six-sense) atau indera batin. Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam mengolah rahsa-pangrasa yakni rasajati atau rahsa sejati.

2. Di samping nilai-nilai kearifan local yang adiluhung, Kejawen menjadikan nilai-nilai “impor” yang dinilai berkualitas sebagai bahan baku yang dapat diramu dengan nilai kearifan local. Keuntungannya justru terjadi proses penyempurnaan seperangkat nilai dalam pandangan hidup Jawa atau Kejawen. Jika definisikan, mistik kejawen merupakan hasil dari interaksi nilai-nilai kearifan local yang terjadi sejak zaman kuno pada masa kebudayaan spiritual animisme, dinamisme, dan monotesime hingga saat ini. Sikap terbuka, menghargai dan toleransi, serta dasar spiritual cinta kasih sayang membuat Kejawen mudah menerima anasir asing yang positif. Berbeda dengan nilai agama yang bersifat statis, kaku atau saklek dan anti-perubahan, nilai-nilai dalam falsafah hidup Jawa bersifat fleksibel dan selalu berusaha mengolah nilai-nilai kebudayaan asing yang masuk ke nusantara misalnya Budha, Hindu, Islam, Kristen, dan sebagainya. Yang terjadi bukanlah kebangkrutan nilai-nilai falsafah Jawa itu sendiri, sebaliknya justru mengalami penyempurnaan seiring perjalanan waktu. Hingga terdapat anekdor, kalau nilai agama masuk sampai mendarah- daging, pandangan hidup Jawa bahkan mbalung-sungsum sehingga tidak pernah lapuk dan selalu eksis. Tidak hanya pada usia tua, bahkan masyarakat usia muda banyak pula yang diam-diam menghayati dan mengakui fleksibilitas dan kedalaman falsafah Kejawen. Seperti kekuatan misterius, terkadang semangat penghayatan dirasakan tiba-tiba muncul dengan sendirinya seperti panggilan darah.

3. Ritual, yang dilakukan oleh penghayat falsafah hidup Jawa. Walaupun latar belakang keagamaan masyarakat Jawa berbeda-beda, namun memiliki unsur kesamaan dalam tata laksana ritual Jawaisme. Bedanya hanyalah pada bahasa yang digunakan dalam doa atau mantra. Namun hakekat dari ritual adalah sama saja yakni bertujuan untuk selamatan. Selamatan adalah tata laku untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Suci. Maka dalam ritual banyak terdapat ubo rampe, atau syarat-syarat sesaji, di dalamnya banyak sekali mengandung maksud permohonan doa kepada Tuhan YME. Misalnya pada saat bulan Ruwah merupakan bulan arwah dilaksanakan acara selamatan nyadran. Bulan ruwah tepatnya satu bulan menjelang bulan puasa, hendaknya orang memuliakan para arwah leluhurnya, mendoakannya agar mendapat tempat yang mulia, luhur, dan suci. Dibuatlah ketan, kolak dan kue apem, berarti sedaya kalepatan nyuwun pangapunten. Mohon ampunan atas segala kesalahan semasa hidup. Apem berarti affuwwun, adalah lambang permohonan ampunan kepada Tuhan. Dilanjutkan acara nyekar atau ziarah dan gotong royong bersih-bersih serta merawat makam para leluhurnya sebagai wujud tindakan nyata rasa berbakti dan memuliakan pepundennya yakni para leluhurnya. Karena bagi masyarakat mistik Jawa, berbakti kepada orang tua, dilakukan tidak saja selama masih hidup, namun saat sudah meninggal dunia pun anak turun tetap harus berbakti padanya. Tidak ketinggalan pula acara bersih desa, sungai, hutan, sawah, ladang, sebagai bentuk kesadaran diri untuk selalu menghargai alam semesta sebagai anugrah terindah Tuhan yang Maha Pemurah.

4. Istilah ritual seringkali diartikan secara kurang proporsional, dianggap hanya sekedar menjadi basa-basi tradisi yang irasional. Kadang malah dianggap pula sebagai kegiatan buang-buang waktu, beaya dan tenaga alias mubazir. Secara ekstrim ritual dikonotasikan sebagai kegiatan yang melenceng dari kaidah atau norma agama. Tuduhan itu sangat menyakitkan, karena tentunya hanya terucap oleh orang-orang yang tidak mampu memahami apa makna yang sesungguhnya dari mistik dan ritual. Padahal, ritual adalah tata laku yang melekat tidak bisa dipisahkan dari setiap agama, ajaran, tradisi dan budaya manapun di dunia ini. Dalam Budhisme dan Hinduisme, Islam, Yahudi, Nasrani, Kong Huchu, Sakura, dan lain-lain, banyak sekali terdapat berbagai ritual keagamaan. Mulai dari peringatan hari besar keagamaan hingga berbentuk tradisi agama. Bahkan masyarakat modern, tradisi Barat, masyarakat akademik, masyakarat medik, semua memiliki ritual-rutual khusus yang dutujukan untuk meraih kesuksesan termasuk keselamatan. Dalam masyarakat Jawa ritual selamatan atau slametan menjadi main stream penghayatan perilaku mistik Kejawen. Di dalamnya terdapat simbol-simbol atau perlambang berupa sesaji, mantera, ubo rampe, syarat-syarat tertentu. Semua ubo rampe sesaji mengandung makna yang dalam. Adalah keliru besar mengartikan makna sesaji sebagai pakan setan. Bagi masyarakat Jawa sangat mengenal bahwa “setan” atau makhluk halus bukan untuk diberi makan, tetapi harus diperlakukan secara adil dan bijaksana karena disadari bahwa mereka semua adalah makhluk ciptaan Tuhan juga. Manusia lantas tidak boleh bersikap negatif dan destruktif dengan mentang-mentang, semena-mena, takabur, arogan atau sombong kepada makhluk halus. Karena sikap negatif itu hanya akan membuat manusia jatuh pada derajat yang hina. Itulah keluhuran pandangan hidup manusia yang sering dituduh sebagai masyarakat engan kesadaran primitif dan tidak masuk akal.

5. Sesaji merupakan bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi baik secara vertikal maupun horisontal. Karena dasar dari mistik adalah tindakan nyata, sebagai konsekuensinya harus menghindari tabiat buruk tong kososng berbunyi nyaring, atau banyak mulut doang, tetapi enggan menghayati dalam perbuatan sehari-hari. Maka dalam berdoa pun tidak cukup diucapkan melalui mulut. Rasanya kurang afdhol atau kurang besar tekadnya dalam berdoa apabila tidak diwujudkan dalam berbagai simbol yang terdapat dalam sesaji. Misalnya; doa yang beragam hendaknya dilakukan secara tulus, suci, hati yang “putih bersih” tidak terpolusi nafsu duniawi, dan ditujukan hanya kepada Hyang Widhi atau Tuhan Yang Mahatunggal. Maka hal itu diwujudkan dalam bentuk tumpeng nasi putih berbentuk kerucut, besar di bawah, runcing di bagian atas. Bubur merah dan bubur putih dalam bancakan weton sebagai lambang ibu dan bapa. Hendaknya anak selalu ingat pada pengorbanan orang tua sejak ia di dalam kandungan ibu, lalu dilahirkan dan diasuh hingga dewasa dan mandiri. Bubur merah silang bubur putih, merupakan gambaran hubungan ibu dengan bapa diikat dengan tali cinta kasih yang tulus, sampai membuahkan anak sebagai anugrah buah cinta, dilambangkan dalam bubur baro-baro, yakni bubur putih ditumpangi parutan kelapa dan gula merah. Masih banyak lagi contoh yang dapat kita pelajari satu persatu maknanya secara esensial.

Ilmu “Kesaktian” Sejati
Kesimpulan dari semua itu, Kejawen merupakan ilmu metafisika yang transenden dan bersifat terapan. Perilaku mistik merupakan upaya yang ditempuh manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Mendekatkan diri, atau upaya manunggal jati diri dengan kehendak Tuhan (sumarah). Sikap sumarah merupakan wujud dari sikap manembah kepada Tuhan YME. Sikap manembah inilah yang menjadi pedoman utama dalam menghayati mistik Kejawen. Muara dari perjalanan spiritual pelaku mistik Kejawen, tidak lain untuk menemukan “lautan” rahmat Tuhan, berupa manunggaling kawula kalawan Gusti, atau sifat roroning atunggil (dwi tunggal). Eneng ening untuk masuk ke alam sunya ruri. Meraih nibbana menggapai nirvana, jalan wushul menuju wahdatul wujud. Dengan pencapaian pamoring kawula-Gusti, akan menciptakan ketenangan batin sekalipun menghadapai situasi dan kondisi yang sangat gawat. Karena antara manusia sebagai mahluk dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta terjadi titik temu yang harmonis. Batin manusia selalu tersambung dengan getaran energi Tuhan, menjadi dasar atas segala tindakan yang dilakukannya. Atau disitilahkan sebagai sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Sesotya adalah ungkapan yang mengandikan Tuhan bagaikan permata yang tiada taranya. “Permata” yang menyatu ke dalam embanan. Embanan sebagai ungkapan dari jasad manusia. Tuhan yang bersemayam di dalam batin (immanen), melimputi seluruh yang ada “being” di dunia ini. Jika manusia berhasil manembah, otomatis ia akan menjadi manusia yang sekti mandraguna. Kesaktian sejati, bukan berasal dari usaha yang instan hanya dengan rapal wirid semalam suntuk, atau membeli dengan mahar. Namun kesaktian itu diperoleh seseorang apabila berhasil menghayati sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Seseorang selalu manembah dalam setiap perbuatannya. Cirikhas orang yang kesaktiannya berkat manembah (kesaktian sejati/ilmu putih) apabila perilaku dan perbuatan sehari-harinya selalu sinergis dengan sifating Gusti; Welas tanpa alis (kebaikan tanpa pamrih jasad/nafsu/duniawi), tidak menyakiti hati, tidak mencelakai, dan merugikan orang lain. Dilakukan dalam kurun waktu lama, tidak angin-anginan atau plin-plan, dilakukan secara konsisten, teguh, dan penuh ketulusan serta kasih sayang tanpa pilih kasih.

Thursday, December 23, 2010

SJ. Wayangan. Bimo Suci



Pada GUSTI ALLAH disebut dengan Suluk. Sementara manusia yang mencari jalan untuk mendekat pada GUSTI ALLAH disebut dengan Salik.

Kerinduan akan dekatnya diri dengan GUSTI ALLAH ini menjadikan seseorang mulai mencari asal mula dirinya dan bakal ia bawa kemana hidupnya ini.

Hal itulah yang juga pernah terjadi pada Kanjeng Sunan Kalijaga. Beliau mencari sesuatu yang hakiki dari hidup ini. Dan hal itu telah ditemukannya. Namun beliau tidak semata-mata ingin membuka pengalaman spiritual beliau tersebut secara gamblang. Sunan Kalijaga cenderung lebih memilih untuk menyamarkan pengalaman spiritualnya lewat kisah pewayangan dengan lakon Dewaruci atau kadangkala orang menyebutnya lakon wayang Bima suci.

LAKON Bima suci, mengisahkan tentang petualangan Bima dalam mencari tirta pawitra atau 'Sangkan Paraning Dumadi'. Proses pencarian jati diri yang akhirnya menemukan 'Sangkan Paraning Dumadi' tersebut di kalangan umat Islam sesuai dengan Hadist Kanjeng Nabi Muhammad yang berbunyi "Man arafa nafsahu faqad rabbahu" yang artinya, 'Barang siapa mengenal dirinya niscaya dia mengenal Tuhannya'.

Bagian cerita Dewaruci menceritakan bahwa Bima berserah diri pada gurunya. Sehabis berperang melawan Raksasa Rukmuka dan Rukmakala di Gunung Candramuka Hutan Tikbrasara, Bima kembali pada Pendeta Durna. Air suci yang diperintahkan Pendeta Durna untuk mencarinya tidak didapat. Ia menanyakan di mana tempat tirta pawitra yang sesungguhnya. Pendeta Durna menjawab, "Tempatnya berada di tengah samudra". Mendengar jawaban itu Bima tidak putus asa dan tidak gentar. Ia menjawab, "Jangankan di tengah samudra, di atas surga atau di dasar bumi sampai lapis tujuh pun ia tidak akan takut menjalankan perintah Sang Pendeta".

Ia segera berangkat ke tengah samudra. Semua kerabat Pandawa menangis mencegah tetapi tidak dihiraukan. Keadaan Bima yeng berserah diri jiwa raga secara penuh kepada gurunya. Berangkatlah Bima ke tepi lautan. Tanpa ragu-ragu iapun melangkah ke tengah laut karena meyakini apa yang dicarinya ada di tengah samudra.

Ketika berada di tengah samudra itulah, Bima bertemu dengan Dewaruci yang bertubuh kecil. Sang Dewaruci menegur Bima,"Hai Bima, apa yang kau cari di tengah samudra ini?" Bima pun menjawab dengan sigap bahwa dirinya mencari tirta pawitra seperti diperintahkan gurunya, Begawan Durna. Dewaruci memperingatkan Bima bahwa apa yang dicarinya tidak ada di tengah samudra. Tetapi Bima tetap ngotot ingin mencari.

Singkat cerita, lantaran tekad Bima yang sangat besar itu, Dewaruci memerintahkan pada Bima untuk masuk ke dalam badan Dewaruci yang kecil. Seketika Bima pun tertawa terbahak-bahak. "Bagaimana aku yang bertubuh besar bisa masuk ke dalam badanmu yang kecil? Itu jelas tidak mungkin," kata Bima. Tetapi Dewaruci pun menjawab,"Hai Bima, besar mana tubuhmu dengan alam semesta ini?" Bima menjawab," Jelas lebih besar alam semesta ini." "Lha alam semesta yang katamu besar ini saja bisa masuk ke dalam tubuhku, mengapa kamu tidak bisa masuk? Kamu pasti bisa masuk," tegas Dewaruci sembari memerintahkan Bima untuk masuk ke dalam badan Dewaruci melalui 'telinga kiri' sang Dewaruci.

Setelah masuk badan Dewaruci, Bima merasakan bahwa dirinya tidak melihat apa-apa. Yang ia lihat hanyalah kekosongan pandangan yang tak terhingga. Ke mana pun ia berjalan yang ia lihat hanya angkasa kosong, dan samudra yang luas yang tidak bertepi. Bima tidak tahu lagi mana arah barat dan timur, selatan dan utara. Semuanya serba membingungkan. Tiba-tiba ia melihat cahaya. Cahaya yang dilihat Bima beraneka macam warna. Beraneka macam warna cahaya itu dikalangan orang-orang yang lelaku disebut Pancamaya.

Bima melihat empat warna cahaya, yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih. Warna-warna itu melambangkan aneka nafsu yang merupakan penghalang cipta, rasa dan karsa untuk bertemu dengan GUSTI ALLAH. Nafsu yang muncul dari warna hitam disebut aluamah, yang dari warna merah disebut amarah, dan yang muncul dari warna kuning disebut sufiah. Nafsu aluamah amarah, dan sufiah merupakan selubung atau penghalang untuk bertemu dengan GUSTI ALLAH.

Hanya yang putih yang nyata. Hati tenang tidak macam-macam, hanya satu yaitu menuju keutamaan dan keselamatan. Namun, yang putih ini hanya sendiri, tiada berteman sehingga selalu kalah. Jika bisa menguasai yang tiga hal, yaitu yang merah, hitam, dan kuning, manunggalnya hamba dengan Tuhan terjadi dengan sendirinya; sempurna hidupnya.

Setelah itu warna-warna yang dilihat Bima itupun hilang dan berganti dengan 8 warna. Siji wolu kang warni 'sinar tunggal berwarna delapan'. Disebutkan bahwa sinar tunggal berwarna delapan adalah "Sesungguhnya Warna", itulah Yang Tunggal. Seluruh warna juga berada pada Bima. Demikian pula seluruh isi bumi tergambar pada badan Bima. Dunia kecil, mikrokosmos, dan dunia besar, makrokosmos, isinya tidak ada bedanya. Jika warna-warna yang ada di dunia itu hilang, maka seluruh warna akan menjadi tidak ada, kosong, terkumpul kembali kepada warna yang sejati, Yang Tunggal.

Setelah itu, Bima melihat benda bagaikan boneka gading yang bersinar. Itu adalah Pramana, secara filosofis melambangkan Roh. Pramana 'Roh' kedudukannya dibatasi oleh jasad. Seusai semuanya, Bima tidak lagi merasakan apa-apa. Ia merasakan dirinya sudah tidak ada dan lenyap bersama dengan KeberadaanNYA. Bima tak merasakan khawatir, tidak ingin makan dan tidur, tidak merasakan lapar dan mengantuk, tidak merasakan kesulitan, hanya nikmat semata. Hal ini menyebabkan Bima betah berlama-lama di tempat dan kondisi tersebut .

Pencarian Bima Suci itupun akhirnya berakhir dengan kebahagiaan. Bukankah kebahagiaan dan ketentraman dalam hidup dan hidup serasa diayomi dan dilindungi itu yang kita cari? Untuk itu, tidak ada salahnya jika kini Anda mulai menjadi seorang salik yang mencari suluk sejati seperti halnya laku Sunan Kalijaga yang disamarkan lewat kisah Bima Suci atau Dewaruci.

Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu




Mempelajari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” berarti harus pula mengenal asal usul manusia dan dunia seisinya, dan haruslah dapat menguraikan tentangsejatining urip (hidup), sejatining Panembah (pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa),sampurnaning pati (kesempurnaan dalam kematian), dalam terminologi Islam disebut jugainnalillahi wainna illaihi rojiuun, untuk menggapai alam kesucian (Budha: nirvana) kembali ke “hadapan” Tuhan YME dengan tata cara hidup layak untuk mencapai budi suci dan menguasai panca indera serta hawa nafsu untuk mendapatkan tuntunan Sang Guru Sejati.

Uraian tersebut dapat menjelaskan bahwa sasaran utama mengetahui “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah untuk mencapai Kasampurnaning Pati, dalam istilah RNg Ronggowarsito disebut Kasidaning Parasadya atau pati prasida, bukan sekedar pati patitis ataupati pitaka.

“Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” seolah menjadi jalan tol menuju pati prasida.

Bagi sseorang yang mengimplementasikan perbuatan dalam koridor “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dapat memetik manfaatnya berupa Pralampita atau ilham atau wangsit (wahyu) atau berupa “senjata” biasanya berupa rapal. Dengan rapal atau mantra orang akan memahami isi Endra Loka, yakni pintu gerbang rasa sejati, merasakan sejatinya wahana Tuhan YME. Manusia mempunyai tugas berat dalam mencari Tuhannya kemudian menyatukan diri ke dalam gelombang Hyang Mahawisesa, Yang Maha Kuasa. Konsep ini dikenal sebagai wujudjumbuhing/manunggaling kawula lan Gusti, atau warangka manjing curiga. Tampak dalam kisah Dewa Ruci, pada saat bertemunya Bima dengan Dewa Ruci sebagai lambang Tuhan YME. Saat itu pula Bima menemukan segala sesuatu di dalam dirinya sendiri.

Itulah inti sari dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” sebagai Pungkas-pungkasaning Kawruh. Artinya, ujung dari segala ilmu pengetahuan atau tingkat setinggi-tingginya ilmu yang dapat dicapai oleh manusia atau seorang sufi. Karena ilmu yang diperoleh dari makrifat ini lebih tinggi mutunya dari pada ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan akal.

Dalam dunia pewayangan lakon “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dimaksudkan untuk lambang membabarkan wejangan sedulur papat lima pancer. Yang menjadi tokoh atau pelaku utama dalam lakon ini adalah sbb;

Begawan Wisrawa
Menjadi lambang guru yang memberi wejangan ngelmu Sastrajendra kepada Dewi Sukesi.

Ramawijaya
Sebagai penjelmaan Wisnu (Kayun; Yang Hidup), yang memberi pengaruh kebaikan terhadap Gunawan Wibisono (nafsul mutmainah),

Keduanya sebagai lambang dari wujud jiwa dan sukma yang disebut Pancer. Karena wejangan yang diberikan oleh Begawan Wisrawa kepada Dewi Sukesi ini bersifat sakral yang tidak semua orang boleh menerima, maka akhirnya mendapat kutukan Dewa kepada anak-anaknya....

1. Dasamuka (raksasa) yang mempunyai perangai jahat, bengis, angkara murka, sebagai simbol dari nafsu amarah.

2. Kumbakarna (raksasa)
Mempunyai karakter raksasa yakni bodoh, tetapi setia, namun memiliki sifat pemarah. Karakter kesetiannya membawanya pada watak kesatria yang tidak setuju dengan sifat kakaknya Dasamuka. Kumbakarno menjadi lambang dari nafsu lauwamah.

3. Sarpokenoko (raksasa setengah manusia)
Memiliki karakter suka pada segala sesuatu yang enak-enak, rasa benar yang sangat besar, tetapi ia sakti dan suka bertapa. Ia menjadi simbol nafsu supiyah.

4. Gunawan Wibisono (manusia seutuhnya);
Sebagai anak bungsu yang mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan semua kakaknya. Dia meninggalkan saudara-saudaranya yang dia anggap salah dan mengabdi kepada Romo untuk membela kebenaran. Ia menjadi perlambang dari nafsul mutmainah.

Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia.

Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan).

Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.

Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud.

Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).

Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu.

Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu.

Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.

Sifat Manusia Terpilih
Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”. Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.

Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”. Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa.

“Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia”. Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.

Betara Narada mengatakan “Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.

Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang-orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya.

Demikian lah pemaparan tentang puncak ilmu kejawen yang adiluhung, tidak bersifat primordial, tetapi bersifat universal, berlaku bagi seluruh umat manusia di muka bumi, manusia sebagai mahluk ciptaan Gusti Kang Maha Wisesa, Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang Maha Tunggal. Janganlah terjebak pada simbol-simbol atau istilah yang digunakan dalam tulisan ini. Namun ambilah hikmah, hakikat, nilai yang bersifat metafisis dan univers.

Tuesday, November 16, 2010

HA-NA-CA-RA-KA : Konsepsi Tradisional dan Ilmiah



Secara garis besar, ada dua konsepsi tentang kelahiran ha-na-ca-ra-ka. Dua konsepsi itu masing-masing mempunyai dasar pandang yang berbeda. Konsepsi yang pertama berdasarkan pandang pada pemikiran tradisional, dari cerita mulut ke mulut sehingga disebut konsepsi secara tradisional. Konsepsi yang kedua berdasar pandang pada pemikiran ilmiah sehingga disebut konsepsi secara ilmiah.

Konsepsi secara tradisional.
Konsepsi secara tradisional mendasarkan pada anggapan bahwa kelahiran ha-na-ca-ra-ka berkaitan erat dengan legenda Aji Saka. Legenda itu tersebar dari mulut ke mulut yang kemudian didokumentasikan secara tertulis dalam bentuk cerita. Cerita itu ada yang masih berbentuk manuskrip dan ada yang sudah dicetak. Cerita yang masih berbentuk manuskrip, misalnya Serat Momana, Serat Aji Saka, Babad Aji Saka dan Tahun Saka lan Aksara Jawa. Cerita yang sudah dicetak misalnya Kutipan Serat Aji Saka dalam Punika Pepetikan saking Serat Djawi ingkang Tanpa Sekar ( Kats 1939 ) Lajang Hanatjaraka ( Dharmabrata 1949 dan Manikmaya ( Panambangan 1981 )

Dalam manuskrip Serat Aji Saka ( Anonim ) dan kutipan Serat Aji Saka ( Kats 1939 ) misalnya diceritakan bahwa Sembada dan Dora ditinggalkan di Pulau Majeti oleh Aji Saka untuk menjaga keris pusaka dan sejumlah perhiasan. Mereka dipesan agar tidak menyerahkan barang-barang itu kepada orang lain, kecuali Aji Saka sendiri yang mengambilnya. Aji Saka tiba di Medangkamulan, lalu bertahta di negeri itu. Kemudian negari itu termasyhur sampai dimana-mana. Kabar kemasyhuran Medangkamulan terdengar oleh Dora sehingga tanpa sepengatahuan Sembada ia pergi ke Medangkamulan. Di hadapan Aji Saka, Dora melaporkan bahwa Sembada tidak mau ikut, Dora lalu dititahkan untuk menjemput Sembada. Jika Sembada tidak mau, keris dan perhiasan yang ditinggalkan agar dibawa ke Medangkamulan. Namun Sembada bersikukuh menolak ajakan Dora dan memperhatankan barang-barang yang diamanatkan Aji Saka.

Akibatnya, terjadilah perkelahian antara keduanya, oleh karena seimbang kesaktiannya meraka mati bersama. Ketika mendapatkan kematian Sembada dan Dora dari Duga dan Prayoga yang diutus ke Majeti, Aji Saka menyadari atas kekhilafannya. Sehubungan dengan itu, ia menciptakan sastra dua puluh yang dalam Manikmaya, Serat Aji Saka dan Serat Momana disebut sastra sarimbangan. Sastra Sarimbangan itu terdiri atas empat warga yang masing-masing mencakupi lima sastra, yakni :

1. Ha-na-ca-ra-ka
2. Da-ta-sa-wa-la
3. Pa-dha-ja-ya-nya
4. Ma-ga-ba-tha-nga

Sastra Sarimbangan itu, antara lain terdapat dalam manuskrip Serat Aji Saka, pupuh VII- Dhandhanggula bait 26 dan 27 sebagai berikut :

1. Dora goroh ture werdineki (Dora bohong ucapannya yakin)
2. Sembada temen tuhu perentah (Sembada jujur patuh perintah)
3. Sun kabranang nepsu ture (Ku emosi marah ucapannya)
4. Cidra si Dora iku (Ingkar si Dora itu)
5. Nulya Prabu Jaka angganggit (Lalu Prabu Jaka Menganggit)
6. Anggit pinurwa warna (Anggit dibuat macam)
7. Sastra kalih puluh (Sastra dua puluh)
8. Kinarya warga lelima (Dibuat warga lelima)
9. Wit Ha-na-ca-ra-ka sak warganeki (Dari Ha-na-ca-ra-ka itu sewarganya)
10. Pindho Da-ta-sa-wala (Dua Da-ta-sa-wala)
11. Yeku sawarga ping tiganeki (Yaitu sewarga ketiganya)
12. Pa-dha-ja-ya-nya ku suwarganya (Pa-dha-ja-ya-nya sewargane)
13. Ma-ga-ba-tha-nga ping pate (Ma-ga-ba-tha-nga keempatnya)
14. Iku sawarganipun (itulah sewarganya)
15. Anglelima sawarganeki (Lima-lima satu warganya)
16. Ran sastra sarimbangan (Nama sastra sarimbangan)
17. Iku milanipun (Itulah sebabnya)
18. Awit ana sastra Jawa (Mulai ada huruf Jawa)
19. Wit sinungan sandhangan sawiji-wiji (Mulai diberi harakat satu per satu)
20. Weneh-weneh ungelnya (Macam-macam lafalnya)

Teks diatas mirip teks yang terdapat dalam Manikmaya jilid II (Panambangan 1981 : 385) kemudian untuk memberikan kesan yang menarik lagi bagi anak-anak yang sedang belajar aksara ha-na-ca-ra-ka, dalam Lajang Hanatkaraka jilid I dan II ( Dharmabrata, 1948:10-11 : 1949:65-66 ) dihiasi dengan gambar kisah Dora dan Sembada. Hiasan yang menggambarkan kisah kedua tokoh itu menandai lahirnya ha-na-ca-ra-ka.

Tidak dapat dipungkiri bahwa legenda Aji Saka hingga beberapa generasi mengilhami dan bahkan mengakar dalam alam pikiran masyarakat Jawa. Dikatakan oleh Suryadi ( 1995 : 74-75 ) bahwa mitologi Aji Saka masih mengisi alam pikiran abstraksi generasi muda etnik Jawa yang kini berusia tiga puluh tahun keatas. Fakta pemikiran tersebut menjadi bagian dari kerangka refleksi ketika mereka menjawab perihal asal-usul huruf Jawa yang berjumlah dua puluh.

Selain Aji Saka sebagai tokoh fiktif, nama kerajaannya yakni Medangkulan masih merupakan misteri karena secara historik sulit dibuktikan. Ketidakterikatan itu sering menimbulkan praduga dan persepsi yang bermacam-macam. Misalnya praduga yang muncul dari Daldjoeni (1984: 147-148 ) yang kemudian diacu oleh Suryadi ( 1995 : 79 ) bahwa kerajaan Medangkamulan berlokasi di Blora, sezaman dengan kerajaan Prabu Baka di ( sebelah selatan ) Prambanan, yakni sekitar abad IX. Berdasarkan praduga itu, aksara Jawa ( ha-na-ca-ra-ka ) diciptakan pada sekitar abad tersebut.

Praduga Daldjoeni tentang lokasi Medangkamulan memang sesuai dengan keterangan dalam sebuah teks lontar ( Brandes, 1889a : 382-383 ) bahwa Medangkamulan terletak di sebelah timur Demak, seperti berikut :

Mangka wonten ratu saking bumi tulen, arane Prabu Kacihawas.
Punika wiwitaning ratu tulen mangka jumeneng ing lurah Medangkamulan, sawetaning Demak, sakiduling warung.

Demikianlah ada raja dari tanah tulen, namanya Prabu Kacihawas. Itulah permulaan raja tulen ketika bertahta di lembah Medangkamulan, sebelah timur Demak sebelah selatan warung.

Akan tetapi, penanda tahun kelahiran ha-na-ca-ra-ka diatas berbeda dengan yang terdapat dalam Serat Momana. Dalam Serat Momana disebutkan bahwa ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Aji Saka yang bergelar Prabu Girimurti pada tahun ( saka ) 1003 ( Subalidata 1994 : 3 ) atau tahun 1081 Masehi. Tahun 1003 itu dekat dengan tahun bertahtanya Aji Saka di Medangkamulan, yakni tahun 1002 yang disebutkan dalam The History of Java jilid II ( Raffles 1982 : 80 ) pada halaman yang sama dalam The History of Java itu disebutkan pula bahwa Prabu Baka bertahta di Brambanan antara tahun 900 dan 902, yakni seratus tahun sebelum Aji saka bertahta.

Sementara itu, dalam Manikmaya ( salinan Panambangan, 1981 : 295 ) disebutkan bahwa Aji Saka – dengan sebutan Abu Saka mengembara ke tanah Arab. Di negeri itu ia bersahabat dengan Nabi Muhammad (hidup akhir abad VI – pertengahan abad VII ). Setelah pergi ke pulau Jawa, dengan sebutan Aji Saka akbibat berselisih paham dengan Nabi Muhammad ( Graff 1989 : 9 ) ia yang menciptakan aksara ha-na-ca-ra-ka. Penciptaan aksara itu diperkirakan pada sekitar abad VII ( sesuai dengan masa kehidupan Nabi Muhammad ) karena di dalam teks tidak disebutkan secara eksplisit.

Warsito (Ciptoprawiro, 1991: 46) dalam telaah Serat Sastra Gendhing berpendanpat bahwa syair ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Jnanbhadra atau Semar. Dengan demkian, saat kelahiran ha-na-ca-ra-ka sulit ditentukan karena Semar merupakan tokoh fiktif dalam pewayangan.

Pendapat lain dikemukan oleh Hadi Soetrisno(1941 ). Dalam bukunya yang berjudul Serat Sastra Hendra Prawata dikemukan bahwa aksara Jawa diciptakan oleh Sang Hyang Nur Cahya yang bertahta di negeri Dewani, wilayah jajahan Arab yang juga menguasai tanah Jawa. Sang Hyang Nur Cahya adalah putra Sang Hyang Sita atau Kanjeng Nabi Sis (Soetrisno, 1941: 6). Disamping aksara Jawa, Sang Hyang Nur Cahya juga menciptakan aksara Latin, Arab, Cina dan aksara-aksara yang lain. Seluruh aksara itu disebut Sastra Hendra Prawata (Soetrisno, 1941: 3 – 6)

Di kemukakan pula bahwa berdasarkan bentuknya, aksara Jawa merupakan tiruan dari aksara Arab, mula-mula aksara itu berupa goresan-goresan yang mendekati bentuk persegi atau lonjong, lalu makin lama makin berkembang hingga terbentuklah aksara yang ada sekarang (Soetrisno 1941 : 10 ). Lebih lanjut dijelaskan bahwa Aji Saka yang dianggap sebagai pencipta aksara Jawa itu sebenarnya bukan penciptanya, melainkan sebagai pembangun dan penyempurna aksara tersebut sehingga terciptalah bentuk aksara dan susunan atau carakan ( ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya ) seperti sekarang ini ( Hadi Soetrisno, 1941 : 7 ). Terciptanya bentuk aksara dan carakan itu melibatkan kedua abdinya, Dora dan Sembada yang menemui ajalnya secara tragis.

Selain yang telah diuraikan di atas, ada dugaan bahwa kisah tragis Dora dan Sembada dalam legenda Aji Saka merupakan simbol perang saudara untuk memperebutkan tahta Majapahit. Perebutan ia mengakibatkan hancurnya kedua belah pihak, menjadi bangkai dengan ungkapan ma-ga-ba-tha-nga. Tentu saja kisah simbolik yang melahirkan aksara ha-na-ca-ra-ka itu muncul setelah hancurnya kerajaan Majapahit, antara abad XVI dan XVII ( Atmodjo, 1994 : 26 )

Dugaan lain adalah bahwa peristiwa tragis yang menimpa Dora dan Sembada merupakan simbol gerakan milenarianisme, yakni gerakan yang mengharapkan datangnya pembebasan atau ratu adil, dengan ungkapan ha-na-ca-ra-ka ( Atmojo, 1994 : 26 ). Namun kapan datangnya pembebasan dan siapa yang dimaksud dengan ratu adil, apakah Raden Patah yang berhasil naik tahta setelah Majapahit runtuh atau Sutawijaya yang mampu menyelamatkan negeri ( Pajang ) dari rongrongan Arya Penangsang ataukah tokoh lain, masih merupakan tanda tanya yang sulit untuk memperoleh jawaban secara ilmiah atau nalar.

Praduga-praduga di atas mencerminkan keragaman pendapat, keragaman itu sulit dapat timbul dari persepsi yang berbeda-beda sehingga sulit untuk menentukan persamaan waktu atas kelahiran ha-na-ca-ra-ka. Kesulitan itu dapat disebabkan oleh sifat legenda yang fiktif sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan antara sumber yang satu dan sumber yang lain, sesuai dengan kehendak pengarang atau penulis masing-masing. Perbedaan praduga pertama ( Daldjoeni ) dengan praduga kedua ( dalam Serat Momana ) dan praduga ketiga ( dalam The History of Java ) misalnya terletakpada selisih waktu dua abad, sedangkan praduga kedua dengan praduga ketiga hanya mempunyai selisih satu tahun. Perbedaaan ketiga praduga tersebut akan lebih beragam jika menyertakan perkiraan hidup Aji Saka dalam Manikmaya, pendapat Warsito dan Hadi Soetrisno serta kisah-kisah simbolik di atas. Selain itu masih terbuka kemungkinan yang dapat menimbulkan perbedaan yang berasal dari teks-teks lain yang belum sempat diungkapkan di sini, termasuk misteri pencipta aksara tersebut.

Konsepsi secara Ilmiah
Kelahiran pada perkembangan aksara Jawa erat hubungannya dengan kelahiran dan perkembangan bahasa Jawa. Secara alami, mula-mula bahasa Jawa lahir sebagai alat komunikasi lisan pemakainya. Bahasa Jawa yang dilisankan itu, seperti bahasa ragam lisan pada umumnya, terikat oleh waktu dan tempat ( lihat Molen, 1985 : 3 ) untuk melepaskan diri dari keterikatannya, sesuai dengan pola pikir pemakainya dan sejalan dengan tantangan zaman akibat pengaruh lingkungan serta perkembangan ilmu dan teknologi, sarana yang nyata dan kekal, berupa aksara diciptakan. Aksara yang dipakai etnik Jawa muncul pertama kali setelah orang-orang India datang ke pulau Jawa. Diperkirakan bahwa sebelum itu etnik Jawa belum mempunyai aksara ( Poerbatjaraka, 1952 : vii ) sehingga masih berlaku tradisi kelisanan. Dengan munculnya aksara, mulailah tradisi keberaksaraan untuk menciptakan bahasa ragam tulis, meskipun tradisi kelisanan tetap berlangsung.

Hasil teknologi baru yang berupa tulisan memang memainkan peranan yangamat penting dalam sejarah manusia, dalam kehidupan sehari-hari di bidang ilmu pengetahuan, politik dan sebagainya. Ada perbedaan mendasar antara peradaban yang tanpa tulisan dan peradaban yang mempunyai tulisan ( Molen, 1985 : 3 ) peradaban yang mempunyai tulisan setidaknya mempunyai kelebihan setingkat lebih maju daridapa peradaban tanpa tulisan.

Dalam sejarah peradaban etnik Jawa, atas dasar data arkeologis, tulisan tertua yang ditemukan dalam bentuk prasasti dengan menggunakan aksara Pallawa menunjukkan penanda waktu sebelum tahun 700 Masehi ( Casparis, 1975 : 29 ) jauh sesudah bahasa Jawa yang tertua dugunakan secara lisan. Setelah ditemukan beberapa prasasti yang lain, secara berangsur-angsur dilakukan studi paleografi. Dari beberapa prasasti yang dijadikan bahan studi, diperoleh hasil deskripsi yang menggembirakan ( lihat Molen 1985 : 4 ). Namun hingga kini masih sedikit jumlah karya tulis yang membicarakan paleografi Jawa. Karya tulis tentang paleografi Jawa baru dimulai pada awal abad XIX, seperti yang dilakukan oleh Raffles ( 1871 ) Stuart ( 1863 ) dan Keyzer ( 1863 ). Hanya sayang bahwa contoh aksara yang ditampilkan menurut Stuart ( 1864 : 169 – 173 ) lihat Molen, 1985 : 4 ) bukan jiplakan yang asli, melainkan aksara Jawa baru yang dituliskan dengan bentuk dan gaya aksara Jawa kuna, contohnya : dibawah ini dikutipkan dari The History of Java Jilid I, karya Raffles ( 1982 : 370 )

Ada juga Ajaran filsafat hidup berdasarkan aksara Jawa yang sebagai berikut :

Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ”utusan” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan )

Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha ”sama” atau sesuai, jumbuh, cocok tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ”menang, unggul” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ”sekedar menang” atau menang tidak sportif.

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

VERSI HANACARAKA #1:
Ha : Hana hurip wening suci (adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci)

Na : Nur candra,gaib candra,warsitaning candara (pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi)

Ca : Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi (satu arah dan tujuan pada Yang MahaTunggal)

Ra : Rasaingsun handulusih (rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani)

Ka : Karsaningsun memayuhayuning bawana (hasrat diarahkan untuk kesajehteraan alam)

Da : Dumadining dzat kang tanpa winangenan (menerima hidup apa adanya)

Ta : Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa (mendasar, totalitas,satu visi, ketelitian dalammemandang hidup)

Sa : Sifat ingsun handulu sifatullah (membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan)

Wa : Wujud hana tan kena kinira (ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas)

La : Lir handaya paseban jati (mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi)

Pa : Papan kang tanpa kiblat (Hakekat Allah yang ada disegala arah)

Dha : Dhuwur wekasane endek wiwitane (Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar)

Ja : Jumbuhing kawula lan Gusti (selalu berusaha menyatu -memahami kehendak Nya)

Ya : Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi (yakin atas titah /kodrat Illahi)

Nya : Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki (memahami kodrat kehidupan)

Ma : Madep mantep manembah mring Ilahi (yakin dan mantap dalam menyembah Ilahi)

Ga : Guru sejati sing muruki (belajar pada guru nurani)

Ba : Bayu sejati kang andalani (menyelaraskan diri pada gerak alam)

Tha : Tukul saka niat (sesuatu harus dimulai tumbuh dari niatan)

Nga : Ngracut busananing manungso (melepaskan egoisme pribadi manusia)


VERSI HANACARAKA #2:
Ha: AKU adalah Allah

Na: Nur_KU adalah diriKU (muhammad)

Ca: Cipta = Jadilah>>>>>>>>> Kun

Ra: Rasa = dinyatakan

Ka: Tekad = Terjadilah>>>>>>> fa ya Kun


VERSI HANACARAKA #3:
1. Ha – Huripku Cahyaning gusti Allah (Hidupku adalah Cahaya Allah).>>>>> AKU adalah Allah

2. Na – Nur Hurip Cahya wewayangan (Nur Hidup Cahya yang membayang).>>>>> Nur_AKU adalah diri AKU (Nur_KU adalah Muhammad)

3. Ca – Cipta rasa karsa kwasa (Cipta rasa penuh kehendak).>>>>> Jadilah (mencipta)

4. Ra - Rasa rumangsa kang tanpa karsa (Rasa yang mengalir tanpa kehendak)>>>>> dinyatakan (akan)

5. Ka - karsa kuasa tetungguling pangrih (penuh kehendak akan adanya satu2nya wujud kendali atau yang memerintah).>>>>> Terjadilah

6. Da - dumadi kang tanpa kinardi (menjadi tanpa perbuatan)>>>>> Tercipta

7. Ta - tetep jumeneng ing dzat kang tanpa niat (selalu berhubungan dengan dzat tanpa niat)>>>>> satu kesatuan (sistem)

8. Sa – Sifat hana kang tanpa wiwit (Sifat ada tanpa awal).>>>>> Tidak berawal (Adam = tidak ada)

9. Wa – Wujud hana tan kena kinira (Wujud ada tidak mungkin diuraikan/dijelaskan).>>>>> berbeda dari yang lain

10. La – Lali eling wewatesane (Lupa Ingat adalah batasannya)>>>>> Tidak terikat (bebas)

11. Pa – Papan kang tanpa kiblat (Papan tanpa arah)>>>>> Ada dimana-mana (ka'bah)

12. Dha – Dhuwur wekasane endhek wiwitane (luhur diakhir, rendah diawal)>>>>> Isra' (belajar)

13. Ja – Jumbuhing kawula lan Gusti (Bersatunya kita dengan Tuhan)>>>>> Mi'raj (bersatu)

14. Ya – Yen rumangsa tanpa karsa (Kalau merasa tanpa kehendak).>>>>> Iman

15. Ny - Nyata tanpa mata ngerti tanpa diwuruki (Melihat tanpa mata, mengerti tanpa diajari)>>>>> Kesadaran penuh (hening)


VERSI HANACARAKA #4:
20. Nga : Ngracut busananing manungso (melepaskan egoisme pribadi manusia / melepaskan segala yang melekat pada diri / hrs dengan sengaja dapat melepaskan diri pribadi dgn sengaja)

19. Tha : Tukul saka niat (sesuatu harus dimulai tumbuh dari niatan)

18. Ba : Bayu sejati kang handalani (menyelaraskan diri pada gerak alam / bayu sejati yg menjadi sebab)

17. Ga : Guru sejati sing muruki (belajar pada guru nurani/ guru sejati yg menghampiri)

16. Ma : Madep mantep manembah mring Ilahi (yakin dan mantap dalam menyembah Ilahi)

15. Ny - Nyata tanpa mata ngerti tanpa diwuruki (Melihat tanpa mata, mengerti tanpa diajari)>>>>> Kesadaran penuh (hening)

14. Ya – Yen rumangsa tanpa karsa (Kalau merasa tanpa kehendak).>>>>> Iman

13. Ja – Jumbuhing kawula lan Gusti (Bersatunya kita dengan Tuhan)>>>>> Mi'raj (bersatu)

12. Dha – Dhuwur wekasane endhek wiwitane (luhur diakhir, rendah diawal)>>>>> Isra' (belajar)

11. Pa – Papan kang tanpa kiblat (Papan tanpa arah)>>>>> Ada dimana-mana (ka'bah)

10. La – Lali eling wewatesane (Lupa Ingat adalah batasannya)>>>>> Tidak terikat (bebas)

9. Wa – Wujud hana tan kena kinira (Wujud ada tidak mungkin diuraikan/dijelaskan).>>>>> berbeda dari yang lain

8. Sa – Sifat hana kang tanpa wiwit (Sifat ada tanpa awal).>>>>> Tidak berawal (Adam = tidak ada)

7. Ta - tetep jumeneng ing dzat kang tanpa niat (selalu berhubungan dengan dzat tanpa niat)>>>>> satu kesatuan (sistem)

6. Da - dumadi kang tanpa kinardi (menjadi tanpa perbuatan)>>>>> Tercipta

5. Ka - karsa kuasa tetungguling pangrih (penuh kehendak akan adanya satu2nya wujud kendali atau yang memerintah).>>>>> Terjadilah

4. Ra - Rasa rumangsa kang tanpa karsa (Rasa yang mengalir tanpa kehendak)>>>>> dinyatakan (akan)

3. Ca – Cipta rasa karsa kwasa (Cipta rasa penuh kehendak).>>>>> Jadilah (mencipta)

2. Na – Nur Hurip Cahya wewayangan (Nur Hidup Cahya yang membayang).>>>>> Nur_AKU adalah diri AKU (Nur_KU adalah Muhammad)

1. Ha – Huripku Cahyaning gusti Allah (Hidupku adalah Cahaya Allah).>>>>> AKU adalah Allah


VERSI HANACARAKA #5:
Menurut seorang penghayat kabuyutan sunda :

MAYA PA-DA ( buana atas: spiritual.. atau ketuhanan)

Ha > ha -- Hirup (hidup)

Na > na -- Seuneu / nu Hurung (api/atau sesuatu yang menyala)

Tja > ca -- Cahaya / Caang ( cahaya/ menerangi )

Ra > ra -- Sinar / Maha Cahaya ( sinar / Maha cahaya )Ka >

ka -- Tanaga / Kakuatan ( tenaga/ kekuatan) *Aya sidik jeung rasa-na (nampak beserta rasa-nya)

-MADYA PA-DA ( buana panca tengah : manusia , af'al, kemanusiaan )

Da > da -- Gede ( Agung ) Ta >

ta -- Meta (Gerak Kahirupan / kehidupan)Sa >

sa -- Nunggal / Ngahiji ( manunggal / bersatu )

Wa > wa -- Salaput / papayung / wadah ( selaput / payung / wadah )

La > la -- Alam Jati (hukum)

Pa > pa -- Alam Tempat ( alam semesta )

Dja > ja -- Wujud Halus Hurip (Jati Hirup) ( inti kehidupan )

Ja > ya -- Hurip ( hidup yang menghidupi )

Nja > nya -- Seuneu Hurip (Seuneu Nu Hurip) ( api kehidupan ) *Aya bentuk jeung polah-na ( ada bentuk dan geraknya )

MARCA PA-DA ( buana panca handap - alam semesta.. )

Ma > ma -- Alam / Pangeusi / Mahluk Alam ( alam dan beserta isinya )

Ga > ga -- Kawasa ( kuasa )

Ba >ba -- Panyalur / nu ngadugikeun / nu ngajarkeun ( penyalur/ yang menyampaikan / atau yang mengejarkan

Nga > nga -- Seuneu Kawasa (api yang kuasa ) * Aya lakon pakeun sagala anu kahirupan (system dari segala kehidupan)

REFERENSI LAIN :
Kalau manusia tidak mencoba melakukan tafakur /makrifat kepada Tuhan dengan jalan apapun maka akibatnya adalah menjadi terbalik yaitu roh (manusia ) tdk akan bisa menunjukkan eksistensi ke khalifahan hidupnya didunia atau dengan kata lain tdk bisa mencapai Ka Ra Ca Na Ha (caraka balik ke 4 )

karena kondisi dari roh manusia tergambar dalam makna Ka Ra Ca Na Ha = “Karsaning kuoso tetungguling pangreh, Rasa kuoso kang tanpa karso, Cipta roso karso kuoso, Nur hurip cahyo wewayangan, Huripku cahyaning gusti alloh “Yang menjadi tujuan adalah menunjukkan eksistensi bahwa “uripku (adalah) cahyaning gusti Alloh “ dikatakan pada kalimat sebelumnya adalah “Nur hurip cahyo wewayangan “ yang artinya “ Nur Hidup adalah bayangan dari Cahyo / Cahaya “ oleh karena itu “Hidupku adalah (menjadi ) cahaya nya gusti Alloh “.

Ini lah point utamanya bagaimana kita bisa menjadikan hidup kita adalah cahayanya Gusti Alloh,demikian yang dipikirkan oleh sesepuh dan leluhur orang orang jawa. Disinilah pentingnya kawruh pasamaden / olah rasa / semadi, untuk mencari jalan agar tujuan itu bisa dicapai.

Bait kedua adalah Da Ta Sa Wa La ::Didalam bait kedua ini makna yang terkandung didalam hidup manusia adalah bahwa manusia setelah diciptakan sampai dengan saatnya “kembali “ tidak boleh “sawala “ / mengelak , manusia dengan segala atribut kemanusiaanya harus bersedia melaksanakan dan menerima , menjalankan kehendak TUHAN.

Caranya adalah dengan menjalankan perintah Tuhan yang melalui utusan utusannya, utusan ini dalam konsep jawa dikenal sebagai guru sejati, sang guru sejati inilah yang disebut sebagai Nur Muhammad, setiap orang mempunyai Nur Muhammad masing masing, inilah yang dalam konsep jawa perlu di ikuti untuk bisa mencapai jalan kembali ke asal kita.

Dan tentu saja ini berhubungan La Wa Sa Ta Da (caraka balik ke 3) yaitu =“Lali eling wewatesane , Wujud ono tan keno kiniro , Sifat ono tanpa wiwit , Tetep jumeneng dzat tanpo niat, Dumadi tanpo kinardi “.Yang diuraikan disini adalah prosesnya dengan bersedia melaksanakan dan menerima serta menjalankan kehendak Gusti Alloh, maka akan terjadi proses alami seperti pada La Wa Sa Ta Da yaitu “lali eling wewatesane “ = “hilang batasnya “ dan menjadi “wujud tan keno kiniro “ artinya adalah ketika kita setia kepada sang guru sejati, maka akan hilang batas ke akuan (ego ) kita sehingga ke akuan kita menjadi tidak berwujud lagi (lebur ) dan ketika ke akuan kita lebur muncullah keaslian dari “jumeneng dzattanpo niat “ yang “dumadi tanpa kinardi “ yaitu Dzat itu sendiri, semua muanya atas kehendak NYA.

Bait ketiga adalah Pa Da Ja Ya Nya ::Adapun makna yang ada didalam bait kedua ini adalah berhubungan/ bersambung an dengan bait kedua diatas yaitu menyatunya Dzat Pemberi Hidup (Khalik ) dengan yang diberi hidup (mahluk) adapun menyatu (“Pa Dha “) adalah sama atau sesuai , cocok / tunggal batin yang akhirnya tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Manunggal / bersatunya melalui penyatuan sifat sifat Tuhan. Jaya disini bisa berarti menang , unggul, sungguh sungguh dan bukan menang menangan.

Demikianlah keadaan ketika “menyatunya” Dzat Pemberi Hidup (Khalik ) dengan yang diberi hidup (mahkluk), menjadikan seolah olah tiada batasan.Namun kondisinya adalah tetap ada 2 komponen (Khalik dan Mahluk ) yang berbeda. Menyatu atau Jumbuh adalah bukan bercampur !!!. Oleh karena itu kita perlu bercermin diri, mawas diri, harus berani melihat kenyataan yang ada sekarang ini.

Ini juga berhubungan dengan Nya Ya Ja Da Pa (Caraka balik ke 3) yaitu ““Nyoto tanpo moto ngerti tanpa diwuruki, Yen Rumangsa tanpa karso, Jumbuhing kawulo Gusti , Dhuwur wekasane entek wiwite , Papan tanpo kiblat “ .Maknanya “Melihat tanpa menggunakan mata, tahu tanpa ada yg memberi tahu, merasa tidak bisa apa apa, manunggalnya (sifat) Tuhan dan manusia secara terus menerus tanpa ada ujungnya, menuju tempat yang tanpa kiblat (tanpa ada apa apa ).

Nya Ya Ja Da Pa bisa dicapai kalau bisa melakukan dan menerima Pa Da Ja Ya Nya, dengan demikian pemikiran orang jawa ini secara tersirat ada dalam huruf huruf jawa yang tampak sederhana dan seolah olah hanya sekedar abjad yg tidak berarti. Pengolahan kedalam ini dilakukan bagi orang orang jawa yang memang menyadari kejawaanya.“Barang siapa yang buta dirinya (bukan mata fisiknya) didunia ini , dihari nanti ia lebih buta , dan jalan yg ditempuhnya lebih menyesatkan “ (Q.S Al Isra (17):72Jadi menurut saya kita lebih berhati hati mencari “jalan hidup “ agar tidak tersesat di kemudian hari nanti.

Pahami diri sendiri bukan memahami orang lain, carilah kedalam diri , renungkanlah dalam diri , yang namanya merenung itu ya dalam kondisi diam, kita tdk akan bisa melakukan perenungan dengan kondisi yang bergerak. Sebagai contohnya adalah kita melakukan perenungan diri kita yang masih penuh nafsu amarah misalnya, dalam kondisi merenung ya dalam kondisi diam, tdk akan bisa kita melakukan perenungan / pengendalian dalam kondisi “bergerak “ , coba saja nafsu amarah ditahan dengan nafsu yang lain (muthmainah misalnya), sama saja artinya mengekang nafsu dengan nafsu ya tidak bakal ada habisnya.

Ini juga yg dicontohkan oleh Nabi Yusuf dalam kisahn di goda nafsunya oleh Siti Zulaiha, jelas jelas ajakan itu dilarang oleh Tuhan oleh karena itu Nabi Yusuf tetap pada pendiriannya, akan tetapi yang namanya dorongan nafsu adalah fitrah sehingga hampir saja Nabi Yusuf terhanyut kalau saja beliau tidak bersimpuh dan memohon perlindung Tuhan yang selalu mengawasi dalam batinnya “ Ya Allah tidak akan kubiarkan nafsuku ini berbuat curang, aku tidak kuasa dengan dorongan syahwat yang begitu dahsyat, kecuali Engkau merahmati nafsuku ini “Akibatnya hati Nabi Yusuf yang bergejolak tiba tiba menjadi damai, kini kejahatan itu lenyap sama sekali, sehingga Nabi pun tidak perlu bersusah payah untuk menahan diri lagi. Kini jiwanya telah menjadi jiwa yang mutmainah (bukan NAFSU Muhtmainah).

Dikatakan Nabi Yusuf telah mendapatkan “burhan “ / pencerahan. Demikian bisa dilihat di QS Yusuf 12, Ayat 23-24).Bait ke 4 Ma Ga Bha Tha NgaMakna Huruf Jawa pada bait ke 4 ini adalah menerima segala sesutau yang diperintahkan dan dilarang oleh Tuhan, manusia dituntut untuk pasrah , sumarah (Rela, Sabar, Narima ) pada garis kodrat walaupun manusia diberi hak untuk ber iradat, berusaha untuk menanggulangi semampunya.RelaAdalah rasa longgarnya hati untuk memasrahkan semua yang dimiliki, wewenang dan hasil pekerjaan kepada Allah dengan iklas, karena semuanya adalah dalam kekuasaan NYA.Oleh karena itu orang yang mempunyai watak rela tidak pantas untuk mengharapkan hasilnya apalagi sampai berkeluh kesah terhadap apa yang dideritanya dan dihadapinya. Orang yang rela tidak memilik kemelekatan kepada barang barang yang bisa rusak, tetapi bukan orang yg menyepelekan kewajibannya.

Sabar-sabar bagi orang jawa adalah merupakan sifat yang termasuk budi baik yang perlu dipunyai oleh orang yang belajar keTuhanan /kebatinan. Diceritakan orang jawa mempunyai faham bahwa Gusti Alloh menyukai orang orang yang sabar, sabar disini adalah sanggup menahan segala ujian namun bukan orang yang putus asa, bisa dikatakan mempunyai pengetahuan yang luas, tidak seperti katak dalam tempurung, membatasi diri dalam kotak buatannya sendiri, tanpa membedakan antara emas dan tanah, kawan ataupun musuh semuanya dianggap sama. Ibaratnya seperti samudra yang tidak meluap walaupun dialiri sungai dari mana mana.

Bagi orang jawa belajar melatih kesabaran adalah penting supaya bisa terhindar dari sifat “cupet pikire “ alias pendek pemikiran, sebab pikirannya dibatasi oleh pengetahuannya,menganggap salah dan keliru pemikiran orang lain yang tidak sama dengan pemikiran kita. Kesabaran itu seperti jamu yang rasanya pait tetapi bisa menyehatkan.Dalam kitab Dhammapada bab VI (Pandita Vagga - 5) dituliskan “ Pembuat saluran air mengalirkan air, tukang panah melengkungkan kayu, orang bijaksana mengendalikan dirinya sendiri “ Lho ?? Ya memang pengendalian itu kita yang memegangnya bukan orang lain, kita mau membatasi diri atau tidak ya tergantung diri kita sendiri, tentu saja dengan resiko dan akibatnya sendiri sendiri.

Sesepuh sesepuh Jawa pun sudah mengajarkan hal ini , walaupun tidak ada kitab ataupun tulisannya,hanya pemikirannya sudah menjangkau apa yang ada dalam kitab kitab tertulis.Lalu apakah dengan demikian paham Jawa ini bisa menggantikan kepercayaan dan keyakinan kita sekarang ? Hmm..Ajaran jawa adalah ajaran yang universal dan tidak berkaitan dengan suatu ritual agama dan kepercayaan tertentu, ajaran jawa tidak dimaksudkan untuk menggantikan apa yang kita punya namun lebih ditekankan untuk “menambal “ dari apa yang kita percayai sekarang. Ibarat agama dan kepercayaan itu adalah rumah, paham jawa adalah menambal bila ada yang keropos pintunya, jendelanya kurang kisi kisnya , jadi tidak dimaksudkan untuk merobohkan rumah itu.!!NarimaNarima = Menerima adalah sifat yang juga menumbuhkan rasa tentram dihati, apa yang sudah ada ditangan dikerjakan dengan sepenuh hati tidak dengan terburu buru, kemrungsung, tidak iri dengan kepunyaan orang lain.

Dengan kata lain narima adalah sama dengan syukur, bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Dzat Wajibul Mulana, Gusti Aloh, Pangeran, Dzat Ingkang Murbeng Dumadi. Sifat menerima itu merupakan harta yang tidak pernah habis, bagi orang jawa “yen golek sugih upayanen nang njero panarima “ maksudnya “kalau ingin kaya carilah dalam sifat penerima “

Nah kan Lantas apa hubungan Ma Ga Ba Tha Nga dengan Nga Tha Ba Ga Ma ? mari kita ulas sebentar , Nga Tha Ba Ga Ma dalam konsep hidup adalah = “Ngeracut busananing Manungsa, Thukul saka niat , Bayu Sejati handalaning , Guru sejati kang wuru’ki, Mati bisa bali.”Maksudnya ? Ngacut busananing manungsa = melepas pakaian sebagai manusia, Thukul saka niat = Yang dimulai dengan niat , Bayu Sejati handalaning = Bayu /Angin / Nafas yang menjembatani , Guru sejati kang wuru’ki = Guru Sejati (Nur Muhammad ) yang membimbing , Mati bisa bali = Mati bisa kembali (ke asalnya ).Dari tulisan diatas bagi saya sudah jelas benang merahnya, tujuan akhirnya dari Ma Ga Ba Tha Nga adalah Nga Tha Ba Ga Ma.

AMBU DIANA
Dua wayang bercakap-cakap (Hanacaraka), bertengkar (Datasawala), perang-tanding (Phadhajayanya) dan tergeletak mati (Magabathanga). Sebenarnyalah Hanacaraka suatu ‘ilmu luhung’ yang sangat tinggi renungan dalam meditasi untuk mendapatkan makna lebih mendalam dan berarti.....

Pengertian Hanacaraka hanya 20 suku kata semakin lama semakin meluas mencakup segala yang alami, dan jikalau dipelajari benar2 menyiratkan dasar kesunyataan alam semesta pada tingkat tertinggi (mendasar). “ADA’-nya Cipta, Rasa dan Karsasebagai sumber Kekuasaan yang tertinggi = Alam Tritunggal (Ca, Ra, Ka) yang Maha Kuasa...

Ha: Huripku CahyaningAllah. Hidup(ku) cahaya Allah sumbercahaya dan kehidupan semesta. Seluruh alam semesta penuh kehidupan, mulaiparticle terkecil-planet- bintang danGalaxi serta penghuninya dalam dimensi manusia maupun dimensi dimensi lainnya yang belum dikenal/diketahui manusia ....

Na: Nur hurip cahyawawayangan.Nur hidup adalah cahaya membayang dilambang wayang; Nur = cahaya yangmembayang dan Caraka adalah wayangnya maka Caraka (utusan) sebagaiIngsundan bayangan layar = ingsun (bayangan Ingsun).

Ca – Cipta rasa karsa kwasa.Tritunggal Cipta, Rasa dan Karsa adalah aspek aspek yang mendasari kekuasaan tertinggi (Maha Kuasa) di seluruh alam semesta; Ra – Rasa kuasa tetunggaling pangreh. Aspek Rasa (Rahsa sejati) yang terkandung di dalam Tritunggal diatas merupakan aspek kendali dalam kekuasaan yang Maha Tinggi

Ka–Karsa kuasa kang tanpa karsa lan niat. Karsa, hasil ataupun ‘wujud’ Tritunggal diatas adalah ke-Maha-Kuasa-an yang masih murni, belum diwarnai keinginan atau kehendak. Manifestasi Tritunggal (Caraka, utusan Allah) yang Maha Kuasa terjelma dalam alam Datasawala yang penuh jajaran Monads, Logos dll dan berkuasa penuh dalam manifestasinya masing masing...

Datasawala menyiratkan alamkehidupan pada tingkat Monad, Logos; (Atma) diluar dimensi ruangdan waktu. Ke-MAHA KUASA-an didasari Cipta, Rasa dan Karsa pada setiap Logos/Monad mulai dilengkapi dengan ‘kehendak’ dan ‘niat’ yang melahirkan “Ingsun”.... Gambaran tentang alam dimana kesadaran terlebur ke bola cahaya hubungan 'inter-connected-ness' of ALL THAT IS...

Da – Dumadi kang kinartiTumitah/menjadi ada/terjadi; makna sebagai Karsa (hasil) dari Tritunggal (Caraka);

Ta – Tetep jumeneng ing dzat kang tanpa niat. Berada dalam dzat (Nur hidup cahaya yang membayang) diluar dimensi ruang dan waktu serta masih murni, belum diwarnai kehendak atau niat, walaupun sudah membawa maksud dan maknanya ...

Sa – Sifat hana kang tanpa wiwit ‘ADA’ tanpa asal usul, kekal di luar dimensi waktu (tiada perbedaan waktu lalu, sekarang dan yang akan datang);

Wa– Wujud hana tan kena kinira. ‘ADA’ tak berbentuk. Manunggal berada diluar dimensi ruang, tiada perbedaan sini-sana, dekat-jauh,...atas-bawah, depan-belakang.....

La–Lalieling wewatesane ‘Lupa-ingat' adalah batasan terjelmanya free-willkehendak yang bebas, batasan ‘ingat-lupa’ maksud, rencana dan makna yangdigariskan mula Karsa Tritunggal. Atas ‘kehendak bebas’ terjadilah Ingsun (Higher Self /Guru Sejati) bagian tak terpisahkan dari Atman. Setiap Ingsun dilengkapi ‘kehendak’ ...

Manifestasi dari kehendak yangsesuai dengan karsa menciptakan alam ketiga, alam Ingsun yang tersirat dalamrumusan PA DHA JA YA NYA .....

Padhajayanya menyiratkan alam kehidupan yang merupakan ‘manifestasi kehendak dan niat jajaran Ingsun (Higher Selves) kedalam alam yang multi dimensi melalui proses evolusi alam semesta beserta seluruh penghuninya. Mak terciptalah dimensi ruang dan waktu serta timbulnya ‘perbedaan’ (dualisme) antara ingsun dan Ingsun (kawula lan Gusti)menyiratkan hakikat ingsun yang masih bersatu dengan sang Ingsun. Adanya ‘Rasa’ membuat semuanya ‘nyata’ tanpa melihatnya dengan mata, dan semuanya bisa dimengerti walaupun tanpa diajari. Namun dalam alam ini ‘rasa’ belum dapat diwujudkan.....

Pa–Papan tanpa kiblat:dimensi ruang pertama kali hubungannya dengan “Big Bang”.

Dha–dhuwur wekasane endhek wiwitane : tinggi/luhur pada akhirnya, rendah pada awalnya, tercipta dimensi ruang disusul dimensi waktu ‘proses evolusi dalam waktu’ bermula dari kesederhanaan. ...

Ja–jumbhuhingkawula lan GUSTI: bersatunya hamba-Tuannya:dimensi ruang pula‘perbedaan’ kawula dan Gusti masih dalam kesatuan.

Ya–Yen rumangsa tanpakarsa, ada rasa belum dilengkapi karsa (belumdapatdi’wujud’kan).

Nya–Nyata: tanpa mata ngerti tanpa diwuruki. Adanya Rasa...semuanya dirasakan nyata meski tanpa melihat dengan mata, dan semuanya bisa mengerti walaupun tanpa diajari...

MAGABATHANGA – ALAM JIWA DAN RAGA

Ma-ga-ba-tha-nga menyiratkan alam jiwa-raga, ingsun ber’karsa’ dengan reinkarnasi berulang kali, untuk ‘hidup’ dialam ‘kematian’. Rasa- karsa di alamkematian, ingsun dibimbing sang Ingsun (Guru Sejati) dibantu Bayu Sejati ‘bayangankekuasaan ter- tinggi’. Karsa hidup di alam kematian dan memberikan hidup kepada unsur (t...anah, air, udara dan api)meracutnya sesuai rasa yang hendak di-karsa-kan....Magabathanga menyiratkan alam kehidupan dimana ingsun dengan bimbingan Ingsun (Guru Sejati) dan bantuan Bayu Sejati (bayangan kuasa Allah) melaksanakan ‘misi’ (karsa) yang timbul dari ‘niat’ untuk ‘merajut’ busana manusia di alam fisik (alam kematian/tidak kekal), alam jiwa dan raga....

Ma –Mati bisa kembali. Ingsun memasuki alam kematian memberikan ‘hidup’ kepada unsur unsur yang ada, akan kembali ke alam kehidupan;

Ga – GuruSejati kang muruki dalam rangka ber-‘karsa’, ingsun dibimbing oleh Ingsun (Guru Sejati)

Ba– Bayu Sejati merupakan bayangan kekuasaan maha tinggi yang diandalkandalam ber-karsa;

Tha– Thukul saka niat, karsa yang dilakukan dengan masuknya ingsun ke alam kematian timbul dari kehendak yang luhur pada saat lahirnya Ingsun sebagai bagian Monad di alam Datasawala;

Nga–meracut busana manusia adalah misi utama ...ingsun yang menjelma manusia.

Ha sampai ke Nga, terlihat jelasbahwa “Ngracut busananing manungsa” misi ingsun dan Ingsun untukberpartisipasi dalam proses evolusi di bumi ini sebagai bagian dari The ThirdOutpouring- Dihubungkan dengan ajaran S9 : misi untuk meracut busana manusia sama dengan mengajak dan mendorong yang 9 untuk ber-evolusi.

 
  • Ceriwis

    Ceriwis
    Forum Gaul
  • Follower

  • About Me

    My photo
    It's Not Who I Am Underneath, but what I do that defines me.