• Sebuah Perjalanan

    Perjalanan apapun, dimulai dari sebuah langkah kecil.

  • Singha Barwang

    Singha Barwang / Macan Ali adalah simbol kerajaan di Cirebon. Merupakan kaligrafi berbentuk seekor singa.

  • Makrifatullah

    MAKRIFAT IALAH :Mengenal Allah SWT.pada Zat-nya,pada Sifat-nya,pada Asma'nya dan pada Af'al-nya.

  • Rajah Kalacakra

    Ilmu Rajah KalaCakra merupakan ilmu untuk menyerang makhluk halus yang mengganggu kita.

  • Abdul Jabbar

    لا فتى إلا علي ولا سيف إلا ذوالفقار

Showing posts with label Spiritual. Show all posts
Showing posts with label Spiritual. Show all posts

Friday, May 20, 2011

Tentang Ruhani

Ruhani adalah salah satu unsur yg bukan berasal dari dunia dan tercipta dari NURULLAH, ada berbagai macam tingkatan NURULLAH yg ada pada manusia,

NUR NURONI nur ini ada karena tiupan malaikat pada saat mengumpulkan unsur pembentuk manusia nur ini yg selalu mengajak kebaikan ( kata peneliti orang luar Otak kanan ),

Nur Rabbani Nur ini dari tiupan Allah dalam penciptaan manusia, Nur inilah yg ber Ba'at ( berjanji kepada Allah ) untuk mengabdi sesuai ikrar ALASTU BIROBBIKUM,

Jadi pada intinya RUHani sudah islam tetapi setelah maujud didunia dan diberi bentuk mahluk yg berujud manusia maka ruhani disini tidak berdaya karena RUHani berada dalam sangkar nya ( JASMANI ), dan untuk keluar dari sangkar manusia harus melakukan proses MUJAHADAH, supaya bisa menyaksikan kembali kebenaran dari BAI'AT ALASTU BIROBBIKUM, selama tidak bisa dan tidak mampu keluar dari kurungan ( sangkar ) maka RUHani tidak akan bisa.


Keluar dari kurungan ( JASMANI ) ini yg dinamakan FANA', hidupnya dikendalikan oleh RUHANI karena Jasmani sudah di Offkan Sementara.

Apakah Ruhani ada wujudnya ?, Ruhani ada wujud nya bentuk RUHANI adalah seperti bayangan dan supaya dikenal oleh mahluk lain untuk Allah menciptakan bentuk jasad/warongko ( showwarnakum ) seperti bentuk manusia seperti kita ini, setelah manusia diberi bentuk oleh Allah dan diamanatkan sebagai KHOLIFAH dimuka bumi ini.

untuk orang2 yg bisa terlatih fana, maka meraka akan bisa melihat hal semacam ini atas ijin ALLAH tentunya , dan ini adalah kewajaran ( hal yg wajar ) tidak menunjukkan sesuatu yg aneh.

Ternyata banyak manusia yg tidak bisa memenuhi keinginan ALLAH ( SIR / Kehendak ALLAH ) karena hidupnya dikendalikan oleh JASMANI yg suka akan kehidupan dunia karena memang JASMANI terbentuk dari unsur dunia sehingga lebih cenderung ke unsur masing2.

untuk itu Allah mengirim utusan KHUSUS berupa nabi dan ROSUL untuk mengembalikan ke FITRAHnya sesuai dengan janji ALASTU BIROBBIKUM, janji dialam arham ( malakut ).

Apa pengaruh perbuatan kita terhadap Ruhani ?? pengaruh perbuatan kita terhadap ruhani sangat besar sekali semakin kita melakukan kebajikan maka Ruhani ini kan semakin bercahaya ? ( kl dimisalkan dlm bentuk jasmani berwujud ganteng , gagah, dan berbau harum ) dan cahaya inilah yg menuntun RUHANI untuk kembali Ke ALLAH ( pada saat Inna Lillahi wa innalillahi Roji'un ) atau sangkan paraning DUMADI.

dan apabila kita melakukan ke dholiman maka RUHani akan semakin redup cahayanya dan bahkan kadang malah maujud dalam rupa tidak terawat seperti jasmani yg tidak terawat ( kemproh,gembel bau busuk yg sangat menyengat sekali )

bahkan ada yg RUHani berujud sifat manusia berupa seperti anjing ( orang yg merasa kurang bersyukur ( mengonggong terus, berliur terus merasa kurang ))
ada kalanya berupa seperti sapi ( tidak tahu URIPnya / HIDUPNYA ) yg penting bisa makan dan minum dll

bagaimana Meng-islam-kan Ruhani ?

pada intinya RUHani sudah islam tetapi kita sendiri saja yg membuat RUHANI lupa kan ALLAH , karena RUHANI tidak digunakan sebagai mana mestinya, RUHani digunakan dan diajak untuk berfikir tentang KESUKSESAN DUNIAWI BAGAIMANA HIDUP NYAMAN DIDUNIA ( harta berlimpah dan bebas melakukan apa saja ) sehingga RUHANI tidak mendapatkan energi yg membentuknya.

sehingga yg RUHani asal SUCI jadi kotor akibat kena POLUSI KEHIDUPAN DUNIA. inilah yg menyebabkan RUHani tidak bisa menangkap NURULLAH yg terpancarkan di muka bumi selama ini.

untuk mengembalikan Ruhani kesemula maka kita harus bisa dan mampu menyerap kalimat NURULLAH agar RUHani kita kembali kesemula yaitu kembali SUCI dan BERSIH untuk itu kita harus dan sering2 menyerap kalimat yg asalnya dari alam malakut ( NURULLAH ) yaitu Istigfar , sholawat, takbir, tasbih, tahmid, sholat, zakat, puasa, baca alqur'an, laku kebajikan, dll.

dan sumber dari segala sumber NURULLAH adalah kalimat LAA ILAHA ILA

---lalu bagaimanakah wujud ruhani ini melakukan sholat??

Wujud sholat e ruhani adalah manunggal dengan wujud jasmani ?
jadi kalau jasmani takbir ruhaninya juga takbir , kl jasmani rukuk rukuk tentunya juga rukuk dan seterusnya.
dan bacaan pada sholat tentuunya manunggal dengan RUHani, tidak jalan2 sendiri2, nah ini kalau dilatih akan sampai pada sholat DA'IM ( sholat yg lestari )


dan tempatnya RUHani sholat di bai'tul makmur

Kalau wujud ruhani sudah hancur karena perbuatan kita, dan kita berniat untuk tobat, wujud ruhani tidak bisa hancur gan tetapi berubah sesuai sifat dilakukan oleh orang tersebut dan sifat ini nantinya maujud sesuai tingkah lakunya ? untuk ini kita harus mengembalikan atau kembali ke JATI DIRI. sehingga kembali bersih dan suci seperti sedia kala (ke fitrah sebagai MANUSIA ), dan untuk membersihkan kotoran dunia itu kita harus bisa dan mampu menyerap asma Allah dan asma Allah itu banyak sekali ?

Nur dari segala NURULLAH berada dalam kalimat LAA ILAHA ILALLAH, inilah salah dalam beberapa orang dinamakan BUKA CAKRA, setelah hal ini terjadi maka kita akan mudah memasukkan semua asma ALLAH didalam bumi kita dimana asma ini akan dapat kita gunakan bila kita membutuhkan, nya ?

biasanya sampai disini akan berhenti, dan kita bisa asik2 dalam dunia ini ....

mohon maaf bila tidak berkenan .................?


Bagaimana cara mengamalkan LAA ILAHA ILALLAH ......? apa yang di LAA kan supaya bisa ILALLAH ....................?

Sebetulnya dzikir ini umum dan sering di ucapkan oleh beberapa jamaah NU, tetapi karena tidak tahu sasarannya maka jumlah berapapun yg dibaca tidak akan mengena kesasaran jadinya sia-sia ( yg didapat hanya pahala ) tetapi asharnya tidak sampai.

dan sering dibabar dikaskus dzikir ini pelajaran dzikir ini dari Rosulullah yg diajarkan ke SAIDINA ALI melalui BA'IAT KHUSUS ( janji khusus ) yaitu untuk mengamalkannya.

dzikir ini terdiri dari :
Bacaannya adalah LAA ILAHA ILALLAH
Gerakkanya adalah LAA ILAHA ILALLAH
Berbuah LAA ILAHA ILALLAH

Nah ada yg bacaan nya benar tetapi gerakkannya salah, sehingga sasarannya juga tidak tepat, sama dengan prajurit berperang membawa senapan tetapi tidak tahu lawanya dimana sehingga dia menembak kesegala arah sampai menghabiskan ratusan dan ribuan peluru tetapi lawannya tidak bisa dibinasakan yg ada hanya kecapaian.

bacaan laa gerakkan dari pusar menuju otak , dan bacaan ilaha dari otak bergerak menuju ke bahu kanan dan ilallah dari bahu kanan bergerak menuju HATI, kalau hal ini dilakukan dengan BENAR dan kena sasaran maka pada saat kita membaca dzikir ini maka akan terasa PANAS , PEDIH DAN PERIH kemudian LINU.

kalau hal ini dilakukan terus maka badan ( yg terdiri 7 lapis ) kita akan bisa dan mampu menyerap NURULLAH dan berbagai asma Allah biasanya ditandai Rasa trecep2 ( seperti kena strum watt kecil ) lakukan terus sampai suatu saat merasakan bumi kita tergoncang badan kita seakan bergoyang2 saat melakukan dzikir ini ( didalam alqur'an disebutkan ciri2 orang mukmin bila mendengar kata ALLAH maka dia akan bergetarlah HATINYA ) dan kita tetap istiqomah dengan dzikir tersebut.

kalau kedua ciri fisik diatas terjadi maka itu masih langkah awal untuk bisa MENYERAP NURULLAH sesuai dengan
asma Allah yg kita baca.LLAH.

Kesempurnaan

Allah tidak hanya menciptakan Syajaratul Yaqin di dalam alam adam makdum.

Allah juga menciptakan 9 pohon yang lain.
2. Syajaratut Tha’ah
3. Syajaratut Tirhab
4. Syajaratul Wafa’
5. Syajaratut Tsabat
6. Syajaratul Unsi
7. Syajaratul Mufasalah
8. Syajaratul Istighfar
9. Syajaratuz Zuhud
10.Syajaratul Hilm


jadi ada 10 yang diciptakan Allah di dalam adam makdum sehingga disini di beri kuasa oleh Allah untuk menjadi Al-Tanazzulat li 'i Dhat,

adam maknanya ada (alif)
makdum maknanya kosong

dan Allah menjadikan adam makdum sebagai Sarikul 'Adam ('ain).

sarikul bermakna awal (1) dan 'Adam ('ain) bermakna tidak ada (0).
itulah hubungannya dengan 10 penciptaan tersebut.

jika engkau telah memahami makna pemahaman di atas,
maka engkau akan mulai belajar tentang AL-KUNHI
dan jika engaku menjadikan AL-KUNHI sebagai FAYAKUUN diri mu,
maka engkau akan mampu memaknai kalimat
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Setelah kita mengerti makna dari KESEMPURNAAN yg dilambangkan dengan angka 10 dimana sesuai makna huruf dalam kalimat Bismillahirrohmanirrohim (dengan background hitam ( ketiadaan ) dan tulisan putih ) , dimana lambang tersebut kita urai berdasarkan unsurnya :

Lambang 1 : RUHani ( isi / NURULLOH / Laa ilaha ilallah - ke-tauhid-an )

0 : Jasmani ( Wadah /Jasad / Warongko / Muhammad - ke-
masyaraka-an)

1 = Ruhani memang asalnya dari SONO ( mahluk diluar dunia ) kehidupan alam malakut, dan Ruhani sudah ber BAI'AT ( berjanji ) kepada Allah sesuai dengan alqur'an Alastu birobbikum ( bukankah AKU ( Allah ) tuhanmu , kemudian jawab RUH , benar ENGKAU adalah tuhanku , kemudian RUH berjanji kepada ALLAH kalau engkau nanti diturankan kedunia apa janjimu " Tidak aku ciptakan JIN dan manusia kecuali hanya beribadah kepadaMU "

itulah janji RUHani kepada Allah dialam malakut sebelum RUPA Manusia ada ( masih dalam proses ).

0 = Jasmani unsur pembentuk dari dunia yg terdiri dari ( api ,air, angin, dan tanah ) yg dikumpulkan oleh malaikat atas perintah Allah. kemudian diberi bentuk seperti wujud sekarang ini jadilah manusia. yg terdiri dari huruf ( mim ha mim dal ) tetapi ada MIM rahasia yaitu MIM yg ditasjid ( yg tidak maujud /ghoib )

" WALAQOD KHOLAQOKUM TSUMMA SHOWWARNAKUM TSUMMA QULNAA LILMALAA-IKATISJUDUU LI - AADAMA "


artinya " Dan sungguh2 AKU telah menciptakan kamu semua , kemudian membuat RUPA KAMU ( showwarnakum ) , kemudian aku dawuh kepada malaikat :Sujudlah kepada Adam. "

Setelah bayi berusia 40 hari ( ada yg mengatakan 120 hari ) maka dikirim lah RUHani ke bayi tersebut sehingga terjadilah kehidupan. karena pada umur 40 hari sudah ada kehidupan pd janin.

sehingga dari kejadian tersebut didalam DIRI MANUSIA , ada 2 kehidupan yaitu kehidupan JASMANI dan kehidupan RUHANI, dan 2 kehidupan ini yg mempergaruhi tata cara hidup manusia.

karena kehidupan manusia di dunia maka jasmani akan dominan terhadap RUHANI, hidupnya JASMANI adalah hidupnya sandaran, sedangkan sebenarnya yg hidup itu adalah RUHANI , tatkala RUHani meninggalkan jasmani maka terjadi KEMATIAN. tetapi kehidupan Ruhani terkurung oleh jasmani karena kita semua memang hidup didunia, kecuali pada saat KEMATIAN MAKA RUHANI BEBAS LEPAS DR kurungan jasad.


Jasmani yg bahan dasarnya dari dunia mempunyai kecenderungan untuk lebih menyukai dunia yg fana , sedangkan RUHANI yg asalnya dari (di luar sono/malakut ) mempunyai kecenderungan suka akan kehidupan malakut ( KETUHANAN ).

dua kehidupan ini lah saling mengguasai dan memperngaruhi manusia, selama manusia dikuasai oleh jasmani maka orang tersebut mempunyai kecenderungan untuk suka dunia dan melupakan akan KETUHANAN ( karena asik dengan dunia ) dan sebaliknya selama orang tersebut dikuasai dengan RUHANI nya maka orang tersebut akan mempunyai sifat ketuhanan( sifat jati diri manusia ) .

tarik menarik antara jasmani dan ruhani inilah yg banyak menjadi ceritera manusia karena akan memperngaruhi tabiat dari manusia tersebut, kita dikuasai jasmani atau ruhani.


jadi Jasmani kita adalah salah satu bentuk hijab kita juga karena dibalik ini semua Allah menciptakan jasmani ternyata mempunyai sifat SENANG AKAN DUNIA ( Cinta dunia ).


beruntunglah manusia2 yg bisa mengendalikan jasmaninya, sehingga dalam kehidupannya ruhani yg mengendalikan jasmani dan tidak sebaliknya ? an kehidupan Ruhani terkurung oleh jasmani ?

Pada saat MUJAHADAH ada kalanya Ruhani kita lepas MERDEKA DARI KURUNGAN jasmani, sehingga kita merasakan kehidupan malakut, nikmat, semua tersedia, tidak perlu mencari -cari kebutuhan jasmani , karena semua tersedia dan telah disediakan oleh Allah '.

Kebutuhan Jasmani dipenuhi dengan segala sesuatu yg ada dari dunia yaitu aktifitas kita seperti makan dan minum mencari rejeki , disamping itu kebutuhan RUHani kita juga harus dipenuhi kalau kita tidak memenuhi kebutuhan RUHani maka kita tidak bisa menerima dan menangkap NURULLAH yg selalu terpancarkan dimuka bumi ini ?

Ruhani inilah yg harus dihidupkan kl ruhani tidak dihidupkan seperti orang hidup tetapi sesungguhnya kita2 ini mati ( seperti kuburan yg berjalan - al hadist ), untuk itulah ruhani ini harus dihidupkan dan cara untuk menghidupkan hati adalah dengan makanan2 berasal dari alam malakut yaitu tasbih, tahlil , tahmid, baca alquran, sholat ,dll

sehingga yg menuntun kita adalah RUHANI YG HIDUP dan bagi mereka yg bisa menghidupi, sehingga RUHani mampu mengeluarkan dliya atau NUR yg bersandar dengan asma Allah.

timbul pertanyyan besar mana DLIYA dan NUR itu ?

Ibadah

Ibadah tetap dan umum gan dan sering kita lakukan lakukan kita semua , cuma kadang kita yg punya keinginan yg macem2 saja yg membuat kita jadi hasilnya macem2 juga ,

Masalah RUJUKAN .--> IRJI'II

Lupa dan dilupakan itu adalah PEGATAN, maka kita lupa akan ALLAH berarti pegatan ( PISAH ) dengan ALLAH ini yg berbahaya,dan RUJUKAN dengan ALLAH itu sangat penting didalam Alqur'an kita diperintah untuk IRJI'II ( kembali ).


Yaa ayyatuhan nafsul muthma innah irji'ii ( al Fajr /S89/ ayat 27 )

IRJI'II ( kembali ) it kembali kemana ?

Apa kembali ketanah ..?
Apa kembali ke MATAHARI ..... ?
APA kembali ke angin ...........?
APA kembali ke Hewan dan tumbuhan ?

jawaBnya semua adalah JANGAN, karena semua ini adalah TEMPATNYA JASMANI, sedangkan kamu yg dipanggil itu bukan itu bukan JASMANI melainkan NAFSUL MUTHMAINNAH maka kembalilah harus kepada Tuhanmu

IRJI'II Robbiki " KEMBALI KE TUHANMU "

kuncinya cuma satu bagaimana mengembalikan unsur2 pembentuk kita yg didalam ini bisa IRJI'II ( kembali / RUJUKAN ) menuju ROODLIYATAN ( Ridho ) tidak ngersulo atau lego lilo diri kita ihlas bersih tanpa ada Sangkutan didunia.

dan ini ditunjukkan dikejadian umum kalau kita mendengar SUARA ADZAN, disitu terdengar Takbir ALLAHU AKBAR 4 kali , disinilah seruan kepada masing2 unsur ( panas, air, angin dan tanah ) kita untuk kembali irji'ii ( rujukan ) , jadi2 unsur ini menjadi kesatuan yg utuh untuk melakukan sholat BERJAMA'AH ( Makna UMUMNYA BERJAMA'AH ADALAH berkumpul dengan orang banyak, tetapi untuk masing diri juga harus bisa mengumpulkan unsur2 pembentuk kita ) jangan sampai yg dikumpulkan orang banyak tetapi masing2 diri tidak bisa mengumpulkan masing2 unsur2 kita , AKHIRNYA SHOLAT nya secara dhohir berjamaah tetapi yg didalam pada KELUYURAN SEMUA. sehingga sholatnya tidak ber-ASHAR, pada saat ALLAHU AKBAR atau takbirotul ihrom itulah NANG , NING , NONG , GUNG


maka ibadah sholat dapat dikatakan ashsholatu mir'ojul mukmin, mana kita bisa mi'roj kalau kita tidak bisa mengendalikan yg didalam.


Yang me-'MIROJ'KAN itu adalah ( hak dan SIR )Allah tetapi kita mempersiapkan WADAH diri kita untuk menerima Anugerah ini semua, nah kl kita punya keinginan mi'roj maka kita telah merubah tujuan IBADAH KITA. BE CAREFUL DENGAN BOLAK BALIK HATI. setiap detik dan saat bisa berubah. JAGALAH HATI - DENGAN DZIKIR SIRRI


jadi sholat itu adalah latihan kita untuk bisa irji'ii dan ridho sebelum kita benar2 diuji dengan perpisahan kita dengan DUNIA atau kematian apa kita bisa tetap ROODLIYATAAN karena kita pisah dengan anak, istri , harta yg kita kumpulkan selama ini. itulah UJIAN AKHIR KITA maka WASPADALAH dengan KEMATIAN......................persiapkan dirimu dengan KEMATIAN

Ternyata pisah dengan istri saja RASANYA SAKIT
Ternyata pisah dengan ANAK saja RASANYA SAKIT
Ternyata pisah dengan Harta saja RASANYA SAKIT
............................................. Rasanya Sakit
............................................. Rasannya Sakit


kenapa rasanya SAKIT , kenapa kesemuannya itu sudah MANUNGGAL ( menyatu ) dengan kita. apakah kita sudah menjadi SATU dengan DIATAS. NYATA nya sendiri2 karena sangat dekatnya ( IKATAN BATIN ) jadi susah dikatakan dan dijelaskan.

Manunggal tidak selalu menjadi satu seperti gambaran rekan2 ( manunggaling kawula lan gusti antara kholik dan mahluk ). seperti gambaran teman2 kita kelompok SALAF.
lha kita sama2 mahluk saja tidak bisa MANUNGGAL dalam pengertian JADI SATU, lha ada yg memahami MANUNGGAL jadi satu ANTARA KHOLIK DAN MAHLUK.

JADI KL GITU TERUS YANG MANUNGGAL APANYA .

Niat Yang Benar

NIAT yang bener yaitu NAWAITU TAQORRUB ILALLAH , dan pikiran di kunci tidak boleh berpaling selain Allah dengan cara pd saat niat kita juga dzikir sirri. Dengan cara seperti itu pikiran tidak membayangkan hal2 selain Allah. ( makanya harus jernih ) dan taqorrub nantinya akan menggalir dan meningkat sesuai tahap-demi tahap maqom yg dilewati.

Mendekatkan diri akan terjadi kenal kepada Allah kemudian akan terjadi sayang , dari sayang timbul cinta dari cinta akan ikrar unt menjauhi apa2 yg dlarang dan dikerjakan.

Setelah cinta timbul maka akan timbul RASA selalu berdekatan selalu ingat dan akn terjadi MANUNGGAL , manunggalnya SIR nya Allah dengan kita .

Sebagai contoh Allah memerintahkan kita sholat melalui SIR nya maka kita lakukan sholat seuai kehendak Allah, karena kita sudah cinta dengan Allah ya kita lakukan sebagi wujud cinta tadi.

Nah kl ibadah tidak didasari oleh SIR nya ALLAH maka disinilah letak Laa haula wala Qu.................................... . Nah kl Allah berkehendak tetapi manusia tidak melakukan nya hal ini bisa terjadi dan bedanya memang disini yg satu didasari cinta dengan Allah yg satu orang yg lalai ( tidak menggenal Allah ).

dan kenyatanya Allah berkehendak ternyata banyak manusia tidak tergerak sesuai kehendak ALLAH, dikarenakan Hati manusianya mati sehingga tidak bisa menerima kehendak ALLAH.

kenapa hati manusia MATI karena jarang digunakan unt berdzikir kepada Allah digunakan untuk mengingat duniawi saja, sehingga saat hidayah Allah selalu terpancarkan 24 jam tidak bisa diterima oleh HATI MANUSIA yg hatinya MATI.

Hati yg selalu berdzikir adalah sarana untuk menerima semua bentuk NURULLAH yg terpancarkan dimuka bumi ini.

"sesungguhnya NAFASmu adalah berlian MAKNAWI, setiap tarikan nafas tanpa diikuti dengan dzikir SIA-SIA HIDUPMU "

Meditasi Sufi

Sasaran dan maksud Muraqabah/Meditasi/Rabita Sharif adalah untuk memperaragakan kehadiran terus-menerus ke dalam realitas Shaykh. Semakin seseorang memelihara pelatihan ini, semakin terungkapkan manfa’atnya dalam kehidupan sehari-harinya sampai pada titik dia mencapai tataran nihil dalam hadhirat Shaykh.

Orang harus tahu betul bahwa Shaykh adalah jembatan antara (dunia) ilusi dan benar (nyata = realitas) dan dia berada di dunia ini hanya untuk tujuan itulah. Jadi Shaykh adalah seutas tali (tambang) khas yang diulurkan kepada siapapun yang mencari kebebasan (dari ilusi), karena hanya dia yang dapat memberikan layanan sebagai penghubung (link) antara seseorang yang masih terikat kepada dunia ini dan Hadhirat Ilahi. Agar menjadi nihil dihadapan dan keberadaan Shaykh adalah menjadi nihil dalam kenyataan, dalam Hadhirat Ilahi, karena memang sesungguhnya disitulah dia berada.

Langkah - 1
Bayangkan dirimu berada di hadapan Shaykh. Sampaikam salammu. Tutup matamu. Pandanglah melalui Mata Jantung. Jangan mencari wujud muka, hanya Auranya saja, ruhaniah.

Sebagai awal murid dapat memulai praktek Muraqabah ini untuk jangka waktu pendek dari 5 sampai 15 menit, dan secara bertahap menjalaninya menuju jangka waktu yang lebih panjang, bahkan merentang sampai berjam-jam sekali sessi. Yang terpenting adalah bahwa seseorang mempertahankan sebuah praktik yang ta’at azas (consistent) untuk mendapatkan manfa’at praktid.

Adalah berlipat kali lebih baik dan bijaksana untuk bertahap pada sessi yang pendek secara harian daripada disiplin dan praktek yang acak. Sebuah upaya kecil yang dilakukan secara ta’at azas akan menghasilkan kemajuan luar biasa dalam waktu (keseluruhan) yang singkat.

Mengulang wudhu dan shalat 2 raka’.
3x Shahada [ Kalimatu shahada (3 kali) : Ashhadu an la ilaha illa-lah, wa ashhadu anna Muhammadan rasulu-lah],100-200x Istighfar [Astaghfirul lahal `Atheem wa atubu ilayh ], 3x Surah Ikhlas,Fatihah minimum 200x mencari dukungan dan kehadiran Mawlana Shaykh (Q): “Madad ya Sayyidi, Madadul-Haq” mengulang Dhikr.

Langkah - 2
Mata tertutup; mohon izin untuk menyambung cahaya (nur) beliau kepada jantungmu dan cahaya (nur) mu kepada jantung beliau. Bayangkan sebuah kontak dua arah dan kemudian, baca awrad di atas.

Ketika seseorang duduk bermeditasi dan menutup matanya, orang itu mem-focuskan pikirannya pada satu titik tunggal. Dalam hal ini titik itu biasanya adalah konsep dari mentor spiritualnya, yaitu : dia mem-fokuskan seluruh kemampuan kesaksiannya memikirkan dengan konsentrasi penuh tentang guru spiritual nya, agar supaya mendapatkan gambaran (image) mentor nya pada layar mental, selama dia masih berada dalam status meditasi itu.

Sifat (properties), karakteristik dan potensi yang terkait dengan sebuah gambaran (image) juga dipindahkan pada layar pikiran ketika gambaran (image) itu terbentuk pada layar mental dan pikiran menerimanya sesuai dengan itu.

Sebagai contoh, seseorang sedang memperhatikan api. Ketika gambaran (image) api itu dipindahlan kepada layar pikiran, suhu dan panas api itu terekam oleh pikiran. Seseorang yang hadir dalam sebuah taman menikmati kesegaran dan kesejukan pepohonan dan tanaman dalam taman itu untuk menciptakan gambaran itu semua pada layar pikirannya. Begitu juga ketika gambaran mentor spiritual dipindahkan pada layar pikiran, Ilmu yang Dihadirkan (the Presented Knowledge) yang beroperasi dalam diri guru spiritual, juga ikut dipindahkan dengan gambaran itu dan pikiran murid secara bertahap menyerap (assimilates) hal yang sama.

Langkah 3
Duduk bersimpuh, yang rapi, tetap bersimpuh, mata tertutup, tangan di tempat, mulut tertutup, lidah ditekuk ke atas, napas terkendali, kuping mendengar Quran, Salawat atau suara sendu. Ruang gelap.

Meditasi, memikirkan tentang mentor spiritual, sebuah upaya untuk mem-fokuskan dengan konsentrasi pikiran kita kepada seseorang, sehingga image nya dapat dipantulkan secara berulang pada layar pikiran kita, (maka) kita terbebaskan dari keterbatasan indera. Makin sering sebutir pikiran di tayangkan pada layar mental, makin jelas pula formasi (pembentukan) sebuah pola dalam pikiran itu.

Dan pola pikiran demikian ini, dalam istilah spiritualitas, disebut 'pendekatan pikiran’.
Ketika kita membayangkan mentor spiritual atau 'Shaykh', sebagai sebuah hal dari hukum eternal, ilmu Elohistic Attributes yang beroperasi dalam Shaykh dipantulkan pada pikiran kita dengan ulangan yang berkali-kali menghasilkan pencerahan pikiran dari murid dengan cahaya nur yang berfungsi dalam diri Shaykh dan dilimpahkan kepadanya.

Pencerahan jantung murid berusaha mencapai tataran atau tahap Shaykhnya. Dalam Sufism, keadaan ini disebut 'Kedekatan' (nisbat). Cara terbaik dan telah teruji untuk menikmati kedekatan, menurut spiritualitas, adalah hasrat kerinduan dari cinta.
Pikiran Shaykh terus menerus mengirimkan (transfer) kepada murid spiritualnya sesuai dengan kobaran cinta dan rindu akan Shaykh, yang mengalir di dalam diri murid dan ada datang satu saat ketika cahaya nur beroperasi dalam diri Shaikh yang sesungguhnya adalah pantulan Tampilan Indah Ilahi yang dipindah kan kepada murid spiritual itu.

Hal ini memungkinkan murid spiritual untuk membiasakan diri dengan Cahaya Gemilang dan Tampilan Indah. Keadaan ini, dalam istilah sufism, disebut ' Menyatu dengan Shaykh’ (Fana fi Shaikh). Cahaya Shaikh dan Tampilan Indah gemilang yang beroperasi dalam diri Shaykh bukanlah ciri pribadi Shaykh. Sebagaimana halnya murid spiritual, yang dengan perhatian dan konsentrasi penuh dedikasi, menyerap (assimilasi) ilmu dan ciri khas Shaykhnya, maka Shaykh juga menyerap ilmu dan busana (ciri = attributes) Nabi (s.a.w.) dengan perhatian dan konsentrasi penuh dedikasi pikiran.

Langkah - 3a
Posisi duduk : Posisi Teratai (yoga Lotus) adalah oke, Wudu Ritual Wudhu adalah kunci sukses. Kapal Nabi Nuh a.s. melawan banjir kebodohan (cuek). Kebersihan adalah dekat dengan iman (ilahiah). Ingat bahwa bukanlah saya yang menghitung bahwa saya adalah bukan apa-apa, saya dan aku harus melebur kedaalm dia. Shaykh ku, Rasul ku , menggiring kepada Rabb ku.

Dhikr dengan penolakan (laa ilaha) dan pembenaran (illa Allah), dalam tradisi Shaykh Naqshbandi, mensyratkan bahwa murid (sang pejalan) menutup matanya, menutup mulutnya, menekan giginya, melekat kan lidahnya ke langit-langit mulutnya, dan menahan (mengatur) napasnya. Dia harus membaca dhikr itu melalui jantungnya, dengan penolakan dan pembenaran, memulainya dengan kata LAA ("Tidak").

Dia mengangkat "Tidak" ini dari titik (dua jari) di bawah pusar kepada otaknya. Ketika mencapai otaknya kata "Tidak" mengeluarkan kata ILAHA ("sesembahan"), bergerak dari otaknya ke bahu Kanan, dan kemudian ke bahu Kiri di mana dia menabrak jantungnya dengan ILALLAH ("kecuali Allah"). Ketika kata itu mengenai jantungnya energi dan panasnya menjalar/ memancar ke sekujur tubuhnya. Sang pejalan yang telah menyangkal semua yang berada di dunia ini dengan kata-kata LAA ILAHA, membenarkan dengan kata-kata ILLALLAH bahwa semua yang ada telah dilenyapkan di Hadhirat Ilahi.

Langkah - 3b
Posisi Mulut dan Lidah
Menutup matanya, Menutup mulutnya, Menekan giginya,
Melekatkan lidahnya pada langit-langit mulutnya, dan menahan napas. { dari saat-ke-saat untuk memperlambat napas dan getaran jantungnya.}

Tangan membawa rahasia yang dahsyat, mereka itu seperti parabola satelit (antene) mu, pastikan bahwa mereka itu bersih dan berada dalam posisi yang semestinya. Jadi ketika kamu memulai dengan tangnmu itu, menggosok-gosoknya, ketika mencucinya dan menggosok gosoknya untuk mengaktifkan mereka, itu adalah tanda dari (angka) 1 dan (angka) 0, dan kamu sedang mengaktifkan proses kode yang diberikan Allah melalui tangan itu. Kamu mengaktifkan mereka.

Mereka memiliki titik sembilan peluru (bullet?) yang terdiri dari keseluruhan sistem, seluruh tubuh. Ketika engkau menggosok jari-jari itu, engkau sesungguhnya mengaktifkan 99 asma-ul’husna Allah.

b)Dengan mengaktifkan mereka engkau mengaktifkan 9 titik dalam tubuhmu.
c)Dan ketika mengaktifkan mereka, itu adalah seperti menghidupkan penerima (pada radio/tv), energi mengalir masuk, itu mulai berfungsi untuk dapat menerima, memecahnya dalam bentuk kode digital yang dipancarkan keluar seperti gambar atau suara sebagaimana kita kenal di zaman ini (radio dan tv).

d)Demikian juga halnya dengan tangan yang saling mengelilingi, itulah mengapa ketika kita menggosok-gosokkan dan membuka mereka, mereka mulai bertindak seperti lingkaran satu terhadap lainnya, menampung apapun energi yang datang, dan mereka ini mengkelola nya . Lihatlah pada bagian Rahasia Tangan ( See Section on Secrets of Hand)

Langkah 4
Posisi Tangan :
Jempol dan telunjuk memperagakan posisi "Allah Hu" untuk kuasa/kekuatan terbesar. Tangan diberi kode dengan kode angka, tangan kanan "18", tangan kiri "81" masing-masing dijumlahkan keduanya menjadi 9 dan dua 9 menjadi 99 . Tangan diberi karakter dengan asma-ul’husna Allah. Dan nama ke 99 dari Rasul adalah Mustafa.(lebih banyak lagi di depan)…..

Lelaku diatas bisa diringkas sbb :
dzikir Jahar --> membaca kalimat laa ilaha ilallah dengan sasaran tembak adalah hati, dan bila sampai pada sasarannya akan terasa panas perih dan pedih dilakukan terus menerus minimal dalam sehari adalah 600, sampai 7 lapis bumi kita mampu mengeluarkan cahaya NURULLAH. dan biasanya akan meningkat sesuai kelipatannya karena adanya dorongan daya TAQWA dan akan bersifat RINDU AKAN SELALU BERDEKATAN DENGAN SANG KHOLIK.

dzikir sirri --> dengan membaca kalimat ALLAH

kedua dzikir ini dilakukan secara serentak bersamaan, kedua dzikir ini akan merubah perilaku manusia dari dalam sejelek apapun tabiatnya asal mau melakukan maka akan berubah karena nurulloh akan terpancarkan didalam 7 lapis bumi masing individu.

bila kedua tata cara ini dilakukan dengan niat nawaitu taqorrub ilallah , maka bersiap-siaplah kita menjelajahi samudera NURULLOH, sampai tiba masa nya " MAHA SUCI ALLAH yg memperjalankan HAMBANYA ........................ "

jadi yg menuntun kita bukan lambang fisik kita tetapi dzikir yg kita lakukan adalah dipakai untuk "madangi lakune URIP ingsun " inilah yg menuntun kita menuju NYA .

Bagaimana meng " NUR " kan bumi kita masing2
manusia yg terdiri 7 lapis merupakan bentuk kecil dari jagat alam ini, didalam diri manusia ada beberapa proses keimanan yg tidak kita sadari ada proses sa'i, ada proses towaf, ada proses Hajar aswat semua ada pd diri manusia dll.

dan manusia sering tertipu dengan kondisi diluar tanpa mengetahui kondisi yg didalam yg diurusi yg diluar tetapi yang didalam ditelantarkan sehingga malah membentuk ibadah MUNAFIK yang didalam tidak sama dengan yg diluar.

manusia yg terdiri dengan 7 lapis diantaranya bulu, kulit, daging, getih, otot balung, dan sumsum. masing2 lapis bumi kita harus bisa memancarkan NUR dengan cara di asmai'i oelh masing2 jiwa / individu dengan kalimat LAA ILAHA ILALLAH.

Dalam proses dzikir jahar tidak sekedar hanya membaca kalimat tauhid tetapi juga berniat diri untuk menulis kalimat laa ilaha ilallah pada masing2 lapis bumi kita sendiri, dengan cara demikian masing2 lapis bumi kita akan bersandar dengan asma ALLAH dan lambat laun maka masing2 bumi kita kan memancarkan nur yg bersumber dari NURULLAH.

dan kalu kita ingin mengenal NURULLAH maka diri kita harus bisa memancarkan nur, dan nur yg kita pancarkan adalah buah dari proses ibadah dzikir kita dengan menanam kalimat laaa ilaha ilallah dan dzikir sirri didalam diri kita masing.

memang awalnya NUR akan terpancarkan hanya bisa meneranggi relung hati kita yg paling dalam, tetapi kalau dilakukan rutin maka akan mengeluarkan ribuan watss yg dapat menggenal NUR=NUR yang laiinya yg terpancarkan dimuka bumi ini.

saat diri kita mampu mengeluarkan NUR maka kita akan merasakan kedekatan dengan sang KHOLIK, dan akan membuat CANDU bagi diri kita akan selalu untuk selalu berdekatan melalui sarana dzikir jahar + dzikir sirri , dari cara dmikian maka akan merubah diri kita dalam tabiat dan tingkah laku sebagai akibat NUR yg terpancarkan didalam.

monggo di coba merubah diri kita dari dalam .................. menjadi manusia lebih baik. lahir dan batin.

banyak orang terpedaya dengan bacaan dan banyak juga beranggapan bahwa kl tidak baca doa yang panjang tidak mantab rasanya, jadinya yg semestinya mudah malah dibuat susah, bahkan ada yg menggunakan bacaan ber lembar2 hanya memenuhi suatu keinginan dan hasrat , jadinya islam kelihatan semakin sulit bagi mereka yg awam.

sedangkan kl kita mampu menanam kalimat laa ilaha ilallah dengan benar maka kretek e hati adalah doa dan pasti mustajabah.

Adalagi yg terhijab dengan bacaan2 sehingga setiap bacaan menampilkan NUR yang berbeda-beda sehingga ada yg bermain2 dengan NUR sampai tak terasa umur sudah semakin tua tetapi tujuan mana yg dituju masih belum tahu beginilah kl berjalan dengan ilmu kadang asyik engan ilmu tujuan kita malah terlupakan.

Adalagi yang mencari bacaan yg paling mustajabah sehingga dengan bacaan tersebut semua hasrat mudah dipenuhi sehingga ada yg mencaoba beberapa bacaan sehingga butuh waktu yg lama sampai ketujuan begiilah bebagai macam pesalik dalam menari nilai2 kebenaran ?

bagaimana NURULLOH terpancarkan NURULLOH akan selalu terpancarkan selama orang mukmin hatinya selalu HIDUP , dan bila hati orang mukmin ini mati maka NURULLOH akan redup dengan sendirinya.

jadi NURULLOH adalah NUR yg BERASHAR ( membekas) sebagai akibat ibadah yg dilakukan oleh seorang mukmin yg bersandar akan kalimat ALLAH.

NUR terpancarkan dimuka bumi ini sangat banyak, dan sumber dari segala sumber NURULLOH adalah kalimat LAA ILAHA ILALLAH.

Kalimat LAA ILAHA ILALLAH terdiri 12 huruf --> ketauhidan -> RUHANI -> 1
Muhammad Rosulullah terdiri 12 huruf --> kemasyarakat -> JASAD /jasmani --> dilambangkan 0

keberadaan nya ada didalam 24 jam yaitu siang dan malam
siang digunakan untuk memenuhi kehidupan jasmani atau jasad

dan malam digunakan untuk MUJAHADAH memenuhi kehidupan RUHANI.

kala ini dilakuan menjadi manusia yg terpuji ( MUHAMMAD ) bukan hanya sekedar bentuk fisik muhammad tetapi muhammad lahir dan batin, yg menuju menjadi INGsan KAMIL ( 10 ) lambang kesempurnaan,.

Penyempurnaan Ruh sesuai nasab masing-masing.
kalau semacam ini terjadi yg bisa mengangkat mereka yg masih hidup terutama anak-anaknya dan perlu perjuangan khusus sesama muslim gak berat karena membutuhkan laku khusus yaitu dzikir fida'ul 'asghor ( nih kl ndak salah tulis ) dosa yg berkaitan dengan ibadah-ibadah yg syirik ( terutama syirik khofi / syirik yg halus ) dan satu dzikir yg berkaitan hub dengan sesama mahluk yaitu bacaan qulhu ( suraotul ihlas ) 100 rb --> tenpo hanya setahun ( setahun harus kelar


makanya sebelum kita koit kita harus mempersiapkan diri yg berkaitan dengan kematian yaitu :
- dzikir fida'aul 'asghor --> dzikir ini digunakan ibadah yg kita timbulkan yg berkaitan dengan syirik terutama syirik khofi dlm berkaitan hub dengan allah ( ibadah dengan Allah )--> juga ada hadistnya

- dzikir surotul ihlas - 100 rb X selama setahun
yg ini pun ada hadistnya kang cuma bukunya agak laaama.

dan salah satu tugas seorang anak ya itu me ROJIUNKAN orang tua, nih kl sampeyan melewati lelaku perjalanan mi'roj akan ditunjukkan saudara kita2 yg telah meninggal ? dan mereka akan meminta pertolongan doa kepada sampeyan ?

Salah bentuk pengabdian kita kepada orang TUA bayangkan kita punya orang tua 2 bagaiana berat kita untuk me ROJIUNKAN mereka sebagai dharma bakti seorang anak.

Al-Fatihah (Pembuka, Pintu, dll)



Hijab 1 Niat (Ayat 1), pembuka Cakra 1, latifah 1, bumi 1 dan langit 1
Niat harus tulus karena Niat segala pangkal Ibadah, Muamalah dan Ilmu. Kenapa Niat??? karena "Dengan Nama/Asma' ALLOH" berarti komitmen kita terhadap segala hal adalah untuk 1 tujuan ALLOH Robbul'alamiin.

Kenapa Tulus??? karena di dalam "rasa" Tulus ada "rasa" Kasih dan Sayang hanya kepada-NYA....

Hijab 2 Pujian (Ayat 2), pembuka Cakra 2, latifah 2, bumi 2, dan langit 2

Manusia senang dipuji bila mempunyai kelebihan atas yg lain dan memuji bila menginginkan sesuatu.... Namun itu semua memalingkan kita dari yang seharusnya kita puja dan puji secara terus-menerus dalam batin... bukan hanya qouli/kata saja tetapi batinnya memuji DIA Yang Maha Agung....

Hijab 3 Cinta (Ayat 3), pembuka Cakra 3, Latifah 3, bumi 3, dan langit 3
Kasih Sayang terlebur dalam Cinta.... namun sering berpaling pada Dunia, Langit-NYA, Akherat-NYA dan makhluk-NYA.... Cintailah DIA setelus hati.... Jangan dipaksakan... Biarkan DIA menyentuh Cinta kita melalui perbuatan-NYA di kehidupan kita....

Hijab 4 Kuasa (Ayat 4), pembuka Cakra 4, Latifah 4, bumi 4, dan langit 4

Kuasa itulah "rasa" manusia yg terikat oleh dunia.... namun ketika "rasa" itu dikembalikan kepada-NYA karena "rasa" Kuasa itu hanya milik-NYA sedang kita hanya wayang bukan dalang.... biarkan "rasa" Kuasa-NYA menyelimuti hidup kita....

Hijab 5 Penggantungan Diri (Ayat 5), pembuka Cakra 5, Latifah 5, bumi 5, dan langit 5(Ayat 5)
Penggantungan diri kita sering kita gantungkan pada milik-NYA.... bukan pada DIA.... sehingga yang menggerakkan kita bukan AKU tetapi aku/nafsu/ke-aku-an.... jika penggantungan diri ini sudah kita pasrahkan... Maka Fa Insya Alloh pertolongan-NYA akan datang dalam kehidupan kita....

Hijab 6 Petunjuk (Ayat 6), pembuka Cakra 6, Latifah 6, Bumi 6 dan Langit 6

Petunjuk menuju jalan yang lurus ini sering kita lupakan.... sedang petunjuk-NYA ada pada hal-hal baik yang kasar maupun yang halus dan datang pada kita baik disengaja maupun tak terduga itulah petunjuk-NYA...

karena mereka semua digerakkan oleh Dalang untuk menunjukkan jalan pada kita....

Hijab 7 Nikmat (Ayat 7), pembuka Cakra 7, Latifah 7 Bumi 7 dan Langit 7
Rasa Nikmat ini mencakup t(sensor)t/baitul muqoddas, hati/baitul muharrom, pikiran/baitul makmur. Apapun "rasa" diketiga tempat itu mari kita "nikmati".... plus maupun minus mari kita nikmati... karena menuju yang 1 diperlukan "rasa" Nikmat, tanpa keluh kesah dan mengeluh.... Mengapa???? karena pahit getir manis lezat sentuhan-NYA terasa Nikmat.... Agar kita tidak menjadi yang dimurkai karena tidak butuh DIA dan yang disesatkan karena mengaku sebagai AKU padahal nafs-nya sendiri yang mengaku-aku sebagai AKU.....

Setelah tebuka semua maka Jur....... (hati-hati masa transisi) lan Gung......

kalau ada yang salah mohon koreksi...

Tuesday, December 28, 2010

Hati-Hati Menuliskan Wallahu A’lam



PENULIS artikel keagamaan (Islam) atau media Islam lazimnya mengakhiri tulisan dengan kalimat Wallahu a’lam (artinya: “Dan Allah lebih tahu atau Yang Mahatahu/Maha Mengetahui). Sering ditambah dengan bish-shwabi. menjadi Wallahu a’lam bish-shawabi.

Hal itu untuk menunjukkan, Allah Swt-lah yang mahatahu atau lebih tahu segala sesuatu dari kita. Hanya Allah yang Mahabenar dan Pemilik Kebenaran mutlak. Kebenaran yang kita tuliskan itu relatif, nisbi, karena kita manusia tempat salah dan lupa.

Namun coba perhatikan, banyak yang keliru dalam penulisannya, yaitu dalam penempatan koma di atas (‘).Catatan: sebutan “koma di atas” untuk tanda baca demikian sebenarnya tidak tepat, tapi disebut “tanda petik tunggal” juga tidak tepat karena petik tunggal itu begini ‘…’ dan bukan pula “apostrof” (tanda penyingkat untuk menjukkan penghilangan bagian kata) karena dalam kata itu tidak ada kata yang dihilangkan/disingkat. Kita sepakati aja deh ya, namanya “koma di atas”.

Penulisan yang benar, jika yang dimaksud “Dan Allah Mahatahu” adalah Wallahu a’lam (tanda koma di atas [‘] setelah huruf “a” atau sebelum huruf “l”). Tapi sangat sering kita jumpai penulisannya begini: Wallahu ‘alam (koma di atas [‘] sebelum huruf “a”).

Jelas, Wallahu a’lam dan Wallahu ‘alam berbeda makna. Yang pertama (Wallahu a’lam) artinya “Dan Allah Mahatahu/Maha Mengetahui atau Lebih Tahu”. Yang kedua (Wallahu ‘alam) artinya “Dan Allah itu alam”, bahkan tidak jelas apa arti ‘alam di situ? Kalau ‘alamin atau ‘aalamin, jelas artinya alam, seperti dalam bacaan hamdalah –alhamdulillahi robbil ‘alamin.

Jadi, kalau yang kita maksud itu “Dan Allah Mahatahu”, maka penulisan yang benar adalah Wallahu a’lam, bukan Wallahu ‘alam.

Mari kita bedah. Eh, tunggu dulu… Saya bukan ahli bahasa Arab nih, cuma tahu dikit banget. Yang jago bahasa Arab, mohon koreksinya ya…

A’lam itu asal katanya ‘alima artinya tahu. Dari kata dasar ‘alima itu kemudian terbentuk kata ‘ilman (isim mashdar, artinya ilmu/pengetahuan), ‘alimun (fa’il/pelaku, yakni orang yang berilmu), ma’lumun (pemberitahuan, maklumat), dan sebagainya, termasuk a’lamu/a’lam (lebih tahu).

Tanda petik tunggal atau koma di atas (‘) dalam a’lam itu transliterasi bahasa Indonesia untuk huruf ‘ain dalam bahasa Arab (seperti Jum’ah, Ka’bah, Bid’ah, Ma’ruf, dan sebagainya). Kata a’lam artinya “lebih tahu”. Jadi, kian jelas ‘kan, penulisan yang benar: Wallahu a’lam, bukan Wallahu ‘alam.

Tentu, kesalahan penulisan itu tidak disengaja, salah kaprah aja alias kesalahan yang sering dilakukan, secara sadar atau tidak sadar, merasa benar –padahal salah—karena tidak ada yang mengoreksi. Saya yakin, maksudnya Wallahu a’lam, “Dan Allah Mahatahu”. Wasalam.

Saturday, December 11, 2010

Ismul A'zham Sebagai Wasilah untuk Mencapai Hajat

Dalam kitabnya ‘Al-Kalim Ath-Thayyib’ Sayyid Alikhan Asy-Syirazi (ra) mengatakan: Ismul A'zham, nama Allah yang paling agung, adalah nama Allah yang dimulai dengan lafazh "Allah" dan diakhiri dengan kata "Huwa", dan pada huruf-hurufnya tidak ada huruf manqûth (yang bertitik), tidak berubah bacaannya, baik yang bisa dii'rab maupun yang tidak bisa dii'rab. Ismul A'zham terdapat di dalam Al-Qur'an, dalam lima ayat dan lima surat. Yaitu dalam surat Al-Baqarah, Ali-Imran, An-Nisa', Thaha, dan At-Taghabun.

Syeikh Al-Maghrabi mengatakan: Barangsiapa yang menjadikan wirid lima ayat tersebut, dan mengulang-ulang setiap hari sebanyak sebelas kali, Allah akan segera memberi kemudahan baginya dalam segala urusannya, urusan dunia dan akhirat. Lima ayat tersebut adalah:

Pertama: Al-Baqarah, ayat ke 255 (Ayat Kursi):
اَللهُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ هُوَ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ. لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَنَوْمٌ. لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلاَرْضِ. مَنْ ذَاالَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ. يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ. وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْئٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَاشَآءَ. وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ. وَلاَيَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا. وَهُوَ اْلعَلِيُّ الْعَظِيْمُ.
Allâhu lâilâha illâ Huwal Hayyul Qayyûm. Lâ ta’khudzuhu sinatuw wa lâ naum. Lahû mâ fis samâwâti wa mâ fil ardhi. Man dzal ladzî yasyfa‘u ‘indahu illâ biidznih. Ya‘lamu mâ bayna aydîhim. Wa mâ khalfahum wa lâ yuhîthûna bisyay-im min ‘ilmihi illâ bimâsyâ’. Wasi‘a kursiyyuhus samâwâti wal ardhi. Wa lâ yu’duhû hifzhuhumâ. Wa Huwal ‘Aliyyul ‘Azhîm.

Kedua: Surat Ali-Imran, ayat ke 1 (dibaca sampai kalimat "wa anzalan Furqân"):
اَللهُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ هُوَ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ واَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالاِْنْجِيلَ مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَاَنْزَلَ الْفُرْقَانَ.
Allâhu lâilâha illâ Huwal Hayyul Qayyûm, nazzala 'alaykal kitâba bil-haqqi mushaddiqal lima bayna yadayhi, wa anzalat tawrâta wal-injîla min qablu hudal linnâsi wa anzalan furqân.
Allah tiada Tuhan kecuali Dia Yang Hidup dan Maha Mengawasi. Dialah yang menurunkan Al-Qur'an dengan sebenarnya, membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya; Dialah yang menurunkan Taurat dan Injil sebelum Al-Qur'an sebagai pentunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Qur'an.

Ketiga: Surat An-Nisa’, ayat ke 87:
اَللهُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لاَ رَيْبَ فِيهِ وَمَنْ اَصْدَقُ مِنَ اللهِ حَدِيثاً.
Allâhu lâilâha illâ Huwa layajma'annakum ilâ yawmil qiyâmati lâ rayba fîhi wa man ashdaqu minallâhi hadîtsâ.
Allah tiada Tuhan kecuali Dia, sungguh Dia akan mengumpulkan kalian pada hari kiamat yang tiada keraguan di dalamnya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya daripada Allah.

Keempat: Surat Thaha, ayat ke 8:
اَللهُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ هُوَ لَهُ الاَْسْماءُ الْحُسْنى.
Allâhu lâilâha illâ Huwa lahul asmâul husnâ.
Allah tiada Tuhan kecuali Dia, Dialah yang memiliki nama-nama yang terbaik.

Kelima: Surat At-Taghabun, ayat 13:
اَللهُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ.
Allâhu lâilâha illâ Huwa wa 'alallâhi falyatawakkalil mu'minûn.
Allah tiada Tuhan kecuali Dia, dan hanya kepada Allah orang-orang mukmin bertawakkal.
(Dikutip dari kitab Mafatiful Jinan: 107)

Wednesday, August 25, 2010

Sujud (Arti Gerak, Kalimat, dan Makna)

SUBHANA ROBBIYAL 'ALA WABIHAMDIH

"Sujud" adalah tempat terdekat dengan Allah
Sudahkah kita "sujud selalu" seumur hidup?
Posisi kepala yng di dalamnya terdapat logika dan ego di mana, waktu sujud...
Posisi dada yang di dalamnya terdapat jantung yang secara abstrak qolbu kita dimana waktu sujud...
dan di atasnya lagi ada siapa...
makna tersirat apakah yang muncul ketika kita sujud dalam sholat...

saat kita sujud (merendah kan diri) sembari mengakui ketinggianNya dlm kalimat
subhana rabbiyal a'la wabihamdih

***************

Sujud dlm arti hakikat itu adalah:

Sujudnya badan / jasad kpd bathin
sujudnya zhahir (prilaku) kpd bathin (ilmu)
sujudnya nafsu luamah, amarah kpd supiah yg telah menyatu dgn mutmainah
atau dgn kata lain tunduknya tanah air api udara kpd bathin (ilmu/Quran/pancer)

Al-Quran itu hakikatnya Ilmu
sehingga terealisasi keselarasan antara zhahir (prilaku) dgn bathin (ilmu) dan berdampak positif bagi diri sendiri maupun sekitarnya (Buahnya akhlaqul karimah)
tunduk badan kpd bathin maka hilanglah sebab musabab dlm segala gerak ap'almu,asmamu, dan sifatmu, ini artinya sujud dlm hakikat

laksanakan perintahKU, janganlah sekali-kali kita sombong atas apa yg telah AKU karuniakan kpdmu.merendahlah kepada-KU dan kepada sesamamu
sedangkan sujud yg 5 Waktu sehari semalam itu adalah bukti nyata tunduknya jasad ntuh, makanya kadang shalat kaga berbuah nahi munkar bagi diri karena jasadnya blum tunduk kepada bathinnya sendiri

Rasul itu = Nur, Nur itu=Ilmu, ilmu Itu=Ayat-ayat Allah/Quran.
makanya rasulullah juga disebut Quran hidup/quran yg berjalan

Perilaku Manusia dalam Dzikir Tauhid

Ibnu Athaillah As Sakandary: Manusia terbagi menjadi tiga kelompok dalam bertauhid dan berdzikir : Kelompok pertama, adalah kalangan umum, yaitu kalangan pemula. Maka tauhidnya adalah bersifat lisan (oratif) belaka, baik dalam ungkapan, wacana, akidahnya, dan keikhlasan, melalui Cahaya Syahadat Tauhid, ”Laa Ilaaha Illallah Muhamadur Rasululullah”. Ini diklasifikasikan tahap Islam. Kelompok kedua, kalangan Khusus Menengah, yaitu Tauhid Qalbu, baik dalam apresiasi, kinerja qalbu maupun akidah, serta keikhlasannya. Inilah disebut tahap Iman. Khususul Khusus, yaitu Tauhidnya akal, baik melalui pandangan nyata, yaqin dan penyaksian (musyahadah) kepadaNya. Inilah Tahap Ihsan.


MAQOMAT DZIKIR
Dzikir mempunyai tiga tahap (maqomat) :

1. Dzikir melalui Lisan : Yaitu dzikir bagi umumnya makhluk.
2. Dzikir melalui Qalbu : Yaitu dzikir bagi kalangan khusus dari orang beriman.
3. Dzikir melalui Ruh : Yaitu dzikir bagai kalangan lebih khusus, yakni dzikirnya kaum ‘arifin melalui fana’nya atas dzikirnya sendiri dan lebih menyaksikan pada Yang Maha Didzikiri serta anugerahnya apada mereka.


PERILAKU DZIKIR "ALLAH"
Bagi pendzikir Ismul Mufrad “Allah” ada tiga kondisi ruhani:

1. Kondisi Remuk Redam dan Fana'
Remuk redam dan fana’Yaitu dzikir orang yang membatasi pada dzikir “Allah” saja, bukan Asma-asma lain, yang secara khusus dilakukan pada awal mula penempuhan. Ismul Mufrod tersebut dijadikan sebagai munajatnya, lalu mengokohkan manifestasi “Haa’ di dalamnya ketika berdzikir.

Siapa yang mendawamkan (melanggengkannya) maka nuansa lahiriyahnya terfana’kan dan batinnya terhanguskan. Secara lahiriyah ia seperti orang gila, akalnya terhanguskan dan remuk redam, tak satu pun diterima oleh orang. Manusia menghindarinya bahkan ia pun menghindar dari manusia, demi kokohnya remuk redam dirinya sebagai pakaian lahiriahnya. Rahasia Asma “Allah” inilah yang hanya disebut. Bila menyebutkan sifat Uluhiyah, maka tak satu pun manusia mampu menyifatinya. Ia tidak menetapi suatu tempat, yang bisa berhubungan dengan jiwa seseorang, walau di tengah khalayak publik, sebagaimana firman Allah swt :
“Tidak ada lagi pertalian nasab diantara mereka di hari itu dan tidak ada pula saling bertanya.” (Al-Mu’minun: 101)

Sedangkan kondisi batinnya seperti mayat yang fana, karena dzat dan sifatnya diam belaka. Diam pula dari segala kecondongan dirinya maupun kebiasaan sehari-harinya, disamping anggota tubuhnya lunglai, hatinya yang tunduk dan khusyu’.

Sebagaimana firmanNya :
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (Al-Muzammil: 5)
“Dan kamu lihat bumi ini kering, dan apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah, dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumjbuhan yang indah.” (Al-Hajj : 5)

2. Kondisi Hidup dan Baqo’.
Dari kondisi hidup dan abadi (baqo’), yaitu manakala orang yang berdzikir dengan Ismul Mufrod “Allah” tadi mencapai hakikatnya, kokoh dan melunakkan dirinya, maka simbol-simbilnya dan sifat-sifatnya terhanguskan.
Allah meniupkan Ruh Ridlo setelah “kematian ikhtiar dan hasrat kehendaknya”. Ia telah fana’ dari hasrat kebiasaan diri dan syahwatnya, dan telah keluar dari sifat-sifat tercelanya, lalu berpindah (transformasi) dari kondisi remuk redam nan fana’ menuju kondisi hidup dan baqo’. Kondisi tersebut menimbulkan nuansa kharismatik dan kehebatan dalam semesta, dimana segalanya takut, mengagungkan dan metrasa hina dihadapan hamba itu bahkan semesta meraih berkah kehadirannya.

3. Kondisi Nikmat dan Ridho
Kondisi Nikmat dan Ridlo, maka bagi orang yang mendzikirkan “Allah” pada kondisi ini senantiasa mengagungkan apa pun perintah Allah swt, jiwanya dipenuhi rasa kasih sayang terhadap sesame makhluk Allah Ta’ala, tidak lagi sembunyi-sembunyi dalam mengajak manusia menuju agama Allah swt. Dari jiwanya terhampar luas bersama Allah swt, hanya bagi Allah swt.

Rahmat Allah swt meliputi keleluasaannya, dan tak satu pun makhluk mempengaruhinya, bahkan atak ada sesuatu yang tersisa kecuali melalui jalan izin Allah swt. Ia telah berpindah dari kondisi ruhani hidup dan baqo’, menuju kondisi nikmat dan ridlo, hidup dengan kehidupan yang penuh limpahan nikmat selamanya, mulia, segar dan penuh ridloNya. Tak sedikit pun ada kekeruhan maupun perubahan. Selamat, lurus dan mandiri dalam kondisi ruhaninya, aman dan tenteram.

Sebegitu kokohnya, ia bagaikan hujan deras yang menyirami kegersangan makhluk, dimana pun ia berada, maka tumbuhlah dan suburlah jiwa-jiwa makhluk karenanya. Hingga ia raih kenikmatan dan ridlo bersama Allah Ta’ala, dan Allah pun meridloinya. Allah swt berfirman :
“Kemudian Kami bangkitkan dalam kehidupan makhluk (berbentuk) lain, maka Maha Berkah Allah sebagai Sebagus-bagus Pencipta” (Al-Mu’minun: 14)

Suatu hari seorang Sufi sedang berada di tengah majlisnya Asy-Syibly, tiba-tiba berteriak, “Allah!” Asy-Syibly menimpali, “Apa-apaan ini! Kalau kamu memang jujur, maka kamu masyhur (di langit), jika kamu dusta, kamu benar-benar hancur!”.

Seorang lelaki juga berteriak di hadapan Abul Qasim al-Junayd ra, dan Al-Junayd berkomentar, “Saudaraku Bila yang anda sebut itu menyaksikanmu dan anda pun hadir bersamaNya, berarti engkau telah mengoyak tirai dan kehormatan, dan mendapatkan kecemburuan aroma pecinta yang diberikan. Namun jika anda mengingatNya, sedangkan anda ghaib dariNya, maka menyebut yang ghaib (tidak hadir) berarti menggunjing. Padahal menggunjing itu haram.”
Dikisahkan dari Abul Hasan ats-Tasury ra, ketika beliau berada di rumahnya selama tujuh hari tidak makan dan tidak minum serta tidak tidur, ia tetap terus menerus menyebut Allah…Allah…

Kisah ini disampaikan kepada Al-Junayd atas tingkah lakunya itu. “Apakah dia menjaga kewajiban waktunya?” Tanya al-Junayd. “Dia tetap sholat tetap pada waktunya.” “Alhamdulillah, Allah yang menjaga-Nya, dan tidak memberikan jalan kepada syetan padanya.” Kata al-Junayd.

Kemudian al-Junayd berkata kepada para santri-santrinya, “Ayo kalian semua berdiri dan mendatanginya, mungkin kita bisa memberi manfaat padanya atau sebaliknya kita mengambil faedah darinya.”

Ketika al-Junayd masuk di hadapannya, al-Junayd berkata, “Wahai Abul Hasan, apakah ucapanmu Allah..Allah..itu bersama Allah (Billah) atau bersama dirimu sendiri? Bila engkau mengucapkan bersama Allah, maka bukan andalah yang mengucapkannya. Karena Dialah yang berkalam melalui lisan hambaNya. Sang Pendzikir adalah diriNya bersama DiriNya. Namun bila yang menyebut tadi adalah dirimu bersama dirimu, sedangkan anda juga bersama dirimu sendiri, maka apalah artinya remuk redam.”

“Engkaulah sebaik-baik sang pendidik wahai Ustadz,” kata Ats-Tsaury. Dan rasa gelisah remuk redamnya tiba-tiba hilang.

Dan aku remuk redam bersamamu karena mengenangmu
Dan benar atas kebaikan yang melimpah dengan kenangnanmu
Dan fana bersasmamu penuh keasyikan.
Siapa yang tak pernah merindu pada cinta
Asmara yang mengalahkan akalnya
Demi umurku sungguh ia celaka.
Tak ada dzikir melainkan tenggelam sirna dengan dzikirnya dari merasa berdzikir
Hanya kepada Yang Diingatlah yang terkenang
Dalam fana dan pertemuan
Siapa yang masih ada akalnya, ia tak akan pernah berdzikir
Siapa yang hilang dari dzikir, maka benarlah ia telah membubung kepadaNya


Dzikir itu sendiri merupakan pembersihan dari kealpaan dan kelupaan, melalui pelanggengan hadirnya qalbu dan keikhlasan dzikir lisan, disertai memandangNya, dariNya. Sang Tuanlah yang mengalurkan ucapan dzikir melalui lisan hambaNya. Dikatakan, Dzikir adalah keluar dari medan kealpaan menuju padang musyahadah (penyaksian kepadaNya).

Hakikat dzikir adalah mengkonsentrasikan Yang didzikir, dengan sirrnya si pendzikir dari dzikirnya, dan fananya si pendzikir dalam musayahadah dan kehadiran jiwa, sehingga ia tidak terhilangkan dirinya melalui musyahadah kepadaNya di dalam musyahadahnya. Maka si pendzikir menyaksikan Allah bersama Allah, sehingga Allah lah Yang Berdzikir dan Yang Didzikir.

Maka dari segi kemudahan dariNya untuk si hamba, dan keleluasaan untuk berdzikir melalui lisannya, maka Dialah Yang Berdzikir kepadahambaNya, lalu segala yang disebutnya adalah dari-Nya. Dari segi intuisi awal yang dating dariNya, maka Dialah Yang Berdzikir pada DiriNya melalui lisan hambaNya. Sebagaimana riwayat hadits shahih disebutkan, bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Akulah pendengaran yang dengannya ia mendengar, dan Akulah penghlihatan yang dengannya ia melihat, dan Akulah lisannya yang dengannya ia bicara.”

Dalam riwayat lain juga disebutkan, “Maka Akulah pendengaran, penglihatan, lisan, tangan dan penguat baginya.”

Sholat Sebagai Mi'raj nya Orang Beriman

Dalam agama Islam, kita mengenal konsep Trilogi Iman, Islam dan Ihsan. Ketiga kosep tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Shalat merupakan bagian dari rukun Islam yang sangat penting untuk dikaji dan dilaksanakan oleh umat Islam. Kata “shalat” merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang artinya hubungan. Ketika kita melakukan shalat, maka kita sebenarnya sedang melakukan hubungan langsung dengan Allah. Ketika seorang mengawali ibadah shalat dengan “Takbiratul Ihram” (Takbir Larangan), ruhani bergerak menemui Allah, terlepas dari belengu hawa nafsu karena panca indra menutup diri dari segala macam peristiwa di sekitarnya.

Dalam shalat, seorang pelaku shalat harus memusatkan seluruh perhatian diri kepada Wujud Allah yang merupakan obyek perhatian ruhani untuk kembali dan berserah diri. Kemudian setelah kita telah bertawajuh kepada Allah maka barulah kita dapat berserah diri secara kafah. Kalau kita sudah mencapai kesadaran seperti ini, maka para pelaku shalat tersebut dapat diberi gelar sebagai manusia yang murni (mukhlisin). Dan pada keadaan ini sifat setan dan hawa nafsu tidak mampu menembus alam keikhlasan orang mukmin.

Pada saat kita melakukan gerakan takbiratul ihram (takbir larangan) dalam shalat, maka otomatis seluruh syaraf indra tidak menghantarkan impuls getaran dari panca indra, sebab tujuh pintu hawa nafsu yang ada di kepala tidak difungsikan sehingga ruhani perlahan bergerak meninggalkan keterikatannya dengan badan (syahwat). Neuron-neuron akal berhenti bergerak hingga menjadi Nurun ‘ala Nurin, lalu melesat kembali ke pangkalnya, yaitu Cahaya Allah dan Cahaya Terpuji. Pada saat inilah ruhani berserah diri dan lepas bebas dari pengaruh alam-alam, suara-suara ghaib, dan lain-lainnya.

Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada wajah Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukan termasuk orang yang menyekutukan-Nya.” (QS Al An’am 6 : 79)

Ayat di atas merupakan pernyataan setiap kali kita shalat, bahwa kita menyadari sedang menghadapkan wajah kita dengan Wajah Allah Yang Maha Suci (bertawajuh). Kemudian dilanjutkan dengan penegasan bahwa “shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata-mata hanya untuk Allah semata”. Jika keadaan ini yang terjadi, tak mungkin akal kita berkeliaran tak terkendali mengingat selain Allah. Kita juga tidak mungkin melakukan perbuatan yang melanggar tuntunan Allah.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab dan dirikan shalat. Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan ingkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah dalam (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat lain)………” (QS Al-Ankabut 29 : 45)

Allah memberikan gelar kepada orang yang shalatnya tidak sesuai dengan sumpahnya sebagai shalatnya orang munafik.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka dzikrullah kecuali hanya sedikit sekali.” (QS An Nisa’ 4 : 142)

Ketika melakukan shalat, kita sering mengalami rasa jenuh dan tidak khusyu’, padahal dalam doa iftitah kita telah berikrar bahwa kita sedang menghadapkan wajah kita dengan wajah Allah. Hal ini terjadi dikarenakan kita tidak mengetahui bagaimana cara melakukan Takbiratul Ihram dengan baik.

Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, bahwa “shalat itu adalah mi’raj-nya orang-orang mukmin”. Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah.

Mungkin bagi kita yang awam agak canggung dengan istilah mi’raj, yang hanya kita kenal sebagai peristiwa luar biasa hebat yang pernah dialami Nabi Muhammad Saw dan menghasilkan perintah sebuah shalat. Mengapa Rasullullah mengatakan bahwa shalat merupakan mi’raj-nya orang mu’min? Adakah kaitannya dengan mi’rajnya Rasulullah Saw, karena perintah shalat adalah hasil perjalanan beliau ketika berjumpa dengan Allah di Shidratul Muntaha? Mungkinkah kita bisa melakukan seperti yang dilakukan Rasulullah Saw melalui shalat? Apakah kita bisa bertemu dengan Allah ketika shalat? Begitu mudahkah bertemu dengan Allah? Atau jika jawabannya tidak, mengapa kita diperintahkan untuk shalat? Adakah rahasia dibalik shalat?.

Misteri ini hampir tak terpecahkan, karena kebanyakan orang menanggapi hadits tersebut dengan sikap apriori, dan berkeyakinan bahwa manusia tidak mungkin bertemu dengan Allah di dunia. Akibatnya, kebanyakan orang tak mau pusing mengenai hakikat shalat atau bahkan hanya menganggap shalat sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan tanpa harus memikirkan fungsi dan tujuannya.

Dilain pihak ada peshalat yang telah mengerahkan segenap daya untuk mencapai khusyu’, akan tetapi tetap saja pikiran masih menerawang tidak karuan sehingga tanpa kita sadari sudah keluar dari “kesadaran shalat”. Allah telah mengingatkan hal ini, bahwa banyak orang shalat akan tetapi kesadarannya telah terseret keluar dari keadaan shalat itu sendiri, yaitu bergerser niatnya bukan lagi karena Allah.

“…..Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya.” (QS Al-Ma’un 107 : 4-6)

Pada ayat kelima firman Allah tersebut, didahului oleh kalimat Alladzina (isim mausul) sebagai kata sambung untuk menerangkan kalimat sebelumnya yaitu saahun (orang yang lalai). Celakalah baginya karena dasar perbuatan shalatnya telah bergeser dari “karena Allah” menjadi karena ingin dipuji oleh orang lain (riya)”. Atau, bagi orang yang dalam shalatnya tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhannya sehingga pikirannya melayang liar tanpa kendali. Shalat yang demikian adalah shalat yang shahun. Keadaan tersebut bertentangan dengan firman Allah yang menghendaki shalat sebagai jalan untuk mengingat Allah.
“…maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku…”. (QS Thaha 20 : 14)

“……. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. (QS Al A’raaf 7 : 205)

Inilah rangkaian ayat yang menunjukkan kepada masalah kedalaman ibadah shalat, yaitu untuk mengingat Allah, bukan sekedar membungkuk bersujud dan komat-kamit tiada sadar dengan yang ia lakukan. Shalat yang hanya komat-kamit inilah yang banyak dilakukan selama ini, sehingga sampai sekarang banyak yang tak mampu mencerminkan watak mushallin yang sebenarnya, yaitu tercegah dari perbuatan keji dan ingkar.

“…Janganlah engkau mendekati shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk (tidak sadar)….”. (QS An Nisa 4 : 43)

Kalimat laa taqrabu (janganlah kamu mendekati) mempunyai kandungan maksud bahwa kita dilarang mendekati shalat. Sebagian ulama menggap haram hukumnya jika orang mendekati shalat dalam keadaan tidak sadar. Hal ini dikaitkan dengan kalimat larangan yang juga menggunakan kata laa taqrabu seperti dalam firman Allah, “laa taqraba hadzihisy syajarah, “jangalah engkau dekati pohon ini.” (QS Al Baqarah 2 : 35) dan “laa taqrabul fawaahisya…., “Janganlah engkau dekati perbuatan-perbuatan keji.” (QS Al An’am 6 : 151) serta “Laa taqrabuz zina, “Janganlah engkau mendekati zina.” (QS Al Isra’ 17 : 32 ), Walaa taqrabuu maalal yatiimi, dan janganlah kamu dekati harta anak yatim… (An An’am 6 ayat : 152).

Nahyi (larangan) juga ditujukan kepada para mushalilin agar tidak melakukan shalat jika masih belum sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan Sang Khaliq. Bentuk nahyi (larangan) pada ayat-ayat di atas seperti kata laa taqrabuush shalata (jangan engkau mendekati shalat) dan laa taqrabaa hadzihisy syajarata (jangan kalian mendekati pohon ini) mempunyai sifat yang sama, yaitu larangan untuk mendekati sesuatu (benda) atau perbuatan. Dan itu merupakan syarat mutlak dari Allah. Coba kita renungkan, untuk mendekati saja kita dilarang, apa lagi untuk melakukannya. Jika tetap dilakukan maka Allah akan murka, yang ditunjukkan dengan perkataan yang sangat buruk, yaitu, “maka celakalah orang yang shalat”.

Allah juga memberikan pujian kepada orang-orang mukmin yang khusyu’ dalam shalatnya.

“Sungguh beruntunglah mereka yang beriman yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Al Mukminun 23 : 1-2)

Sungguh amat jelas dalam nash tersebut, bahwa khusyu’ merupakan suatu hal yang sangat penting, dan Allah merespons orang-orang mukmin yang khusyu’ di dalam peribadatannya.

“Katakanlah : “Berimanlah kamu kepada-Nya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka pun menyungkur atas muka mereka sambil bersujud dan mereka berkata “Maha Suci Tuhan kami, sungguh janji Tuhan kami pasti dipenuh”’, Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis, dan mereka bertambah khusyu” (QS Al Isra’ 17 : 107 – 109)

“Ilmu” yang dimaksud ayat di atas adalah ilmu khusyu. Jika ilmu tersebut ada dalam qalbu manusia maka akan bergetar qalbunya, tersungkur atas muka mereka seraya menangis dan mereka bertambah khusyu’, jika ayat-ayat Allah dibacakan. Ayat di atas sekaligus merupakan petunjuk atas tanda iman yang keluar dari qalbu orang-orang yang dimaksud pada ayat-ayat tersebut.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila mengingat Allah gemetarlah qalbu mereka…”. (QS Al Anfaal 8 : 2)

Pengertian khusyu’ ialah lunak dan tawadhu’ qalbunya, merasakan ketenangan, kerinduan, keintiman dan kecintaannya kepada Allah.

Selanjutnya apa yang menjadi penyebab hilangnya ilmu khusyu’ pada zaman kini, Al Quran mengisahkan sebuah zaman yang hampir sama kejadiannya seperti zaman kita, yaitu :

“Dan ceritakan (kisah) Idris di dalam Al-Quran, sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka maka mereka menyungkur dengan sujud dan menangis. “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”. (QS Maryam 19 : 56-59)

Begitulah Al-Quran menyebutkan penyebab dicabutnya ilmu khusyu’, yaitu karena memperturutkan hawa nafsu dan melalaikan shalatnya. Dalam Al Qur’an Allah juga telah menunjukkan jalan bagi yang ingin mendapatkan kekhusyu’an.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka kembali kepada-Nya.” (QS Al Baqarah 2 : 45-46)

Pada ayat pertama tersebut, Allah memberikan penjelasan terhadap kita, bahwa shalat itu memang sangat sulit dan berat, kecuali bagi orang yang khusyu’. Pada ayat berikutnya terdapat kata alladzina yazhunnuuna annahum mulaaquu rabbihim wa annahum ilaihi raajiun, untuk menjelaskan bahwa orang yang khusyu’ adalah yang mempunyai kesadaran rohani (zhan) bahwa dirinya sedang bertemu dengan Tuhannya dan dengan kesadarannya itulah mereka kembali kepada-Nya (berserah diri).

Jika tidak memahami kesadaran bahwa hanya kepada-Nya roh itu kembali, maka perjalanan rohani kita berhenti atau terlena ke dalam ilusi pikiran. Akibatnya pengalaman liqa’ Allah itu tidak ada, padahal pertemuan dengan Allah yang disebutkan di atas terjadi pada waktu sekarang atau sedang berlangsung.

Ada sebagian menterjemahkan bahwa “bertemu Allah” hanya di akhirat kelak. Pendapat ini tidak sesuai dengan kata yang tercantum dalam ayat tersebut. Sebab pada kalimat alladzina yazhununa annahum mulaaquu rabbihim wa annahum ilaihi raajiunn- adalah orang yang (sedang) meyakini atau menyadari bertemu dengan Tuhannya dan kepada-Nya mereka kembali. Kata raaji-unn berasal dari kata raja’a (telah kembali, fi’il madhi), sedang yarji’u (sedang kembali, fiil mudhori’) dan raaji’ (orang yang kembali, isim fail). Raajiuun adalah bentuk jama’ dari kata raaji (orang yang kembali).

Penggunaan isim fail (pelaku atau subjek) pada ayat tersebut menegaskan, bahwa subjek itu melakukan sesuatu pada saat sekarang atau sedang berlangsung, karena didahului kata yadzhunna (adalah bentuk fiil mudhori’), di dalam kitab Al qawaaidul ‘Arabiya, Al muyassarah jilid halam 79, wa huwa fi’lulu alladzi yadullu ‘ala hadatsin fi zamanin haadhir aumutaqbalin, menerangkan waktu zaman (jamanin) hadir au istiqbal yaitu peristiwa yang dilakukan saat sekarang dan akan datang atau kejadian itu sedang berlangsung. Maka bagi orang yang mengartikan bahwa kembali atau bertemu dengan Allah yang dimaksud adalah nanti di akhirat saja, sangatlah tidak masuk akal karena jika pendapatnya demikian akan muncul pertanyaan : jadi selama ini ketika kita shalat menghadap kepada siapa? Di manakah Allah saat kita sedang menyembah-Nya? Bagaimana dengan pernyataan Allah dalam surat Thaha 20 ayat 14 :

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikan shalat untuk mengingat aku.
Begitu jelas bahwa objek (persembahan) ketika shalat adalah Aku, bukan nama-Ku akan tetapi kepada Wujud-Ku.

Sayyid Qutub memberikan penegasan bahwa penggunaan kata “dzan” pada kalimat alladzina yadzunnuuna annhum mulaquu rabbihim dan akar katanya, bukan bermakna “sangkaan” tetapi diartikan keyakinan berjumpa dengan Allah. Arti ini dianggap yang lebih tepat, karena banyak keterangan serupa terdapat di dalam Al Quran maupun dalam kaidah bahasa Arab pada umumnya (Abu Sangkan, 2003).

Salah satu bentuk khusyu’ yang dapat dilihat secara syariat adalah shalat yang tak menengok ke kanan dan ke kiri. Hal itu disebutkan dalam beberapa ayat dan Hadits di bawah ini :

“Maka sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yakin ( mati ) “. (QS Al Hijr 1: 99)


“Ingatlah kematian di dalam sholatmu. Karena sesungguhnya seseorang jika mengingat kematian di dalam sholatnya, niscaya dia akan bermaksud untuk memperbaiki sholatnya. Dan lakukanlah sholat sebagaimana sholat seseorang yang tidak pernah mengira bahwa dia akan dapat melakukan selain sholat yang dilakukannya itu “. (HR Ath Thabrani)

“Jika engkau telah berdiri di dalam sholatmu, maka lakukanlah sholat sebagaimana sholat seorang yang akan meninggalkan dunia “. (HR Ahmad)

“Dari Abu Hurairah : “Rasulullah Saw pernah menoleh ke kanan dan ke kiri dalam shalat, lalu Allah menurunkan firman-Nya : Sungguh beruntung mereka yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Kemudian Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam, shalat dengan khusyu’ dan tidak menoleh ke kanan atau ke kiri”. (HR An Nasai)

“Allah itu tanpa henti memperhatikan shalatnya hamba, selama hamba itu tidak menoleh. Jika hamba itu menoleh, maka Allah mengalihkan pandangan-Nya dari hamba itu.” (Al Hadits)

Rasulullah Saw ketika melakukan shalat selalu dengan tuma’ninah, yaitu sikap tenang atau diam sejenak sehingga beliau dapat menyempurnakan ruku’, I’tidal, sujud dan duduk antara dua sujud dalam shalatnya.

“Apabila kalian melaksanakan shalat maka janganlah terburu-buru dan datangilah shalat tersebut dengan tenang dan penuh hormat.” (HR Bukhari)

Tentang lamanya waktu tuma’ninah kadang Rasulullah Saw melaksanakannya cukup lama.

“Sesungguhnya Anas pernah berkata : Sungguh aku tidak kuasa shalat dengan kamu sebagaimana aku pernah melihat Rasulullah Saw, shalat dengan kami, yaitu apabila mengangkat kepalanya dari ruku’, beliau bediri tegak sehingga orang-orang menduga bahwa beliau lupa, dan apabila mengangkat kepalanya dari sujud, beliau diam sehingga orang-orang menduga bahwa beliau lupa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Aku shalat bersama Rasulullah pada suatu malam : Rasulullah senantiasa berdiri lama sehingga ada perasaan yang tidak baik dalam hatiku. Lalu ditanya oleh beliau. Niat tidak baik apakah yang kamu rasakan? Ketika engkau berdiri lama aku ingin cepat duduk, dan ingin meninggalkan shalat bersamamu”. (HR Bukhari dan Muslim)

Cara untuk memasuki shalat yang khusyu’ dapat di lakukan dengan langkah-langkah berikut ini :

1. Heningkan pikiran dan usahakan tubuh anda rileks. Tak perlu mengkonsentrasikan pikiran karena anda akan merasakan pusing dan lelah.

2. Kemudian rasakan getaran kalbu yang bening dan sambungan rasa itu kepada Allah (biasanya kalau sudah tersambung, suasana sangat hening dan tenang terasa getarannya menyelimuti jiwa dan fisik. Getaran jiwa inilah yang kemudian memendar menjadi Nur yang menyambungkan kepada Allah (Nur Shalah), yang menyebabkan pikiran tidak liar).

3. Bangkitkan kesadaran diri, bahwa anda sedang berhadapan dengan Allah. Sadari bahwa anda akan memuja dan bersembah sujud kepada-Nya serendah-rendahnya, menyerahkan segala apa yang ada pada diri anda.

4. Berniatlah dengan sengaja dan sadar sehingga muncul getaran rasa yang sangat halus dan kuat yang menarik rohani kita meluncur ke Cahaya-Nya, pada saat itulah ucapkan takbir Allahu Akbar, sembari mengangkat tangan untuk mempertemukan jari-jari tangan dengan pasangannya, yaitu tujuh lubang inderawi dikepala. Sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad Saw : “Ketika kami berada di sisi Rasulullah, tiba-tiba beliau bertanya : “Adakah orang asing dianatara kamu, kemudian beliau memerintahkan pintu dututup dan bersabda : Angkatlah tangan kamu” (HR Al Hakim). Saksikan dan nikmati Nur Ilahi dan Nur Muhammad yang terlihat oleh mata Qalbu. Kemudian luruskan niat, sesungguhnya aku menghadap wajah ku kepada Wajah Allah yang menciptakan langit dan bumi, dengan selurus-lurusnya, dan aku bukan termasuk orang yang syirik. Rasakan kelurusan jiwa anda yang terus bergetar menuju Nur Allah dan Nur Muhammad, dan setelah itu menyerahlah secara total dalam “Lautan Cahaya-Nya”. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah semata.

5. Rasakanlah kehadiran Nur Ilahi dan Nur Muhammad yang masih menyelimuti jiwa anda, dan mulailah perlahan-lahan membaca setiap ayat dengan tartil, pastikan anda masih tetap melihat Nur Ilahi dan Nur Muhammad saat membaca ayat-ayat-Nya.

6. Kemudian lakukanlah rukuk, biarkan badan anda membungkuk. Pastikan bahwa roh anda tetap melihat Nur Ilahi dan Nur Muhammad Yang Maha Agung, kemudian secara perlahan-lahan bacalah dengan penuh perasaan hormat subhaana rabbiyal adiimi wabihamdihi. Jika hal ini terjadi seirama antara rohani dengan fisik anda, maka Nur Ilahi dan Nur Muhammad yang tersaksikan akan bertambah Cemerlang dan meliputi diri kita sehingga bertambah kuat pula kekhusyu’an shalat kita.

7. Setelah rukuk, anda berdiri kembali perlahan sambil terus menyaksikan Nur Allah dan Nur Muhammad sambil mengucapkan pujian kepada-Nya Yang Maha Mendengar, samiallahu liman hamidah, kemudian setelah kedua tangan diturunkan ucapan : Rabbana lakal hamdu millussamawati wamil ul ardhi wamil uma syita min syai in ba’du (Ya Allah, kami bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan bumi, sepenuh barang yang Engkau kehendaki). Rasakan keadaan ini sampai rohani anda mengatakannya dengan sebenarnya, dan jangan sedikitpun rasa tersisa dalam diri untuk ingin dipuji.

8. Kemudian secara perlahan dengan tetap melihat Nur Allah dan Nur Muhammad, bersujudlah serendah-rendahnya. Biarkan tubuh Anda bersujud, rasakan sujud anda agak lama. Jangan mengucapkan pujian kepada Allah yang Maha Suci, subhana rabbiyal a’la wabihamdih, sebelum roh dan fisik anda bersatu dalam Cahaya Allah dan Cahaya Muhammad ketika sujud. Biasanya terasa sekali bersatunya rohani dengan Nur Allah dan Nur Muhammad ketika memuji Allah dan akan berpengaruh kepada fisik, menjadi lebih tunduk dan ringan.

9. Selanjutnya lakukanlah shalat seperti di atas dengan perlahan-lahan dan tuma’ninah di setiap gerakan. Jika anda melakukannya dengan benar, maka getaran Nur Ilahi dan Nur Muhammad akan bergerak menuntun fisik anda. Sempurnakan kesadaran “Nur shalah” anda sampai salam.

Anda akan merasakan getaran “Nur shalah” (Cahaya Penghubung) kapan saja, sehingga suasananya menjadi sangat indah dan damai. Dan ketika tiba waktu shalat, “Nur Shalah” itu akan bertambah besar dan merupakan tempat persinggahan jiwa untuk mengisi getaran “Nur Iman” yang diperoleh dari shalat dengan khusyu’. Agar getaran “Nur Iman” itu tidak tertutup lagi ingatlah Wujud Allah yang telah tersaksikan dalam shalat, dalam setiap kesempatan.

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasakan tenang, maka dirikanlah shalat (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS An Nisa’ 4 :103)

Dari pengajian Pelita Hati (Tasawuf)

Misteri Sebuah Gambar



=====================================================================

1. Syariat.
Ini adalah ilmu sama ada ilmu bagi amalan, lahir (feqah) atau ilmu bagi amalan hati (tasawuf). Ini adalah langkah pertama dalam tertib beramal. Ia melibatkan ilmu tentang peraturan, hukum-hakam, halal haram, sah batal dan sebagainya. Ilmu perlu dalam beramal. Tanpa ilmu, kita tidak tahu macam mana hendak beramal mengikut cara yang Tuhan mahu. Kalaupun kita sudah cinta dan takut dengan Tuhan dan kita terdorong untuk menyembah-Nya, kita tidak boleh berbuat demikian ikut sesuka hati kita atau ikut cara yang kita cipta sendiri. Tuhan tidak terima, kita mesti ikut cara yang ditetapkan oleh Islam, kita mesti belajar. Amalan tanpa ilmu itu tertolak. Ilmu atau syariat ini ibarat biji benih.

a. Kurva atas dan bawah : Perjalanan hidup yang naik turun, di atas dan di bawah Lambang kehidupan makhluk , Hidup sejati dari Al-Hayyu harus dijalani susah senang, gembira derita, tawa tangis, Karena hidup perjalanan pada garis waktu ke depan yang tidak bisa mundur. Dan bukan hidup apabila tidak melalui dua pasangan kondisi di atas. Karena dengan gelombang naik turun lah hidup meniti waktu. Tidak ada kekuatan untuk mempertahankan di atas selamanya, dan di bawah selamanya. Jika ada kekuatan seperti itu malah akan melawan alam hidup dan merusak dirinya karena akan lepas dari garis lurus.

b.Garis lurus : Garis hidup, garis waktu, (shirotol mustaqim) Senang susah perjalanan hidup disyukuri dan dinikmati Pada Garis lurus pada tuntunan Ajaran Tuhan sebagai patokan pemandu arah dan pegangan hidup. Sehingga dalam keadaan senang akan dinikmati lalu disyukuri. Begitu pula dalam keadaan derita/susah akan dinikmati lalu disyukuri, tanpa keputus asaan. Apabila lepas dari garis ini maka arah kurva akan hilang karena "hidup" sudah tidak ada dan tidak dapat mencapi tahapan selanjutnya. Apabila tetap pada garis maka kurva kehidupan akan kembali pada garis lurus. Dimana terlahir dimulai pada awal pada garis dan berakhir pada garis pula.

Sebagaimana dicontohkan pada kehidupan Rasul,Nabi, Auliya, semuanya mengalami dinamika turun naiknya kehidupan, namun mereka kokoh pada garis menuju Tuhan. Jadi hidup tidak dapat diteori kan, tetapai dijalani dan dinikmati kemudian disyukuri. :susah dan lapar puasa, ngantuknya bangun subuh untuk sholat, diejeknya berjilbab, bankrutnya usaha, terpilihnya jadi anggota Dewan dsb

c. 3 kurva di atas + 3 kurva di bawah + 1 garis = 7 jalan
3 kurva di atas + 3 kurva di bawah = berpasangan = Perjalanan Hidup Makhluk
1 = Jalan Menuju Tuhan

2.Tariqat.
Ini adalah peringkat menghidupkan ilmu menjadi amalan sama ada amalan lahir maupun amalan hati secara istiqamah dan bersungguh-sungguh. Ilmu (syariat) yang ada perlu dilaksanakan. Ini dinamakan juga tariqat wajib dan ia tidak sama maksudnya dengan tariqat sunat yang mengandungi wirid-wirid dan zikir-zikir yang menjadi amalan sesetengah pengamal-pengamal sufi. Tariqat ini ibarat kita menanam biji benih tadi (syariat) hingga ia bercambah, tumbuh dan menjadi sebatang pokok yang bercabang dan berdaun.

a. Tiga lingkaran :
Tiga lingkaran masing-masing melambangkan 3 alam (dimensi) pada manusia, alam perbuatan, alam fikiran, dan alam hati. Tiga alam ini adalah pada dasarnya memiliki otoritas dalam aktivitasnya. Masing-masing memiliki aktivitas yang menghasilkan sesuatu yang memiliki beban tanggung jawab karena adanya otoritas. Perbuatan akan membuahkan amalan lahir yang menghasilkan buah perbuatan. Pemikiran pun demikian akan menghasilkan buah pemikiran yang harus dipertanggung jawabkan juga demikian berlaku untuk hati. Karena memiliki otoritas (kewenangan) dari 3 alam tadi maka masing-masing dapat beresiko tidak terkendali. Apabila berjalan tanpa kendali, berjalan masing-masing maka tibalah pada tahap kebingungan yang akan kotraproduktif, merusak diri, merusak masyarakat, dan lingkungan akhirnya rusaklah "hidup"nya dan semakin jauh dari TuhanNya. Seakan lepas dari ikatan masing-masing berjalan sendiri-sendiri sehingga yang ada kehampaan jiwa, kekosongan hati, kesia-sia an aml perbuatan.

Untuk itu masing-masing alam harus mampu terkoordinasi dalam garis lurus menuju Tuhan sebagai kendali acuan masing-masing sehingga berjalan seiring, harmonis dan seimbang. Yaitu berada dalam kesadaran nilai2 Ketuhanan pada alam perbuatan, alam fikiran dan alam hati.

Lalu para Auliya memiliki berbagai metode pengendalian 3 alam tadi untuk melakukan upaya-upaya keras, konsisten agar 3 alam tadi bergerak sinkron, harmonis, seimbang dalam ikatan tali garis lurus menuju Allah. Masing-masing metode memiliki karakter yang berbeda disesuaikan dengan sifat dasar individu. Macam-macam metode yang diformulasikan dalam bentuk amalan dzikir, doa dan amalan khusus lainnya. Thoreqot itu jalan / metode/prosedur yang telah disahkan dengan menunjuk keberhasilan dari pembawanya (Auliya). Untuk menjalani metode ini harus dibimbing oleh tutor (mursyid) yang akan menilai kemampuan, membimbing hingga tahap selanjutnya. Sebagaimana dalam Budha pun sebelum menjadi biksu para biksu senior menilai dulu sifat, karakter, dan karma yang dibawa (masalah genetik lahir batin) sebelum melalui pendidikan biksu.

b. Lingkaran :
Pada tahap ini sudah tidak ada gejolak naik turun kurva lagi, namun segala sesuatu kejadian sudah dilihat secara utuh baik sisi putih dan sisi gelap. Jadi akan selalu diambil nilai prositif dari putih maupun hitam. Seluruh penilaian seakan melihat dari atas ke bawah, melihat seluruh kejadian secara terintegrasi tidak parsial setengah lingkaran dan berada tanpa larut dalam kejadian itu sendiri (kejadian pada alam perbuatan, alam fikiran dan alam hati) (titik tengah lingkaran bersentuhan dengan garis lurus). Dalam objektifitas /kejujuran/ kemurnian/ dengan mengacu pada penilaian positif kepada Tuhan secara konsisten. Sehingga akan dicapai pengenalan mendalam tentang "hidup".

3.Hakikat.
Hakikat adalah buah. Selepas kita ada syariat, kemudian kita amalkan syariat itu hingga ia naik ke peringkat tariqat, yakni ia menjadi sebatang pokok yang bercabang dan berdaun, maka kalau cukup syarat-syaratnya maka pokok itu akan menghasilkan buah. Buah tariqat adalah akhlak dan peningkatan peringkat nafsu atau pencapaian maqam-maqam mahmudah. Boleh jadi ia menghasilkan maqam sabar , maqam redha , maqam tawakkal , maqam tawadhuk , maqam syukur dan berbagai-bagai maqam lagi. Boleh jadi hanya terhasil satu maqam sahaja (sebiji buah sahaja) atau boleh jadi akan terhasil beberapa maqam yang berbeda dari satu pokok yang sama. Hakikat adalah perubahan jiwa atau perubahan peringkat nafsu hasil dari syariat dan tariqat yang dibuat dengan faham dan dihayati.

4.Makrifat .
Ini adalah hasil dari hakikat, iaitu hal-hal hakikat yang dapat dirasai secara istiqamah. Ia adalah satu tahap kemajuan rohaniah yang tertinggi hingga dapat benar-benar mengenal Allah dan rahsia-rahsia- Nya. Orang yang sudah sampai ke tahap ini digelar Al Arifbillah.
====================================================================

Kalau di-IBARAT-kan dengan Urusan MAKANAN, maka :

1).SYARI'AT itu.............MENGHAFAL Resep Makanan.
....(TIDAK pernah MEMAKAN semua makanan yang dihafal)
....(Hanya sampai batas meng-HAFAL saja,
....tapi TIDAK pernah me-MAKAN).
.
.
2).THORIQOT itu...........PERJALANAN Makanan dari PIRING
.........................................ke MULUT kita.
....(Kalau Makanan TETAP di Piring....kapan MAKAN-nya?).
.
.
3).HAQIQAT itu.............MEMAKAN (me-RASA-kan) Makanan.
....(Me-RASA-kan NIKMAT-nya).
.
.
4).MA'RIFAT itu.............MENELAN MAKANAN.
.
.
.
.
.
.
Orang2 yang berkecimpung HANYA di Syari'at saja;
Mereka HAFAL semua RESEP Makanan;
Tetapi BELUM pernah memakan Makanan satupun
yang daftarnya tercantum di tumpukan resep2 itu.
.
Padahal NIKMAT itu...barulah bisa diperoleh pada saat MEMAKAN;
BUKAN pada saat Menghafal Resep2.
.
.
Oleh sebab itu diperlukan PERJALANAN (THORIQOT)
agar Makanan bisa sampai di Mulut;
agar bisa merasakan NIKMAT dengan cara MEMAKAN (HAQIQAT).
dan MENELAN (MA'RIFAT).

Martabat Tujuh

Ajaran Martabat Tujuh, dipercayai dipeloporkan oleh seorang sufi master dari India yang namanya disebut Ibnu Fadillah (tanpa tahu tarikhnya). Ajaran tersebut memang berkembang luas di India hingga ke hari ini dan menebar terus ke alam nusantara semenjak di zaman kemuncak Wali Songo. Namun difahamkan melalui susulan sejarah, Ibnu Fadillah, bukanlah satu-satunya tokoh sufi yang memulai ajaran Martabat Tujuh, beliau sekadar memperkembangkan inti ajaran tersebut di India dan adalah difahamkan ajaran Martabat Tujuh sebenarnya bermula daripada pengajaran thariqah Sultan Auliya' Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani.

Bukti ini bisa kita dapati menerusi beberapa buah tangan kitab Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani sendiri seperti Sirrul Asrar, Futuh Al-Ghaib, Fath Al-Rabbani dan sebagainya lagi. Di zaman hayat Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, nama Martabat Tujuh belum lagi dikenal pasti.

Martabat Tujuh berdasarkan dari sunnah Nabi saw, yaitu sewaktu Nabi saw miraj kelangit ketujuh, sampai ke Sidratul Muntaha dan kemudiannya menemui dan melihat Allah secara langsung. Ajaran Martabat Tujuh ini, inti atau dasarnya lebih tepat dikenali sebagai Kesatuan Penglihatan, karena ketika Nabi saw dikatakan sedang menemui Allah, Nabi saw menyaksikan sendiri Wajah Allah, dengan artikata lain bukan 'bersatu dengan Allah' sebagaimana yang didoktrinkan pula oleh ajaran Kesatuan Wujud. Justru dalam keadaan melihat Allah, makhluk tetap makhluk, dan Khaliq tetap Khaliq. Ibarat air dalam gelas, walaupun tampak serupa, akan tetapi air tetap air, gelas tetap gelas.

Ada hadis meriwayatkan, ketika ditanyai oleh para sahabat, "Bagaimanakah keadaan ketika engkau melihat Allah, wahai Rasulullah?"

Nabi saw menjawab, "Aku tidak tahu di mana aku berada."

Di zaman Wali Songo, ajaran Martabat Tujuh itu tidak diajarkan sembarangan kepada orang awam, atau di majlis taklim yang terbuka, melainkan kepada murid-murid tertentu yang sudah cukup mendalami ilmu syari'at, usuluddin serta sudah bisa membaca Al-Qur'an. Dikhuwatirkan sebagaimana terjadi peristiwa di zaman Nabi saw, banyak umat Islam yang murtad kerana tidak dapat menerima kebenaran Nabi saw mikraj hingga ke tujuh lapisan langit, melainkan orang-orang yang beriman.

Kata Abu Hurairah r.a., "Seandainya aku membuka rahasia miraj Nabi saw, pasti ada orang yang akan mengelar leherku."

Martabat Tujuh itu adalah membawa kepada maksudnya tujuh peringkat langit, maka di dalam konteks miraj yang dimaksudkan langit itu bukanlah lapisan cakrawala, planet-planet atau yang lebih disebut di atas ruang angkasa. Benda-benda yang termasuk bumi, bulan, matahari dan bintang-bintang, atau segala apa yang ada di ruang angkasa masih digolongkan alam duniawi, atau dikatakan berada di langit yang terendah sekali.

Bagi golongan yang menganuti ajaran Martabat Tujuh ini pula, merupakan parasalik (pengembara) yang dalam perjalanan mencari Tuhannya untuk mencapai tujuan makrifat sepertimana yang dituntut - barang siapa mengenali dirinya, maka kenallah Tuhannya. Dan barangsiapa pula yang mengenal Tuhannya, maka fanalah dirinya.

Justru, untuk mencapai maksud mengenali diri itu harus berpandukan jejak sunnah Nabi saw dengan melalui miraj ke Langit, yaitu sang salik naik ke tujuh lapisan langit sehingga bertemu Allah. Miraj bisa dilakukan oleh ummat Nabi Muhammad saw sebagaimana sabdanya,

"Sholat itu adalah miraj bagi orang mukmin."


Manakala makhluk-makhluk lain seperti hewan dan jin tak bisa melakukan miraj. Bagi para malaikat pula, meskipun mereka merupakan makhluk halus yang dicipta daripada cahaya, tetapi mereka hanya dizinkan berada di tahap-tahap langit yang tertentu saja, yakni di bawah Sidrahtul Muntaha atau nama lainnya Nur Muhammad. Manakala bagi golongan manusia pula, hanya yang terpilih adalah orang-orang yang beriman dan tinggi ketakwaannya. Manusia kafir tidak dibenarkan miraj ke langit, andai mampu pun hanya setingkat berada di antara bumi dan langit yaitu Alam Jin. Sebagaimana yang di perjelaskan dalam sebuah hadis qudsi,

"Sebelum makhluk di langit dan bumi ingin mencariKu. Tiada suatu apa pun yang bisa menjangkau-Ku. Aku hanya bisa dijangkau oleh hati hamba yang mukmin."

Hanya dengan 'hati yang mukmin' saja yang bisa naik ke tujuh lapisan langit menemui Allah. Maka perjalanan ke langit dengan pelbagai peralatan sains dan teknologi moden seperti roket, tak mungkin mampu kesampaian menemui Allah. Sebagaimana pesan para sufi :

"Barang siapa yang mencari Tuhan di luar dirinya, nescaya akan sesat."

Allah Ta'ala telah mempermudahkan hamba-Nya yang beriman, dengan hanya beribadah kepada-Nya, manusia mampu naik ke langit menemui-Nya tanpa peralatan-peralatan benda duniawi yang perlu dibuat oleh manusia. Dan cara beribadah itu telah Allah aturkan seperti sholat, puasa, zikir dan haji yang begitu mudah untuk manusia laksanakan. Namun jika manusia ingin juga menciptai peralatannya sendiri untuk naik ke langit, maka Allah telah lebih dahulu berfirman melalui ayat 33, Surah Al-Rahman:

"Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembusi penjuru langit dan bumi, maka tembusilah (lintasilah). Kamu tak dapat menembusinya melainkan dengan kekuatan."

Angkasa yang dapat kita saksikan dengan panca indradi bumi ini adalah masih di dalam lingkungan langit yang paling rendah sekali. Maka mirajnya Nabi saw ke langit-langit yang lain telah menjangkau lebih jauh batasnya dari langit yang rendah ini.

Tetapi jangan kita bayangkan pula miraj Nabi itu seperti menaiki anak tangga terus ke atas, ke atas, dan ke atas lagi dan terus-terus ke atas....... Itu tidak benar dan tak dapat kita gambarkan dengan khayalan seperti itu.

Allah sudah menerangkan bahwa Allah menjadikan setiap langit itu berlapisan dan bukan bertingkat-tingkatan seperti sosok bangunan rumah susun yang terdapat di muka bumi ini. Maka arti lapisan yang bisa kita fahami bahwa dari satu lapisan ke satu lapisan itu sebenarnya amat dekat dan tidak jauh, seperti contohnya kita melihat lapisan kelopak bawang. Maka jika mudah kita fahamkan seperti ini, maka selanjutnya akan lebih mudah jika kita fahamkan lapisan tujuh langit itu seperti dalam bentuk rajah bulatan, dan dalam bulatan itu terdapat garisan bulatan-bulatan yang lain yang merupakan lapisan dalam lapisan. Dan di sini lagi, akan membuat kita mudah memahamkan akan maksud firman Allah dalam Al-Qur'an, "Aku lebih dekat dari urat leher manusia."

Mengapa Allah mengatakan Diri-Nya lebih dekat dari urat leher manusia? Jika kita mengambil jalan fikiran ilmu kajian sains, sudah pasti akal kita akan memikirkan menurut natijah kita bahwa Tuhan yang ditemui sewaktu Nabi miraj itu sebenarnya berada sangat tinggi di atas langit yang paling atas sekali. Andai demikian, mengapa langit dikatakan jauh dan tinggi, padahal
Tuhan sebenarnya teramat dekat dengan manusia?

Apakah kita sadari, sebenarnya tujuh lapisan itu tidak jauh dari diri kita?

 
  • Ceriwis

    Ceriwis
    Forum Gaul
  • Follower

  • About Me

    My photo
    It's Not Who I Am Underneath, but what I do that defines me.