• Sebuah Perjalanan

    Perjalanan apapun, dimulai dari sebuah langkah kecil.

  • Singha Barwang

    Singha Barwang / Macan Ali adalah simbol kerajaan di Cirebon. Merupakan kaligrafi berbentuk seekor singa.

  • Makrifatullah

    MAKRIFAT IALAH :Mengenal Allah SWT.pada Zat-nya,pada Sifat-nya,pada Asma'nya dan pada Af'al-nya.

  • Rajah Kalacakra

    Ilmu Rajah KalaCakra merupakan ilmu untuk menyerang makhluk halus yang mengganggu kita.

  • Abdul Jabbar

    لا فتى إلا علي ولا سيف إلا ذوالفقار

Thursday, July 28, 2011

[Tutorial] Cara Membuat Cinemagraph - Proses Editing

CINEMAGRAPH
Terobosan Baru Teknik Animasi Foto
- Part II : Proses Editing -
================================

  • Tutup hasil kerja Anda tadi, terserah mau di Save atau tidak.
  • Buka file video hasil Render tadi dengan membuka menu File > Import > Video Frames to Layers.
  • Pilih file video hasil Render tadi, lalu klik Load.
  • Akan muncul menu Layer Setting. Biarkan pilihan sesuai Default Setting (Range to Import = From Begining to End, dan Menu Make Frame Animation dalam kondisi aktif (checklist). Lalu klik OK.
  • Sampai tahap ini, tampilan kurang lebih seperti gambar di bawah ini :

(klik gambar untuk memperbesar tampilan)
  • Pada contoh video tutorial kita ini, terlihat banyak sekali pergerakan di dalam video itu. Semua orang terlihat lalu lalang melewati eskalator yang berbeda, tapi coba Anda perhatikan ada satu eskalator yang kosong dan tidak dilewati orang. Eskalator ini lah yang cocok untuk kita jadikan animasi Cinemagraph. Kita akan coba menjalankan eskalator itu sedangkan adegan orang yang lalu lalang di buat diam.
  • Pada tab (layar) Layers, layer pertama akan kita jadikan tampilan dasar animasi.
  • Pilih / select layer pertama dan pastikan menu "Unify Layer Visibility" dalam kondisi aktif. Ini akan membuat layer pertama tadi menjadi statis dan tercopy secara otomatis di tiap layer.
  • Lalu akan muncul Dialog Box untuk konfirmasi. Tekan Match.
  • Kita masuk ke langkah paling menyenangkan ( baca : paling banyak memakan waktu :D )
  • Pilih Layer kedua lalu gunakan Marquee Tools atau Tools Seleksi lainnya, buat Layer Mask di area pada foto yang akan Anda jadikan animasi.

(klik gambar untuk memperbesar)
  • Setelah Anda klik Add Layer Mask, maka tampilan Window Layer akan seperti di bawah ini :

  • Copy Layer Mask yang ada di Layer 2 ke semua Layer sisa (Layer 2 - 3 -4 - dst). Tahan CTRL+ALT lalu drag Layer Mask ke masing-masing layer tersebut.

Tampilan setelah copy layer mask ke semua layer
  • Bila Anda sudah melakukan langkah di atas, maka bisa di bilang tugas Anda sudah selesai. Silahkan preview hasil kerja Anda di menu Animation (Frames).

Tekan tombol Play Animations untuk Preview hasil kerja Anda.
  • Tadddaaa......hasil Cinemagraph Anda sudah bisa dinikmati.



Lihat Juga :

[Tutorial] Cara Membuat Cinemagraph - Part I : Persiapan
[Tutorial] Cara Membuat Cinemagraph - Part II : Proses Editing
====================================================================
Catatan :
  • Pada proses editing Cinemagraph ini, Penulis menggunakan Laptop MSI CX-420. RAM 2GB DDR-2, Intel Core i5, VGA Ati HD5470.
  • Untuk proses design Cinemagraph ini sedikit membutuhkan source CPU / Laptop yang lumayan karena software2 yang di gunakan pun terhitung rakus source komputer.
  • Untuk membuat Cinemagraph, usahakan untuk mendapatkan source video High Definition untuk memperoleh hasil yang sempurna tampilannya.
  • Cari video dengan adegan seminim mungkin dengan pergerakan latar yang seminim mungkin juga. Karena apabila terlalu banyak pergerakan dalam video tersebut, maka proses editing Cinemagraph juga akan memakan waktu, darah, dan keringat kita sendiri.


[Tutorial] Cara Membuat Cinemagraph - Persiapan

CINEMAGRAPH
Terobosan Baru Teknik Animasi Foto
- Part I : Persiapan -
================================


Mau membuat animasi Cinemagraph seperti contoh di bawah ini?



Pertama-tama, software dan source yang di perlukan antara lain :
1. Komputer / Laptop dgn Spek Design krn untuk menginstal software No. 2 :D
2. Adobe Photoshop CS-5 Extended (Saya pakai CS-5 Extended Ver. 12.0.1 x32)
3. Quick Time Player minimal Ver. 7.1 (untuk integrasi codec dengan Photoshop CS-5)
4. Youtube Downloader atau Internet Download Manager untuk mendownload video tutorial.
4. Silahkan download file video di bawah ini untuk bahan tutorial kita :

video
atau bisa download versi High Definition nya di SINI
====================================================================
Mari mulai proses awal perjuangan kita!!!! Hehehehe...
  • Instal semua software yang di perlukan (Photoshop CS5 Extended + Quick Time Player)
  • Download video bahan tutorial kita,
  • Masukkan video Escalator itu ke Photoshop. Bisa di drag dari explorer atau Open Document dari Photoshop.

(klik gambar untuk memperbesar tampilan)
  • Setelah file video itu terbuka, aktifkan / checklist Motion Workspace pada menu Window - Workspace - Motion.

(klik gambar untuk memperbesar tampilan)
  • Setelah kita aktifkan Motion Workspace, maka akan muncul window Timeline sederhana. Timeline ini berfungsi untuk memilih adegan / scene / frame pada video yang akan kita desain menjadi Cinemagraph.
  • Pada Timeline tersebut, ada 2 buah indikator seperti balok berwarna biru yang berfungsi sebagai penanda batas awal dan akhir sebuah video. Sedangkan indikator biru yang berbentuk seperti panah berfungsi untuk melihat (preview) per frame video tersebut sekaligus sebagai penanda batas waktu video yang akan di edit.

(klik gambar untuk memperbesar tampilan)
  • Drag / geser panah biru hingga menunjukkan waktu 2 detik (0:00:02:00)

(klik gambar untuk memperbesar tampilan)
  • Kemudian drag / geser balok biru yang di sebelah kanan sesuai dengan batas garis panah biru tadi.

Kondisi awal Timeline sebelum di drag ke detik ke- 0:00:02:00


GKondisi Timeline setelah balok biru di set ke- 0:00:02:00
  • Frame movie yang kita batasi tadi akan kita Export untuk dijadikan file movie baru. Pilih File - Export - Render Video.
  • Lalu akan muncul menu setting video yang akan di simpan. Biarkan saja Default Setting seperti apa adanya, lalu klik Render.

klik DI SINI untuk langkah selanjutnya.....


Lihat Juga :
[Tutorial] Cara Membuat Cinemagraph - Part I : Persiapan
[Tutorial] Cara Membuat Cinemagraph - Part II : Proses Editing
====================================================================
Catatan :
  • Pada proses editing Cinemagraph ini, Penulis menggunakan Laptop MSI CX-420. RAM 2GB DDR-2, Intel Core i5, VGA Ati HD5470.
  • Untuk proses design Cinemagraph ini sedikit membutuhkan source CPU / Laptop yang lumayan karena software2 yang di gunakan pun terhitung rakus source komputer.
  • Untuk membuat Cinemagraph, usahakan untuk mendapatkan source video High Definition untuk memperoleh hasil yang sempurna tampilannya.
  • Cari video dengan adegan seminim mungkin dengan pergerakan latar yang seminim mungkin juga. Karena apabila terlalu banyak pergerakan dalam video tersebut, maka proses editing Cinemagraph juga akan memakan waktu, darah, dan keringat kita sendiri.

Tentang Cinemagraph

Cinemagraph (bukan Cinematograph), merupakan teknik baru dikalangan desain grafis. Teknik ini dasarnya adalah pengembangan dari teknik pembuatan Animasi GIF standard, namun hasil akhir dari Cinemagraph memiliki nilai artistik yang lebih tinggi daripada GIF. Salah seorang photographer terkemuka, Fernando J. Baez, mendeskripsikan Cinemagraph sebagai "Lebih dari sekedar foto statis, namun juga bukan merupakan sebuah video."

Pada hasil sebuah Cinemagraph, tujuannya adalah untuk menegaskan, atau memusatkan perhatian pada suatu aspek atau bagian dari sebuah foto menggunakan animasi sederhana - misalkan meng-animasikan bagian rambut yang bergerak, tiupan angin, gerakan bola mata, dsb, sedangkan bagian dari foto itu tetap tidak bergerak / statis.

Bagi mereka yang sudah terbiasa mendesain animasi GIF, tentu saja tidak akan mengalami banyak kesulitan mengerjakan teknik Cinemagraph ini. Sedikit lebih sulit mungkin, tapi terbayarkan setelah melihat hasil akhir dari Cinemagraph ini.

Berikut adalah contoh-contoh dari Cinemagraph :

Thursday, July 21, 2011

Tangguh Keris


Tangguh secara harfiah berarti perkiraan. Dalam dunia perkerisan di pulau Jawa tangguh meliputi perkiraan mengenai zaman pembuatan atau gaya pembuatan. Jadi jika seorang mengatakan bahwa sebilah keris tangguh Majapahit, itu berarti bahwa keris itu diperkirakan buatan ...zaman Kerajaan Majapahit.


Definisi lain tangguh adalah perkiraan gaya kedaerahan, atau zaman dibuatnya sebilah keris atau tombak, yang dijabarkan dari pasikutannya, pengamatan jenis besinya, pamor dan bajanya. Yang dimaksud pasikutan adalah kesan selintas atas gaya garapan sebuah keris. Misalnya keris tangguh Majapahit dapat diartikan: (1) dibuat dengan gaya (model) Majapahit, (2) dibuat oleh empu dari Majapahit.


Ada sementara pecinta keris yang mengartikan tangguh sebagai asal-usul. Namun pengertian seperti ini kurang meyakinkan karena ternyata ada beberapa empu yang hidupnya berpindah-pindah, misalnya dari Pajajaran ke Tuban lalu ke Majapahit.


Penyebutan nama tangguh keris terasa kabur karena dalam budaya keris juga dikenal kebiasaan mutrani atau pembuatan duplikat. Khusus untuk keris-keris putran (duplikat), penyebutan nama tangguh menjadi kacau, maka untuk keris-keris demikian lalu disebut yasan, artinya buatan. Misalnya keris A merupakan duplikat keris B. Keris A buatan Surakarta, sedangkan keris B tangguh Tuban. Maka keris A disebut tangguh Tuban yasan Surakarta.


Karena itu, jika seseorang keliru dalam menangguh sebuah keris, ia tidak akan terlalu dipersalahkan karena tangguh hanyalah sebuah perkiraan. Ilmu tangguh mempelajari cara menentukan perkiraan tentang zaman apa sebuah keris atau tosan aji lain dibuat, berdasarkan tanda-tanda tertentu. Ahli keris yang sering tepat dalam memperkirakan tangguh sebilah keris atau tombak biasanya disebut ahli tangguh. Dengan mengamati tanda-tandanya seorang ahli tangguh terkadang dapat memastikan tangguh sebilah keris. Jika tangguhnya pasti, biasanya disebut tangguh lempoh.


Serat Centhini yang oleh sebagian besar pencinta keris dianggap sebagai sumber tertulis yang menjadi panutan, tidak mengkaitkan soal tangguh dengan sesuatu zaman. Tentang hal ini, Bambang Harsrinuksmo dalam naskahnya Budaya Keris (manuskrip tahun 1996) antara lain menulis: bilamana maksud para penulis Serat Centhini memang bukan mengaitkan soal tangguh dengan zaman pembuatan, berarti seorang empu yang hidup pada masa kini pun boleh menyebut keris buatannya sebagai keris tangguh Majapahit. Dalam naskahnya itu Bambang Harsrinuskmo menyimpulkan, tangguh seharusnya memang dikaitkan dengan zaman pembuatan, sekaligus perkiraan umur keris itu. Ia berpendapat, walaupun Serat Centhini menjadi salah satu panutan, belum tentu segala uraian yang dimuat dalam karya agung itu pasti benar.


Tangguh keris yang dikenal masyarakat perkerisan di Pulau Jawa adalah:

  1. Tangguh Segaluh, mempunyai pasikutan kaku tetapi luruh. Besinya berkesan kering, warna hitam pucat kehijauan. Pamornya kelem. Panjang bilahnya ada yang panjang, ada pula yang pendek. Gandiknya maju kedepan sehingga ganjanya selalu panjang.
  2. Tangguh Pajajaran, pasikutannya kaku dan kasar, besinya cenderung ‘kering’, keputih-putihan, pemunculan pamornya tidak direncanakan. Menancapnya pamor pada bilah keris pandes (kokoh, dalam) dan halus. Pamor itu tergolong nggajih.
  3. Tangguh Kahuripan, pasikutannya hambar, kurang semu. Warna besinya agak kehitaman, biasanya berpamor sanak, tetapi ada juga yang mubyar. Ganjanya agak tinggi, tetapi tidak begitu lebar. Ukuran panjang bilahnya sedang, luk-nya tidak merata, makin keujung makin rapat. Ada kalanya keris tangguh Kahuripan berganja iras, namun banyak juga yang tidak.
  4. Tangguh Jenggala, pasikutannya luwes, birawa. Besinya agak kehitaman, berpamor lumer pandes tetapi ada pula yang mubyar. Ukuran panjang bilahnya agak berlebihan dibanding tangguh lainnya, demikian juga lebar bilahnya, terutama di bagian sor-soran. Luknya luwes merata, Sirah cecak pada ganja berbentuk lonjong memanjang.
  5. Tangguh Singasari, pasikutannya kaku dan wingit. Bilahnya berukuran sedang; ujungnya tak begitu runcing. Warna besinya abu-abu kehitaman, nyabak (bagaikan batu tulis). Menancapnya pamor pada permukaan bilah lumer dan pandes. Penampilan pamor itu biasanya lembut dan suram (kelem). Gandik-nya berukuran sedang, agak miring. Sirah cecak pada ganja bentuknya lonjong memanjang.
  6. Tangguh Majapahit, pasikutannya agak wingit dan prigel, besinya lumer (halus rabaannya) dan berkesan ‘kering’; warnanya agak biru. Menancapnya pamor pada bilah pandes lan ngawat (kokoh serupa kawat), sebagian pamor itu mrambut. Panjang bilahnya berukuran sedang, makin ke ujung makin ramping sehingga berkesan runcing. Luknya tidak begitu rapat. Gandiknya miring dan agak pendek.
  7. Tangguh Madura, dalam dunia perkerisan dibagi dua, yakni Madura Tua yang sejaman dengan Majapahit dan Madura Muda yang sejaman dengan Mataram Amangkurat. Keris tangguh Madura Tua pasikutannya demes, serasi, seimbang, menyenangkan). Besinya berkesan kering seperti kurang wasuhan, warnanya hitam pucat. Pamornya nggajih dan nyekrak, kasar rabaannya. Panjang bilahnya tidak merata; ada yang panjang, ada yang sedang, ada yang agak pendek. Ganjanya sebit ron tal, sirah cecaknya pendek. Keris tangguh Madura Muda pasikutannya galak. Besinya berkesan kering; seperti kurang wasuhan. Warnanya hitam agak abu-abu; kadar bajanya kurang. Pamornya mubyar dan nyekrak. Gandik-nya miring, ganjanya sebit ron tal, sirah cecaknya pendek.
  8. Tangguh Blambangan mempunyai pasikutan demes. Besinya keputihan dan berkesan demes, serasi. Pamornya, biasanya nggajih dan menancap ke permukaan secara pandes. Bilah keris tangguh Blambangan berukuran sedang, ujungnya tidak terlalu meruncing. Gandiknya pendek dan miring; ganjanya sebit ron tal; sedangkan sirah cicaknya pendek.
  9. Tangguh Sedayu, pasikutannya demes, serasi, harmonis. Panjang bilahnya sedang, berkesan ramping, luk-nya juga luwes. Besinya matang tempaan, berkesan basah, hitam kebiruan. Pamornya bersahaja, mrambut, dan seolah mengambang pada bilahnya. Ganjanya tergolong sebit ron tal, sirah cicaknya agak pendek.
  10. Tangguh Tuban, pasikutannya sedang, panjang bilahnya sedang, agak lebar, agak tebal, luknya renggang dan dangkal. Besinya hitam; kadar bajanya banyak dan berkesan kering. Pamornya kelem dan pandes. Gandiknya agak pendek. Bentuk sirah cecak pada ganjanya membulat, besar tapi pendek. Sogokannya panjang.
  11. Tangguh Sendang, walaupun garapannya rapi, pasikutannya wagu, kurang harmonis, kurang serasi. Bilahnya kecil ramping dan agak pendek. Besinya matang tempaan, kehitamaan dan berkesan basah. Pamornya sederhana dan berkesan mengambang.
  12. Tangguh Pengging, pasikutannya sedang ramping, garapannya rapi, Jika keris luk, luknya rengkol sekali. Besinya hitam, berkesan basah. Pamornya bersahaja, lumer pandes. Gulu melednya panjang.
  13. Tangguh Demak, mempunyai pasikutan yang wingit. Bilahnya berukuran sedang; besinya hitam kebiru-biruan dan berkesan basah. Pamornya tergolong kelem dan berkesan mengambang. Ganjanya tipis. Sirah cicaknya pendek.
  14. Tangguh Pajang, pasikutannya kemba, besinya odol dan garingsing. Pamornya sawetu-wetune; tidak direka dan tidak dirancang. Kembang kacangnya besar, lebar dan kokoh.
  15. Tangguh Madiun, pasikutannya kemba. Besinya berkesan basah. Pamornya sedikit tapi lumer dan pandes. Bilah tebal, biasanya nglimpa, konturnya agak mbembeng.
  16. Tangguh Koripan, pasikutannya kemba, tanpa semu (hambar). Besinya garingsing (kehitaman dan berkesan kering); pamornya berkesan adeg, jenis pamornya sanak.
  17. Tangguh Mataram, ada tiga macam, masing-masing mempunyai ciri tersendiri. Pertama, Mataram Senopaten; pasikutannya prigel, sereg; besinya hitam kebiruan. Pamornya pandes lan ngawat. Kedua, Mataram Sultan Agung: pasikutannya demes (serasi, menyenangkan, tampan, enak dilihat), besinya mentah, pamornya mubyar. Ketiga Mataram Amangkuratan: pasikutannya galak, birawa, besinya mentah, pamornya kemambang. Tangguh Amangkuratan biasaya juga disebut Tangguh Kartasura.
  18. Tangguh Cirebon, mempunyai pasikutan yang wingit. Bilahnya berukuran sedang, tipis, jarang yang memakai ada-ada; besinya hitam kecoklatan dan berkesan kering. Pamornya tergolong kelem dan berkesan mengambang. Ganjanya tipis dan sirah cecaknya pendek.
  19. Tangguh Surakarta pasikutan-nya demes dan gagah (serasi, menyenangkan, tampan, gagah), birawa. Besinya mentah; pamornya mubyar, ganjanya memakai tungkakan.
  20. Tangguh Yogyakarta agak mirip dengan tangguh Majapahit. Pasikutannya wingit dan prigel. Besinya lumer (halus rabaannya) dan berkesan ‘kering’, warnanya agak biru. Menancapnya pamor pada bilah pandes lan ngawat (kokoh dan serupa kawat), sebagian pamor itu mrambut. Panjang bilahnya berukuran sedang, makin ke atas makin ramping hingga berkesan meruncing. Luknya tidak begitu rapat, Gandiknya miring dan agak pendek.

Keris Buda dan tangguh Kabudan, walaupun dikenal masyarakat luas, tidak dimasukan ke dalam buku-buku yang memuat soal tangguh. Mungkin, karena dapur keris yang dianggap masuk dalam tangguh Kabudan hanya sedikit, hanya dua yakni Jalak Buda dan Betok Buda.


[Sumber: Bambang Harsrinuksmo, Ensiklopedi Keris, Gramedia, 2008, hlm. 459-463]

Istilah dalam Keris



Dalam budaya perkerisan ada sejumlah istilah yang terdengar asing bagi orang awam.. Pemahaman akan istilah-istilah ini akan sangat berguna dalam proses mendalami pengetahuan mengenai keris. Istilah dalam dunia keris, khususnya di Pulau Jawa, yang sering dipakai: angsar, dapur, pamor, perabot, tangguh, tanjeg, dan lain sebagainya.


Di bawah ini adalah uraian singkat yang disusun secara alfabetik mengenai istilah perkerisan. Istilah ini lazim digunakan di Pulau Jawa dan Madura, tetapi dimengerti dan kadang kala juga digunakan di daerah lainnya, seperti Sulawesi, Sumatra, dan bahkan di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Keris Bima, Nusa Tenggara Barat. Keris ini diduga milik keluarga bangsawan tinggi, sarung dan hulunya berlapis emas.

Angsar
adalah daya kesaktian yang dipercaya oleh sebagian orang terdapat pada sebilah keris. Daya kesaktian atau daya gaib itu tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan oleh orang yang percaya. Angsar dapat berpengaruh baik atau posistif, bisa pula sebaliknya.


Pada dasarnya, semua keris ber-angsar baik. Tetapi kadang-kadang, angsar yang baik itu belum tentu cocok bagi setiap orang. Misalnya, keris yang angsar-nya baik untuk seorang prajurit, hampir pasti tidak cocok bila dimiliki oleh seorang pedagang. Keris yang angsar-nya baik untuk seorang pemimpin yang punya banyak anak buah, tidak sesuai bagi pegawai berpangkat rendah.


Guna mengetahui angsar keris, diperlukan ilmu tanjeg. Sedangkan untuk mengetahui cocok dan tidaknya seseorang dengan angsar sebuah keris, diperlukan ilmu tayuh.

Dapur
Adalah istilah yang digunakan untuk menyebut nama bentuk atau type bilah keris. Dengan menyebut nama dapur keris, orang yang telah paham akan langsung tahu, bentuk keris yang seperti apa yang dimaksud. Misalnya, seseorang mengatakan: "Keris itu ber-dapur Tilam Upih", maka yang mendengar langsung tahu, bahwa keris yang dimaksud adalah keris lurus, bukan keris yang memakai luk. Lain lagi kalau disebut dapur-nya Sabuk Inten, maka itu pasti keris yang ber-luk sebelas.

Dunia perkerisan di masyarakat suku bangsa Jawa mengenal lebih dari 145 macam dapur keris. Namun dari jumlah itu, yang dianggap sebagai dapur keris yang baku atau mengikuti pakem hanya sekitar 120 macam saja. Serat Centini, salah satu sumber tertulis, yang dapat dianggap sebagai pedoman dapur keris yang pakem memuat rincian jumlah dapur keris sbb:

Keris lurus ada 40 macam dapur. Keris luk tiga ada 11 macam. Keris luk lima ada 12 macam. Keris luk tujuh ada 8 macam. Keris luk sembilan ada 13 macam. Keris luk sebelas ada 10 macam. Keris luk tigabelas ada 11 macam. Keris luk limabelas ada 3 macam. Keris luk tujuhbelas ada 2 macam. Keris luk sembilan belas, sampai luk duapuluh sembilan masing-masing ada semacam.

Namun, menurut manuskrip Sejarah Empu, karya Pangeran Wijil, jumlah dapur yang dianggap pakem lebih banyak lagi. Catatan itu menunjukkan dapur keris lurus ada 44 macam, yang luk tiga ada 13 macam, luk sebelas ada 10 macam, luk tigabelas ada11 macam, luk limabelas ada 6 macam, luk tujuhbelas ada 2 macam, luk sembilanbelas sampai luk duapuluh sembilan ada dua macam, dan luk tigapuluh lima ada semacam. Jumlah dapur yang dikenal sampai dengan dekade tahun 1990-an, lebih banyak lagi.

Luk
Istilah ini digunakan untuk bilah keris yang tidak lurus, tetapi berkelok atau berlekuk. Luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Hitungannya mulai dari luk tiga, sampai luk tigabelas. Itu keris yang normal. Jika luknya lebih dari 13, dianggap sebagai keris yang tidak normal, dan disebut keris kalawijan atau palawijan.


Jumlah luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Selain itu, irama luk keris dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, luk yang kemba atau samar. Kedua, luk yang sedeng atau sedang. Dan ketiga, luk yang rengkol -- yakni yang irama luknya tegas.

Luk keris. Angka-angka menunjukkan bilangan jumlah luknya.


Mas kawin
Dalam dunia perkerisan adalah pembayaran sejumlah uang atau barang lain, sebagai syarat transaksi atau pemindahan hak milik atas sebilah keris, pedang, atau tombak. Dengan kata yang sederhana, mas kawin atau mahar adalah harga.


Istilah mas kawin atau mahar ini timbul karena dalam masyarakat perkerisan terdapat kepercayaan bahwa isi sebilah keris harus cocok atau jodoh dengan pemiliknya. Jika isi keris itu jodoh, si pemilik akan mendapat keberuntungan, sedangkan kalau tidak maka kesialan yang akan diperoleh. Dunia perkerisan juga mengenal istilah melamar, bilamana seseorang berminat hendak membeli sebuah keris.

Mendak
adalah sebutan bagi cincin keris, yang berlaku di Pulau Jawa, Bali, dan Madura. Di daerah lain biasanya digunakan istilah cincin keris. Mendak hampir selalu dibuat dari bahan logam: emas, perak, kuningan, atau tembaga. Banyak di antaranya yang dipermewah dengan intan atau berlian. Pada zaman dulu ada juga mendak yang dibuat dari besi berpamor.
Selain sebagai hiasan kemewahan, mendak juga berfungsi sebagai pembatas antara bagian hulu keris atau ukiran dengan bagian warangka.

Pamor
Pamor dalam dunia perkerisan memiliki 3 (tiga) macam pengertian. Yang pertama menyangkut bahan pembuatannya; misalnya: pamor meteorit, pamor Luwu, pamor nikel, dan pamor sanak. Pengertian yang kedua menyangkut soal bentuk gambaran atau pola bentuknya. Misalnya: pamor Ngulit Semangka, Beras Wutah, Ri Wader, Adeg, dan sebagainya. Ketiga, menyangkut soal teknik pembuatannya, misalnya: pamor mlumah, pamor miring, dan pamor puntiran.

Dua macam pamor yang tergolong jenis pamor miring.

Selain itu, ditinjau dari niat sang empu, pola pamor yang terjadi masih dibagi lagi menjadi dua golongan. Kalau sang empu membuat pamor keris tanpa merekayasa polanya, maka pola pamor yang terjadi disebut pamor tiban. Orang akan menganggap bentuk pola pamor itu terjadi karena anugerah Tuhan. Sebaliknya, jika sang empu lebih dulu membuat rekayasa pla pamornya, disebut pamor rekan [rékan berasal dari kata réka = rekayasa]. Contoh pamor tiban, misalnya: Beras wutah, Ngulit Semangka, Pulo Tirta. Contoh pamor rekan, misalnya: Udan Mas, Ron Genduru, Blarak Sinered, dan Untu Walang.

Keris dapur Sepang. Pamornya Wos Wutah yang tergolong jenis pamor mlumah.

Ada lagi yang disebut pamor titipan atau pamor ceblokan, yakni pamor yang disusulkan pembuatannya, setelah bilah keris selesai 90 persen. Pola pamor itu disusulkan pada akhir proses pembuatan keris. Contohnya, pamor Kul Buntet, Batu Lapak, dll.

Pamor Kul Buntet yang tergolong pamor titipanPamor Batu Lapak


Pendok
berfungsi sebagai pelindung atau pelapis gandar, yaitu bagian warangka keris yang terbuat dari kayu lunak. Namun fungsi pelindung itu kemudian beralih menjadi sarana penampil kemewahan. Pendok yang sederhana biasanya terbuat dari kuningan atau tembaga, tetapi yang mewah terbuat dari perak atau emas bertatah intan berlian. Bentuk pendok ada beberapa macam, yakni pendok bunton, blewehan, slorok, dan topengan.

Pendok keris: No 1 sampai 4 gaya Surakarta, no. 5 gaya Yogyakarta.

Perabot
Dalam dunia perkerisan, asesoris bilah keris disebut perabot keris. Perlengkapan atau asesoris itu meliputi warangka atau sarung keris, ukiran atau hulu keris, mendak atau cincin keris, selut atau pedongkok, dan pendok atau logam pelapis warangka.

Ricikan
Adalah bagian-bagian atau komponen bilah keris atau tombak. Masing-masing ricikan keris ada namanya. Dalam dunia perkerisan soal ricikan ini penting, karena sangat erat kaitannya dengan soal dapur dan tangguh keris.


Sebilah keris ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng tanda-tandanya adalah berbilah lurus, memakai gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil. Gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil, adalah komponen keris yang disebut ricikan..

Selut
seperti mendak, terbuat dari emas atau perak, bertatahkan permata. Tetapi fungsi selut terbatas hanya sebagai hiasan yang menampilkan kemewahan. Dilihat dari bentuk dan ukurannya, selut terbagi menjadi dua jenis, yaitu selut njeruk pecel yang ukurannya kecil, dan selut njeruk keprok yang lebih besar. Sebagai catatan; pada tahun 2001, selut nyeruk keprok yang bermata berlian harganya dapat mencapai lebih dari Rp. 20 juta! Karena dianggap terlalu menampilkan kemewahan, tidak setiap orang mau mengenakan keris dengan hiasan selut.

Selut gaya Surakarta, jenis njeruk keprok

Tangguh
Tangguh arti harfiahnya adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya merupakan perkiraan, me-nangguh keris bisa saja salah atau keliru. Kalau sebilah keris disebut tangguh Blambangan, padahal sebenarnya tangguh Majapahit, orang akan memaklumi kekeliruan tersebut, karena bentuk keris dari kedua tangguh itu memang mirip. Tetapi jika sebuah keris buatan baru di-tangguh keris Jenggala, maka jelas ia bukan seorang ahli tangguh yang baik.


Walaupun sebuah perkiraan, tidak sembarang orang bisa menentukan tangguh keris. Untuk itu ia perlu belajar dari seorang ahli tangguh, dan mengamati secara cermat ribuan bilah keris. Ia juga harus memiliki photographic memory yang kuat.

Bentuk keris tangguh Segaluh

Mas Ngabehi Wirasoekadga, abdidalem Keraton Kasunanan Surakarta, dalam bukunya Panangguhing Duwung (Sadubudi, Solo, 1955) membagi tangguh keris menjadi 20 tangguh. Ia tidak menyebut tentang tangguh Yogyakarta, melainkan tangguh Ngenta-enta, yang terletak di dekat Yogya. Keduapuluh tangguh itu adalah:


1. Pajajaran 2. Tuban 3. Madura 4. Blambangan 5. Majapahit
6. Sedayu 7. Jenu 8. Tiris-dayu 9. Setra-banyu 10. Madiun
11. Demak 12. Kudus 13. Cirebon 14. Pajang 15. Pajang
16. Mataram 17. Ngenta-enta,Yogyakarta 18. Kartasura 19. Surakarta


Keris Buda dan tangguh kabudan, walaupun di kenal masyarakat secara luas, tidak dimasukan dalam buku buku yang memuat soal tangguh. Mungkin, karena dapur keris yang di anggap masuk dalam tangguh Kabudan dan hanya sedikit, hanya dua macam bentuk, yakni jalak buda dan betok buda.

Sementara itu Bambang Harsrinuksmo dalam Ensiklopedi Keris (Gramedia, Jakarta 2004) membagi periodisasi keris menjadi 22 tangguh, yaitu:

1. Tangguh Segaluh 2. Tangguh Pajajaran
3. Tangguh Kahuripan 4. Tangguh Jenggala
5. Tangguh Singasari 6. Tangguh Majapahit
7. Tangguh Madura 8. Tangguh Blambangan
9. Tangguh Sedayu 10. Tangguh Tuban
11. Tangguh Sendang 12. Tangguh Pengging
13. Tangguh Demak 14. Tangguh Panjang
15. Tangguh Madiun 16. Tangguh Koripan
17. Tangguh Mataram Senopaten 18. Mataram Sultan Agung
19. Mataram Amangkuratan 20. Tangguh Cirebon
21. Tangguh Surakarta 22. Tangguh Yogyakarta

Ada lagi sebuah periode keris yang amat mudah di-tangguh, yakni tangguh Buda. Keris Buda mudah dikenali karena bilahnya selalu pendek, lebar, tebal, dan berat. Yang sulit membedakannya adalah antara yang aseli dan yang palsu.

Tanjeg
adalah perkiraan manfaat atau tuah keris, tombak, atau tosan aji lainnya. Sebagian pecinta keris percaya bahwa keris memiliki 'isi' yang disebut angsar. Kegunaan atau manfaat angsar keris ini banyak macamnya. Ada yang menambah rasa percaya diri, ada yang membuat lebih luwes dalam pergaulan, ada yang membuat nasihatnya di dengar orang. Untuk mengetahui segala manfaat angsar itu, diperlukan ilmu tanjeg. Dalam dunia perkerisan, ilmu tanjeg termasuk esoteri keris.

Tayuh
Merupakan perkiraan tentang cocok atau tidaknya, angsar sebilah keris dengan (calon) pemiliknya. Sebelum memutuskan, apakah keris itu akan dibeli (dibayar mas kawinnya), si peminat biasanya terlebih dulu akan me- tayuh atas keris itu. Tujuannya untuk mengetahui, apakah keris itu cocok atau berjodoh dengan dirinya.

Ukiran
Kata ukiran dalam dunia perkerisan adalah gagang atau hilt. Berbeda artinya dari kata 'ukiran' dalam bahasa Indonesia yang padanannya ialah carved atau engraved. Gagang keris di Bali disebut danganan, di Madura disebut landheyan, di Surakarta disebut jejeran, di Yogyakarta disebut deder. Sedangkan daerah lain di Indonesia dan Malaysia, Singapura, serta Brunei Darussalam disebut hulu keris.

Ukiran gaya Surakarta wanda Maraseba

Javakeris memakai istilah ukiran dan hulu keris mengingat semua daerah itu juga mengenal dan memahami arti kata ukiran dalam perkerisan. Bentuk ukiran atau hulu keris di setiap daerah berbeda satu sama lain.

Di bawah ini adalah contoh bentuk hulu keris dari beberapa daerah.

Warangka
Atau sarung keris kebanyakan terbuat dari kayu yang berserat dan bertekstur indah. Namun di beberapa daerah ada juga warangka keris yang dibuat dari gading, tanduk kerbau, dan bahkan dari fosil binatang purba. Warangka keris selalu dibuat indah dan sering kali juga mewah. Itulah sebabnya, warangka juga dapat digunakan untuk memperlihatkan status sosial ekonomi pemiliknya.


Bentuk warangka keris berbeda antara satu daerah dengan lainnya. Bahkan pada satu daerah seringkali terdapat beberapa macam bentuk warangka. Perbedaan bentuk warangka ini membuat orang mudah membedakan, sekaligus mengenali keris-keris yang berasal dari Bali, Palembang, Riau, Madura, Jawa, Bugis, Bima, atau Malaysia.

Berikut adalah jenis-jenis warangka dari berbagai daerah perkerisan:

Warangka Surakarta

Biasanya terbuat dari kayu cendana wangi atau cendana Sumbawa (sandalwood - Santalum Album L.) Pilihan kedua adalah kayu trembalo, setelah itu kayu timaha pelet.
Warangka ladrang terbagi menjadi empat wanda utama, yaitu Ladrang Kasatriyan, Ladrang Kadipaten, Ladrang Capu, dan Ladrang Kacir. Dua wanda yang terakhir sudah jarang dibuat, sehingga kini menjadi langka.

Warangka ladrang adalah jenis warangka yang dikenakan untuk menghadiri suatu upacara, pesta, dan si pemakai tidak sedang melaksanakan suatu tugas. Bila dibandingkan pada pakaian militer, warangka ladrang tergolong Pakaian Dinas Upacara (PDU).

Ladrang Kadipaten

Selain ladrang, di Surakarta juga ada warangka gayaman, yang dikenakan pada saat orang sedang melakukan suatu tugas. Misalnya, sedang menjadi panitia pernikahan, sedang menabuh gamelan, atau sedang mendalang. Prajurit keraton yang sedang bertugas selalu mengenakan keris dengan warangka gayaman.

Warangka gayaman Surakarta juga ada beberapa jenis, di antaranya: Gayaman Gandon, Gayaman Pelokan, Gayaman Ladrang, Gayaman Bancigan, Gayaman Wayang.

Jenis warangka yang ketiga adalah warangka Sandang Walikat. Bentuknya sederhana dan tidak gampang rusak. Warangka jenis inilah yang digunakan manakala seseorang membawa (bukan mengenakan) sebilah keris dalam perjalanan.

Warangka Sandang Walikat

Warangka Yogyakarta
Warangka branggah Yogyakarta terbuat dari kayu kemuning
Bentuk warangka di Yogyakarta mirip dengan Surakarta, hanya ukurannya agak lebih kecil, gayanya lebih singset. Yang bentuknya serupa dengan warangka ladrang, di Yogyakarta disebut branggah. Kayu pembuat warangka branggah di Yogyakarta adalah kayu trembalo dan timaha. Sebenarnya penggunaan warangka branggah di Yogyakarta sama dengan warangka ladrang di Surakarta, tetapi beberapa dekade ini norma itu sudah tidak terlalu ketat di masyarakat.


Jenis bentuk warangka Yogyakarta lainnya adalah gayaman. Dulu ada lebih kurang delapan jenis warangka gayaman, tetapi kini hanya dua jenis wanda warangka yang populer, yakni gayaman ngabehan dan gayaman banaran. Warangka gayaman dikenakan pada saat seseorang tidak sedang mengikuti suatu upacara.


Jenis bentuk warangka yang ketiga adalah sandang walikat, yang boleh dibilang sama bentuknya dengan sandang walikat gaya Surakarta.

Kerisologi



Apa Itu Keris?

Sebelum membahas masalah keris dan budayanya, sebaiknya ditentukan dahulu batasan-batasan mengenai apa yang disebut keris. Hal ini perlu karena dalam masyarakat sering dijumpai pengertian yang keliru dan kerancuan mengenai apa yang disebut keris.Saya berpendapat, sebuah benda dapat digolongkan sebagai keris bilamana benda itu memenuhi kriteria berikut:

1. Keris harus terdiri dari dua bagian utama, yakni bagian bilah keris (termasuk pesi) dan bagian ganja. Bagian bilah dan pesi melambangkan ujud lingga, sedangkan bagian ganja melambangkan ujud yoni. Dalam falsafah Jawa, yang bisa dikatakan sama dengan falsafah Hindu, persatuan antara lingga dan yoni merupakan perlambang akan harapan atas kesuburan, keabadian (kelestarian), dan kekuatan.

2. Bilah keris harus selalu membuat sudut tertentu terhadap ganja. Bukan tegak lurus. Kedudukan bilah keris yang miring atau condong, ini adalah perlambang dari sifat orang Jawa, dan juga suku bangsa Indonesia lainnya, bahwa seseorang, apa pun pangkat dan kedudukannya, harus senantiasa tunduk dan hormat bukan saja pada Sang Pencipta, juga pada sesamanya. Ilmu padi, kata pepatah, makin berilmu seseorang, makin tunduklah orang itu.

3. Ukuran panjang bilah keris yang lazim adalah antara 33 - 38 cm. Beberapa keris luar Jawa bisa mencapai 58 cm, bahkan keris buatan Filipina Selatan, panjangnya ada yang mencapai 64 cm. Yang terpendek adalah keris Buda dan keris buatan Nyi Sombro Pajajaran, yakni hanya sekitar 16 - 18 cm saja.


Tetapi keris yang dibuat orang amat kecil dan pendek, misalnya hanya 12 cm, atau bahkan ada yang lebih kecil dari ukuran fullpen, tidak dapat digolongkan sebagai keris, melainkan semacam jimat berbentuk keris-kerisan.

4. Keris yang baik harus dibuat dan ditempa dari tiga macam logam,- minimal dua, yakni besi, baja dan bahan pamor. Pada keris-keris tua, semisal keris Buda, tidak menggunakan baja.

Dengan demikian, keris yang dibuat dari kuningan, seng, dan bahan logam lainnya, tidak dapat digolongkan sebagai keris. Begitu juga "keris" yang dibuat bukan dengan cara ditempa, melainkan dicor, atau yang dibuat dari guntingan drum bekas aspal tergolong bukan keris, melainkan hanya keris-kerisan.


Meskipun masih ada beberapa kriteria lain untuk bisa mengatakan sebuah benda adalah keris, empat ketentuan di atas itulah yang terpenting.


Keris Budaya Nusantara
Thailand, Filipina, Kamboja, dan Brunei Darussalam. Jadi, boleh dikatakan budaya keris dapat dijumpai di semua daerah bekas wilayah kekuasan dan wilayah yang dipengaruhi Kerajaan Majapahit. Itulah sebabnya beberapa ahli budaya menyebutkan, keris adalah budaya Nusantara.


Keris ber-dapur Jalak Buda yang diperkirakan dibuat pada abad ke-6. Keris tertua dibuat di Pulau Jawa, diduga sekitar abad ke-6 atau ke-7. Di kalangan penggemarnya, keris buatan masa itu disebut keris Buda. Sesuai dengan kedudukannya sebagai sebuah karya awal sebuah budaya, bentuknya masih sederhana. Tetapi bahan besinya menurut ukuran zamannya, tergolong pilihan, dan cara pembuatannya diperkirakan tidak jauh berbeda dengan cara pembuatan keris yang kita kenal sekarang. Keris Buda hampir tidak berpamor. Seandainya ada pamor pada bilah keris itu, maka pamor itu selalu tergolong pamor tiban, yaitu pamor yang bentuk gambarannya tidak direncanakan oleh Sang Empu.


Sesuai dengan perkembangan budaya masyarakatnya, bentuk bilah keris juga mengikuti kemajuan zaman. Bentuk bilah yang semula relatif gemuk, pendek, dan tebal, secara berangsur menjadi menjadi lebih tipis, lebih langsing, lebih panjang, dan dengan sendirinya makin lama makin menjadi lebih indah.


Ricikan atau komponen keris yang semula hanya berupa gandik, pejetan, dan sogokan, dari zaman ke zaman bertambah menjadi aneka macam. Misalnya, kembang kacang, lambe gajah, jalen, jalu memet, lis-lisan, ada-ada, janur, greneng, tingil, pundak sategal, dan sebagainya.


Meskipun dari segi bentuk dan pemilihan bahan baku, keris selalui mengalami perkembangan, pola pokok cara pembuatannya hampir tidak pernah berubah. Pada dasarnya, pola pokok proses pembuatan keris: membersihkan logam bahan besi yang akan digunakan, mempersatukan besi dan pamor, dan kemudian memberinya bentuk sehingga disebut keris.


Pada zaman sekarang pembuatan keris masih tetap dilakukan secara tradisional di daerah Yogyakarta, Surakarta, Madura, Luwu (Sulawesi Tenggara), Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta), Kelantan (Malaysia), dan Bandar Sri Begawan (Brunai Darussalam). Pembuatan keris masa kini masih tetap menggunakan kaidah-kaidah lama. Beberapa di antar para empu dan pandai keris itu bahkan masih tetap membaca mantera dan doa, serta melakukan puasa selama masa pembuatan kerisnya.


Karena budaya keris ini tersebar luas di seluruh Nusantara, Benda ini mempunyai banyak nama padanan. Di pulau Bali keris disebut kedutan. Di Sulawesi, selain menyebut keris, orang juga menamakannya selle atau tappi. Di Filipina, keris dinamakan sundang. Di beberapa daerah benda itu disebut kerih, karieh, atau kres. Demikian pula bagian-bagian kelengkapan keris juga banyak mempunyai padanan. Walaupun demikian bentuk keris buatan daerah mana pun masih tetap memiliki bentuk yang serupa. Dan, juga bentuk bagian-bagiannya pun tidak jauh berbeda.

Bukan Alat Pembunuh

Walaupun oleh sebagian peneliti dan penulis bangsa Barat keris digolongkan sebagai jenis senjata tikam, sebenarnya keris dibuat bukan semata-mata untuk membunuh. Keris lebih bersifat sebagai senjata dalam pengertian simbolik, senjata dalam artian spiritual. Untuk ‘sipat kandel,’ kata orang Jawa. Karenanya oleh sebagian orang keris juga dianggap memiliki kekuatan gaib.
Keris seindah ini, tentu amat sayang jika sampai membunuh orang Bagi yang percaya, keris tertentu dapat menambah keberanian dan rasa percaya diri seseorang, dalam hal ini pemilik keris itu. Keris juga dapat menghindarkan serangan wabah penyakit dan hama tanaman. Keris dapat pula menyingkirkan dan menangkal gangguan makhluk halus. Keris juga dipercaya dapat membantu pemiliknya memudahkan pemiliknya memudahkan mencari dipercaya dapat dimanfaatkan tuahnya, sehingga benda itu dianggap bisa memberikan bantuan keselamatan bagi pemilik dan orang-orang sekitarnya.


Memang ada keris-keris yang benar-benar digunakan untuk membunuh orang, misalnya keris yang pada zaman dulu dipakai oleh algojo keraton guna melaksanakan hukuman bagi terpidana mati. Begitu pula keris-keris yang dibuat untuk prajurit rendahan. Namun kegunaan keris sebagai alat pembunuh ini pun sifatnya seremonial dan khusus, misalnya Kanjeng Kyai Balabar milik Pangeran Puger. Pada abad ke-18 keris ber-dapur Pasopati itu digunakan oleh Sunan Amangkurat Amral untuk menghukum mati Trunojoyo di alun-alun Kartasura.


Keris adalah benda seni yang meliputi seni tempa, seni ukir, seni pahat, seni bentuk, serta seni perlambang,. Pembuatannya selalu disertai doa-doa tertentu, berbagai mantera, serta upacara dan sesaji khusus. Doa pertama seorang empu ketika akam mulai menempa keris adalah memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar keris buatannya tidak akan mencelakakan pemiliknya maupun orang lain. Doa-doa itu juga diikuti dengan tapa brata dan lelaku, antara lain tidak tidur, tidak makan, tidak menyentuh lawan jenis pada saat-saat tertentu.


Bahan baku pembuatan keris adalah besi, baja, dan bahan pamor. Bahan pamor ini ada empat macam.


Pertama, batu meteorit atau batu bintang yang mengandung unsur titanium. Bahan pamor yang kedua adalah nikel. Sedangkan bahan pamor lainnya adalah senyawa besi yang digunakan sebagai bahan pokok. Biasanya, pamor jenis ketiga ini adalah besi yang yang disebut pamor Luwu. Sedangkan bahan yang keempat adalah senyawa besi dari daerah lain, yang bila dicampurkan pada bahan besi dari daerah tertentu akan menimbulkan nuansa warna serta pemanpilan yang berbeda.


Besi dan pamor ditempa berulang-ulang lalu dibuat berlapis-lapis. Pada zaman ini, umumnya paling sedikit 64 lapisan. Untuk pembuatan keris berkualitas sederhana diperlukan lapisan sebanyak 128 buah. Sedangkan yang kualitas baik harus dibuat lebih 2.000 lapisan. Baru setelah itu, untuk mendapat ketajamanan yang baik, disisipkan lapisan baja di tengahnya.


Segala benda yang tipis akan menjadi jauh lebih kuat bilamana benda itu dibuat berlapis-lapis. Teori ini sudah dikenal oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lampau. Mereka menemukan teori ini, dan mempraktikkannya, sekitar 7 atau 8 abad sebelum teknologi pembuatan tripleks atau kayu lapis (plywood) ditemukan dan diproduksi orang Barat pada awal abad ke-16.


Pemilihan akan batu meteorit yang mengandung unsur titanium, juga merupakan penemuan nenek moyang kita yang mengagumkan. Karena titanium ternyata memiliki banyak keunggulan dibandingkan jenis unsur logam lainnya. Unsur titanium itu keras, kuat, ringan, tahan panas, dan juga tahan karat. Dalam peradaban modern sekarang, titanium dimanfaatkan orang untuk membuat pelapis hidung pesawat angkasa luar, serta ujung roket dan peluru kendali antar benua.

Kaitannya dengan Budaya Lain

Selain berfungsi sebagai senjata, baik secara fisik maupun secara spiritual, keris juga merupakan salah satu kelengkapan pakaian adat -- baik di Pulau Jawa, maupun di pulau-pulau lain di luar Jawa. Selin itu masih ada beberapa fungsi keris lainnya, dalam budaya Indonesia, dan juga budaya Malaysia, Brunai, serta Thailand Selatan. Pada masa silam keris dapat berfungsi sebagai benda upacara, sebagai tanda ikatan keluarga atau dinasti, sebagai atribut suatu jabatan tertentu, sebagai lambang kekuasaan tertentu, dan sebagai wakil atau utusan pribadi pemiliknya. Pada zaman dulu, seorang utusan raja baru dipandang sah bilamana ia membawa serta salah satu keris milik raja yang mengutusnya. Bilamana seorang pegawai kerajaan (abdidalem) menduduki jabatan tertentu, pada upacara wisuda ia akan mendapat sebilah keris jabatan dari atasannya. Sampai kini, di kerajaan Brunei Darussalam, tradisi semacam itu masih tetap dilestarikan.


Dulu, kekuasaan seorang raja baru akan dipandang sah oleh rakyatnya manakala raja mengenakan salah satu keris pusaka kerajaan pada saat penobatan. Di Pulau Jawa, terutama pada masyarakat suku bangsa Jawa di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur, kalau pengantin pria berhalangan hadir pada upacara pernikahan, ia boleh mewakilkan dirinya dengan sebilah keris miliknya. Jadi, keris itulah yang akan dipersandingkan dengan pengantin putri di pelaminan. Adat yang demikian juga ada di pada masyarakat Bali. Di Sumatra Barat seorang pemuda yang hendak berangkat merantau biasanya dibekali sebilah keris oleh orang tuanya, sebagai perwujudan ikatan keluarga dan doa restu orang tua.


Keris sajen, atau keris sesaji, yang pada sebagian buku keris yang ditulis orang barat sering disebut keris Majapahit Dari berbagai prasasti yang ditemukan di Pulau Jawa diketahui bahwa keris pernah juga menjadi salah satu kelengkapan sesaji pada upacara keagamaan pada waktu itu. Bahkan di desa-desa tertentu di Pulau Jawa, pada akhir masa penjajahan Belanda, untuk melaksanakan upacara bersih desa masih pula disertakan sebilah keris kecil yang disebut keris sajen. Bersih desa adalah suatu upacara selamatan tradisional untuk memohon pada Yang Maha Kuasa agar warga desa, termasuk sawah ladangnya, terhindar dari gangguan penyakit dan hama tanaman, terlindung dari ancaman berbagai bencana alam. Upacara ini juga dimaksudkan untuk memperbaharui semacam kesepakatan atau agreement dengan makhluk halus penghuni desa itu (Sing Mbahureksa - Bhs. Jawa) untuk tidak saling mengganggu dengan penduduk desa. Keris sajen adalah keris kecil yang dibuat amat sederhana. Keris ini dalam berbagai buku yang ditulis orang Barat disebut sebagai keris Majapahit.


Jadi, penyebutan keris kecil yang sederhana itu sebagai keris Majapahit oleh sebagian orang Barat adalah salah! Yang benar adalah keris sajen. Atau, keris sesaji. Memang, budaya keris amat erat kaitannya dengan berbagai budaya lain dalam masyarakat berbagai suku bangsa di Indonesia.


Budaya Asli Indonesia
Keris adalah budaya asli Indonesia. Walaupun pada abad ke-14, nenek moyang bangsa Indonesia pada umumnya beragama Hindu dan Budha, tidak pernah ditemukan bukti bahwa budaya keris berasal dari India atau negara lain. Tidak pula ditemukan bukti adanya kaitan langsung antara senjata tradisional itu dengan kedua agama itu. Jika pada beberapa candi di Pulau Jawa ditemui adanya gambar timbul (relief) yang menggambarkan adanya senjata yang berbentuk keris,maka pada candi yang ada di India atau negara lain, bentuk senjata semacam ini tidak pernah ada.


Bahkan senjata yang berpamor, tidak pernah ada dalam sejarah India. Bentuk senjata yang menyerupai keris pun tidak pernah dijumpai di negeri itu. Dalam kitab Mahabarata dan Ramayana yang ditulis pujangga India, tidak ditemukan satu pun senjata yang bernama keris. Jenis senjata yang ada dalam buku epos agama Hindu itu adalah gendewa dan panahnya, gada, pedang, dan cakra. Tetapi tidak keris! Keris baru dijumpai setelah kedua cerita itu diadaptasi oleh orang Jawa dan menjadi cerita wayang!


Beberapa buku yang ditulis orang Barat menyebutkan bahwa di Persia (kini Iran) dulu juga pernah ada pembuatan senjata berpamor yang serupa dengan keris yang ada di Indonesia. Ini pun keliru!


Beberapa jenis senjata kuno buatan Persia memang dihiasi dengan semacam lukisan atau kaligrafi pada permukaan bilahnya. Namun penerapan teknik hiasan itu beda benar dengan pamor. Teknik menghias gambar pada permukaan yang dilakukan bilah senjata yang dilakukan di Iran adalah dengan menggores permukaan bilah itu sehingga timbul alur, kemudian ke dalam alur goresan itu dibenamkan (dijejalkan) kepingan tipis logam emas atau kuningan.


Jadi, teknik hias yang digunakan orang Iran adalah teknik inlay, yang oleh orang Jawa disebut sinarasah. Tetapi hiasan sinarasah itu sama sekali bukan pamor, melainkan hanya merupakan hiasan tambahan atau susulan. Sedangkan pamor adalah hiasan yang terjadi karena adanya lapisan-lapisan dari dua (atau lebih) jenis logam yang berbeda nuansa warna dan penampilannya, yaitu besi, baja, serta bahan pamor. Besinya berwarna kehitaman, bajanya agak abu-abu, sedangkan pamornya cemerlang keperakan. Padahal semua senjata buatan Iran, praktis hanya terbuat dari satu macam logam, yakni baja melulu.


Memang teknik pembuatan pamor pada bilah keris agak serupa dengan teknik pembuatan baja Damaskus. Pedang Damaskus atau baja Damaskus juga terbuat dari paduan dua logam yang mempunyai nuansa beda. Pedang itu pun menampilkan gambaran semacam pamor pada permukaan bilahnya.


Tetapi meskipun teknik pembuatannya hampir sama, niat dan tujuan pembuatan kedua benda itu jauh berbeda. Pedang Damaskus dibuat dengan tujuan utama membunuh lawan, senantiasa diasah tajam. Sedangkan keris dibuat untuk benda pusaka, untuk mendapat kepercayaan diri (sipat kandel - Bhs. Jawa), diharapkan manfaat gaibnya, serta tidak pernah diasah setelah keris itu jadi.


Keris berdapur Tilamsari dengan hiasan kinatah emas Di Indonesia, keris yang baik pada umumnya selain berpamor juga diberi hiasan tambahan dari emas, perak, dan juga permata. Hiasan ini dibuat untuk memuliakan keris itu, atau sebagai penghargaan Si Pemilik terhadap kerisnya. Pemberian emas dapat juga sebagai anugrah dari raja atas penghargaan terhadap jasa Si Pemilik keris itu.


Hiasan yang dinilai paling tinggi derajatnya adalah bilamana sebilah keris diberi kinatah atau tinatah. Permukaan bilah keris dipahat dan diukir denga motif tertentu sehingga membentuk gambar timbul (relief) dan kemudian dilapisi dengan emas. Terkadang, di sela-sela motif hiasan berlapis emas itu masih ditambah lagi dengan intan atau berlian.


Jika hiasan kinatah itu menutup sepertiga bagian panjang bilah atau lebih, disebut kinatah kamarogan.


Jenis motif kinatah juga banyak ragamnya. Yang paling terkenal adalah, pada bilah keris adalah kinatah lung-lungan, dan pada ganja kinatah gajah singa.

Hiasan sinarasah emas seperti yang dilakukan orang Persia kuno, tergolong lebih sederhana dibandingkan dengan kinatah. Teknik sinarasah, selain digunakan untuk menghias permukaan bilah, juga sering digunakan untuk membuat motif rajah. Yaitu gambaran yang dianggap memiliki pengaruh gaib. Misalnya rajah Kalacakra, rajah Bintang Soleman, dll.


Ditinjau dari cara dan niat pembuatannya keris dapat dibagi atas dua golongan besar. Yaitu yang disebut keris ageman, yang hanya mementingkan keindahan lahiriah (eksoteri) keris itu. Golongan dua adalah keris tayuhan, yang lebih mementingkan tuah atau kekuatan gaibnya (isoteri atau esoteri).


Ditinjau dari bentuk dan kelengkapan bagian-bagiannya, keris terbagi atas 240 dapur keris. Dari jumlah yang ratusan itu, secara umum dapat dibagi atas dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan yang berkelok-kelok bilahnya. Yang berkelok-kelok bilahnya itu disebut keris luk. Jumlah kelokan atau luknya, mulai dari tiga sampai dengan 13. Keris yang luknya lebih dari 13, dianggap sebagai keris yang tidak normal (tetapi bukan berarti tidak baik), dan disebut keris Kalawija. Sedangkan motif hiasan pamor pada bilahnya, lebih dari 150 ragam pamor.


Keris yang dibuat dalam lingkungan keraton oleh para empu keraton, umumnya diberi gelar Kyai, Kanjeng Kyai, dan Kanjeng Kyai Ageng, Selain gelar, keris juga diberi nama. Gelar dan nama keris itu tercatat dan disimpan dalam arsip keraton. Sedangkan keris milik keraton biasanya disimpan dalam ruangan khususyang disebut Gedong Pusaka.


Keris-keris yang terkenal dan disebut-sebut dalam legenda atau cerita rakyat, yang paling terkenal adalah keris Empu Gandring pada zaman Kerajaan Singasari. Keris itu konon dibuat oleh Empu Gandring atas pesanan Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung, penguasa Tumapel. Keris terkenal lainnya adalah Kanjeng Kyai Ageng Sengkelat, pusaka Keraton Majapahit yang konon pernah dicuri oleh Adipati Blambangan. Ada lagi keris Kyai Setan Kober yang dipakai oleh Arya Penangsang, sewaktu berperang melawan Danang Sutawijaya, pada awal berdirinya kerajaan Pajang.


Sedangkan di pantai timur Sumatra dan Semenanjung Malaya, yang terkenal adalah keris Si Ginje.

Cara Memakai
Cara mengenakan keris sewaktu seseorang memakai pakaian adat, berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Selain itu dalam satu daerah, kadang-kadang cara pemakaian itu juga berbeda antara lapisan masyarakat yang satu dengan lainnya, tergantung pada tingkat sosialnya. Dan itu pun harus disesuaikan, pada situasi apa keris itu akan dikenakan. Mengenai tata cara mengenakan keris ini pada setiap daerah, setiap suku bangsa, memang ada aturannya, ada etikanya.


Di Pulau Jawa, misalnya, cara mengenakan keris pada suatu pesta, tidak sama dengan kalau keris itu dikenakan untuk menghadiri suatu acara kematian dan penguburan.


Di Pulau Jawa pada umumnya keris dikenakan orang dengan cara menyelipkannya di antara stagen sejenis ikat pinggang, di pinggang bagian belakang. Yang paling umum, keris itu diselipkan miring ke arah tangan kanan, namun pada situasi yang lain, lain pula posisi keris itu. Umpamanya, pada situasi perang, kalau yang mengenakan keris itu seorang ulama - keris akan diselipkan di bagian dada, miring ke arah tangan kanan. Misalnya seperti yang dikenakan oleh Pangeran Diponegoro pada gambar-gambar yang dapat kita lihat di buku sejarah.

Mengenakan keris dengan cara moglèng menurut adat Yogyakarta

Di Pulau Bali keris dikenakan dengan cara menyelipkannya pada lipatan kain, di punggung dengan posisi tegak atau miring ke kanan. Tetapi pada situasi yang khusus, cara pemakaiannya juga lain lagi.

Mengenakan keris cara orang Bali

Di daerah Minangkabau, Bangkinang, bengkulu, Palembang, Riau, Malaysia, Brunai Darussalam, Pontianak, Sambas, Kutai, Tenggarong, Banjar, Bugis, Goa, Makassar, Luwu, dll, keris biasanya dikenakan dengan cara menyelipkannya pada lipatan kain sarung, di bagian dada atau perut Si Pemakai, dengan kedudukan serong ke arah tangan kanan.


Pada sebagian suku bangsa di Indonesia, mengenakan pakaian adat tanpa keris adalah sesuatu yang aneh, janggal, tidak masuk akal. Barangkali seperti melihat orang Eropa mengenakan jas dan dasi tetapi tanpa sepatu.

Mengenakan keris cara orang Minang, Sumatra Barat

Perjodohan

Sebagai benda antik yang banyak penggemarnya, nilai sebilah keris selain ditentukan oleh keindahannya, mutu, dan jenis bahan bakunya, juga oleh umurnya. Pada umumnya, makin tua keris itu, senjata pusaka itu akan makin dihargai. Namun penilaian terhadap mutu sebilah keris bukan hanya berdasar umur, juga keutuhan, serta beberapa faktor lainnya.


Para penggemar keris pada umumnya mempunyai pedoman umum dalam menilai sebuah keris. Pedoman itu adalah tangguh, sepuh, dan wutuh. Yang dimaksudkan adalah, perkiraan asal pembuatan keris itu (tangguh), relatif sudah tua (sepuh), dan belum ada cacat, gripis, aus, atau lepas salah satu bagiannya (wutuh). Selain itu ada pula penggemar keris yang menambah tiga kriteria di atas dengan memperhatikan bahan besinya, bahan pamornya, keindahan bentuknya, serta kebenaran pakem pembuatannya dan wibawa atau pengaruh yang terpancar dari bilah keris itu.


Di beberapa kota di Pulau Jawa ada perhimpunan penggemar dan pecinta tosan aji, terutama keris. Di Surakarta, namanya Boworoso Tosan Aji, setelah itu ada Boworoso Panitikadga. Di Yogyakarta dan Jakarta ada Pametri Wiji, singkatan dari Paheman Memetri Wesi Aji. Kemudian pada tahun 1990, di Jakarta, ada lagi Damartaji, singkatan Persaudaraan Penggemar Tosan Aji. Secara berkala, para pecinta tosan aji dan keris itu mengadakan sarasehan dan diskusi untuk membahas budaya keris dari berbagai segi.


Jual beli dalam dunia perkerisan biasanya diistilahkan dengan perjodohan. Sedangkan harganya, pada umumnya disebut mas kawin. Bilamana sebilah keris diberikan kepada seseorang tanpa mas kawin, Si Penerima keris itu harus memberikan petukan atau jemputan kepada Si Pemberi. Di Malaysia dan Brunai Darussalam, tradisi yang demikian disebut mahar atau imbal, sedangkan di Riau dan Kalimantan Barat juga menggunakan istilah jemputan.


Istilah perjodohan dalam dunia perkerisan timbul karena anggapan sebagian besar pecinta keris bahwa tidak sembarang keris dapat cocok dengan seseorang. Keris yang dianggap sesuai dan cocok bagi Si A, mungkin tidak cocok dipakai oleh si B. Keris yang cocok dan sesuai tuah atau isoterinya, disebut jodoh. Sedangkan istilah mas kawin, timbul karena anggapan bahwa istilah jual beli terlalu rendah dan kasar bila digunakan untuk menyebut adanya transaksi pada sebilah keris. Jadi, jika seseorang akan menanyakan berapa harga sebilah keris, maka ia harus berkata: "Boleh saya tahu berapa mas kawinnya?".


Bahkan, dulu bilamana seseorang menginginkan keris milik orang lain, ia bukan menyatakan hasratnya ingin membeli, melainkan mengatakan ingin melamar keris itu. "Jika diperkenankan, saya ingin melamar keris bapak yang ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng dan berpamor Wos Wutah itu..."


Itu semua dilakukan oleh orang yang hidup pada masa dulu, yakni nenek moyang kita, sebagai suatu etika, pengakuan dan penghargaan masyarakat atas tingginya kedudukan di mata masyarakat itu sendiri.

Siraman Pusaka
Khususnya di Pulau Jawa, ada tradisi memandikan atau mencuci dan mewarangi keris setahun sekali, pada saat-saat tertentu. Di Keraton Surakarta, baik Keraton Kasunanan maupun Keraton Mangkunegaran tradisi mencuci keris itu disebut Siraman Pusaka, diselenggarakan pada setiap bulan Sura menurut kalender Jawa, atau Muharam menurut sebutan kalender Hijrah. Begitu pula di Yogyakarta, baik Keraton Kasultanan maupun Keraton Pakualaman.

Tradisi itu kemudian ditiru oleh orang-orang di luar keraton, baik di Jawa Tengah, maupun di Jawa Timur. Mereka pun membersihkan kerisnya pada bulan Sura setiap tahun. Tetapi di beberapa daerah lain, tradisi membersihkan keris ini ada yang dilakukan pada bulan Maulud menurut kalender Hijrah.


Sebenarnya, tradisi tahunan semacam itu tidak selalu menguntungkan. Dengan mencuci, membersihkan, dan mewarangi keris setiap tahun, bilah keris akan cepat aus. Seharusnya, keris yang masih terawat baik tidak harus disirami setiap tahun, karena air jeruk yang digunakan sebagai pembersih pada hakekatnya juga melarutkan sebagian besi di permukaan keris itu. Sebilah keris yang terawat dengan baik, cukup dibersihkan dan diwarangi tiga atau empat tahun sekali.


Asal Usul Keris

Keris dan tosan aji serta senjata tradisional lainnya menjadi khasanah budaya Indonesia, tentunya setelah nenek moyang kita mengenal besi. Berbagai bangunan candi batu yang dibangun pada zaman sebelum abad ke-10 membuktikan bahwa bangsa Indonesia pada waktu itu telah mengenal peralatan besi yang cukup bagus, sehingga mereka dapat menciptakan karya seni pahat yang bernilai tinggi. Namun apakah ketika itu bangsa Indonesia mengenal budaya keris sebagaimana yang kita kenal sekarang, para ahli baru dapat meraba-raba.


Salah satu relief pada dinding Candi Borobudur yang memperlihatkan gambar orang mengenakan keris dengan bentuk masih sederhana Gambar timbul (relief) paling kuno yang memperlihatkan peralatan besi terdapat pada prasasti batu yang ditemukan di Desa Dakuwu, di daerah Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Melihat bentuk tulisannya, diperkirakan prasasti tersebut dibuat pada sekitar tahun 500 Masehi. Huruf yang digunakan, huruf Pallawa. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Sanskerta.


Prasasti itu menyebutkan tentang adanya sebuah mata air yang bersih dan jernih. Di atas tulisan prasasti itu ada beberapa gambar, di antaranya: trisula, kapak, sabit kudi, dan belati atau pisau yang bentuknya amat mirip dengan keris buatan Nyi Sombro, seorang empu wanita dari zaman Pajajaran. Ada pula terlukis kendi, kalasangka, dan bunga teratai.


Kendi, dalam filosofi Jawa Kuno adalah lambang ilmu pengetahuan, kalasangka melambangkan keabadian, sedangkan bunga teratai lambang harmoni dengan alam.


Beberapa Teori

Sudah banyak ahli kebudayaan yang membahas tentang sejarah keberadaan dan perkembangan keris dan tosan aji lainnya. G.B. GARDNER pada tahun 1936 pernah berteori bahwa keris adalah perkembangan bentuk dari senjata tikam zaman prasejarah, yaitu tulang ekor atau sengat ikan pari dihilangkan pangkalnya, kemudian dibalut dengan kain pada tangkainya. Dengan begitu senjata itu dapat digenggam dan dibawa-bawa. Maka jadilah sebuah senjata tikam yang berbahaya, menurut ukuran kala itu.


Sementara itu GRIFFITH WILKENS pada tahun 1937 berpendapat bahwa budaya keris baru timbul pada abad ke-14 dan 15. Katanya, bentuk keris merupakan pertumbuhan dari bentuk tombak yang banyak digunakan oleh bangsa-bangsa yang mendiami kepulauan antara Asia dan Australia. Dari mata lembing itulah kelak timbul jenis senjata pendek atau senjata tikam, yang kemudian dikenal dengan nama keris. Alasan lainnya, lembing atau tombak yang tangkainya panjang, tidak mudah dibawa kemana-mana. Sukar dibawa menyusup masuk hutan. Karena pada waktu itu tidak mudah orang mendapatkan bahan besi, maka mata tombak dilepas dari tangkainya sehingga menjadi senjata genggam.


Lain lagi pendapat A.J. BARNET KEMPERS. Pada tahun 1954 ahli purbakala itu menduga bentuk prototipe keris merupakan perkembangan bentuk dari senjata penusuk pada zaman perunggu. Keris yang hulunya berbentuk patung kecil yang menggambarkan manusia dan menyatu dengan bilahnya, oleh Barnet Kempers bukan dianggap sebagai barang yang luar biasa.


Katanya, senjata tikam dari kebudayaan perunggu Dong-son juga berbentuk mirip itu. Hulunya merupakan patung kecil yang menggambarkan manusia sedang berdiri sambil berkacak pinggang (malang-kerik, bahasa Jawa). Sedangkan senjata tikam kuno yang pernah ditemukan di Kalimantan, pada bagian hulunya juga distilir dari bentuk orang berkacak pinggang.


Perkembangan bentuk dasar senjata tikam itu dapat dibandingkan dengan perkembangan bentuk senjata di Eropa. Di benua itu, dulu, pedang juga distilir dari bentuk menusia dengan kedua tangan terentang lurus ke samping. Bentuk hulu pedang itu, setelah menyebarnya agama Kristen, kemudian dikembangkan menjadi bentuk yang serupa salib.


Dalam kaitannya dengan bentuk keris di Indonesia, hulu keris yang berbentuk manusia (yang distilir), ada yang berdiri, ada yang membungkuk, dan ada pula yang berjongkok, Bentuk ini serupa dengan patung megalitik yang ditemukan di Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dalam perkembangan kemudian, bentuk-bentuk itu makin distilir lagi dan kini menjadi bentuk hulu keris (Di Pulau Jawa disebut deder, jejeran, atau ukiran) dengan ragam hias cecek, patra gandul, patra ageng, umpak-umpak, dlsb.


Dalam sejarah budaya kita, patung atau arca orang berdiri dengan agak membungkuk, oleh sebagian ahli, diartikan sebagai lambang orang mati. Sedangkan patung yang menggambarkan manusia dengan sikap sedang jongkok dengan kaki ditekuk, dianggap melambangkan kelahiran, persalinan, kesuburan, atau kehidupan. Sama dengan sikap bayi atau janin dalam kandungan ibunya.


Ada sebgian ahli bangsa Barat yang tidak yakin bahwa keris sudah dibuat di Indonesia sebelum abad ke-14 atau 15. Mereka mendasarkan teorinya pada kenyataan bahwa tidak ada gambar yang jelas pada relief candi-candi yang dibangun sebelum abad ke-10. SIR THOMAS STAMFORD RAFFLES dalam bukunya History of Java (1817) mengatakan, tidak kurang dari 30 jenis senjata yang dimiliki dan digunakan prajurit Jawa waktu itu, termasuk juga senjata api. Tetapi dari aneka ragam senjata itu, keris menempati kedudukan yang istimewa.


Disebutkan dalam bukunya itu, prajurit Jawa pada umumnya menyandang tiga buah keris sekaligus. Keris yang dikenakan di pinggang sebelah kiri, berasal dari pemberian mertua waktu pernikahan (dalam budaya Jawa disebut kancing gelung). Keris yang dikenakan di pinggang kanan, berasal dari pemberian orang tuanya sendiri. Selain itu berbagai tata cara dan etika dalam dunia perkerisan juga termuat dalam buku Raffles itu. Sayangnya dalam buku yang terkenal itu, penguasa Inggris itu tidak menyebut-nyebut tentang sejarah dan asal usul budaya keris.


Sementara itu istilah ‘keris’ sudah dijumpai pada beberapa prasasti kuno. Lempengan perunggu bertulis yang ditemukan di Karangtengah, berangka tahun 748 Saka, atau 842 Masehi, menyebut-nyebut beberapa jenis sesaji untuk menetapkan Poh sebagai daerah bebas pajak, sesaji itu antara lain berupa ‘kres’, wangkiul, tewek punukan, wesi penghatap.


Kres yang dimaksudkan pada kedua prasasti itu adalah keris. Sedangkan wangkiul adalah sejenis tombak, tewek punukan adalah senjata bermata dua, semacam dwisula.


Pada lukisan gambar timbul (relief) Candi Borobudur, Jawa Tengah, di sudut bawah bagian tenggara, tergambar beberapa orang prajurit membawa senjata tajam yang serupa dengan keris yang kita kenal sekarang. Di Candi Prambanan, Jawa Tengah, juga tergambar pada reliefnya, raksasa membawa senjata tikam yang serupa benar dengan keris. Di Candi Sewu, dekat Candi Prambanan, juga ada. Arca raksasa penjaga, menyelipkan sebilah senjata tajam, mirip keris.


Sementara itu edisi pertama dan kedua yang disusun oleh Prof. P.A VAN DER LITH menyebutkan, sewaktu stupa induk Candi Borobudur, yang dibangun tahun 875 Masehi, itu dibongkar, ditemukan sebilah keris tua. Keris itu menyatu antara bilah dan hulunya. Tetapi bentuk keris itu tidak serupa dengan bentuk keris yang tergambar pada relief candi. Keris temuan ini kini tersimpan di Museum Ethnografi, Leiden, Belanda. Keterangan mengenai keris temuan itu ditulis oleh Dr. H.H. JUYNBOHL dalam Katalog Kerajaan (Belanda) jilid V, Tahun 1909. Di katalog itu dikatakan, keris itu tergolong ‘keris Majapahit‘, hulunya berbentuk patung orang, bilahnya sangat tua. Salah satu sisi bilah telah rusak. Keris, yang diberi nomor seri 1834, itu adalah pemberian G.J. HEYLIGERS, sekretaris kantor Residen Kedu, pada bulan Oktober 1845. Yang menjadi residennya pada waktu itu adalah Hartman. Ukuran panjang bilah keris temuan itu 28.3 cm, panjang hulunya 20,2 cm, dan lebarnya 4,8 cm. Bentuknya lurus, tidak memakai luk.


Mengenai keris ini, banyak yang menyangsikan apakah sejak awalnya memang telah diletakkan di tengah lubang stupa induk Candi Borobudur. Barnet Kempres sendiri menduga keris itu diletakkan oleh seseorang pada masa-masa kemudian, jauh hari setelah Candi Borobudur selesai dibangun. Jadi bukan pada waktu pembangunannya.


Ada pula yang menduga, budaya keris sudah berkembang sejak menjelang tahun 1.000 Masehi. Pendapat ini didasarkan atas laporan seeorang musafir Cina pada tahun 922 Masehi. Jadi laporan itu dibuat kira-kira zaman Kahuripan berkembang di tepian Kali Brantas, Jawa Timur. Menurut laporan itu, ada seseorang Maharaja Jawa menghadiahkan kepada Kaisar Tiongkok "a short swords with hilts of rhinoceros horn or gold (pedang pendek dengan hulu terbuat dari dari cula badak atau emas). Bisa jadi pedang pendek yang dimaksuddalam laporan itu adalah protoptipe keris seperti yang tergambar pada relief Candi Borobudur dan Prambanan.


Sebilah keris yang ditandai dengan angka tahun pada bilahnya, dimiliki oleh seorang Belanda bernama Knaud di Batavia (pada zaman Belanda dulu). Pada bilah keris itu selain terdapat gamabar timbul wayang, juga berangka tahun Saka 1264, atau 1324 Masehi. Jadi kira-kira sezaman dengan saat pembangunan Candi Penataran di dekat kota Blitar, Jawa Timur. Pada candi ini memang terdapat patung raksasa Kala yang menyandang keris pendek lurus.


Gambar yang jelas mengenai keris dijumpai pada sebuah patung siwa yang berasal dari zaman Kerajaan Singasari, pada abad ke-14. Digambarkan dengan Dewa Siwa sedang memegang keris panjang di tangan kanannya. Jelasini bukan tiruan patung Dewa Siwa dari India, karena di India tak pernah ditemui adanya patung Siwa memegang keris. Patung itu kini tersimpan di Museum Leiden, Belanda.


Pada zaman-zaman berikutnya, makin banyak candi yang dibangun di Jawa Timur, yang memiliki gambaran keris pada dinding reliefnya. Misalnya pada Candi Jago atau Candi Jajagu, yang dibangun tahun 1268 Masehi. Di candi itu terdapat relief yang menggambarkan Pandawa (tokoh wayang) sedang bermain dadu. Punakawan yang terlukis di belakangnya digambarkan sedang membawa keris. Begitu pula pada candi yang terdapat di Tegalwangi, Pare, dekat Kediri, dan Candi Panataran. Pada kedua candi itu tergambar relief tokoh-tokoh yang memegang keris.


Cerita mengenai keris yang lebih jelas dapat dibaca dari laporan seorang musafir Cina bernama Ma Huan. Dalam laporannya Yingyai Sheng-lan di tahun 1416 Masehi ia menuliskan pengalamannya sewaktu mengunjungi Kerajaan Majapahit.


Ketika itu ia datang bersama rombongan Laksamana Cheng-ho atas perintah Kaisar Yen Tsung dari dinasti Ming. Di Majapahit, Ma Huan menyaksikan bahwa hampir semua lelaki di negeri itu memakai pulak, sejak masih kanak-kanak, bahkan sejak berumur tiga tahun. Yang disebut pulak oleh Ma Huan adalah semacam belati lurus atau berkelok-kelok. Jelas ayang dimaksud adalah keris.


Kata Ma Huan dalam laoparan itu: These daggers have very thin stripes and within flowers and made of very best steel; the handle is of gold, rhinoceros, or ivory, cut into the shapeof human or devil faces and finished carefully.


Laporan ini membuktikan bahwa pada zaman itu telah dikenal teknik pembuatan senjata tikam dengan hiasan pamor dengan gambaran garis-garis amat tipis serta bunga-bunga keputihan. Senjata ini dibuat dengan baja berkualitas prima. Pegangannya, atau hulunya, terbuat dari emas, cula badak, atau gading.


Salah satu panil relief di Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu. Tak pelak lagi, tentunya yang dimaksudkan Ma Huan dalam laporannya adalah keris yang kita kenal sekarang ini.


Gambar timbul mengenai cara pembuatan keris, dapat disaksikan di Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada candra sengkala memet di candi itu, terbaca angka tahun 1316 Saka atau 1439 Masehi.


Cara pembuatan keris yang digambarkan di candi itu tidak jauh berbeda dengan cara pembuatan keris keris pada zaman sekarang. Baik peralatan kerja, palu dan ububan, maupun hasil karyanya berupa keris, tombak, kudi, dll.


Teori Itu Tak Selalu Benar

Bagi sebagian besar pecinta keris dan tosan aji di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli Barat itu banyak sekali mengandung kelemahan, dan terkadang bahkan tidak logis.


Satu hal yang tidak ‘tertangkap’ dalam alam pikir para ahli Barat, adalah bahwa keris dibuat orang (para empu) sama sekali bukan dengan maksud untuk digunakan sebagai alat pembunuh. Banyak buku yang ditulis orang Barat menyebut keris sebagai salah satu senjata tikam atau stabbing weapons. Buku-buku Barat pada umumnya memberi kesan bahwa keris serupa atau sama saja dengan belati atau ponyard (poignard).


Padahal ada perbedaan sangat besar dan mendasar di antara mereka. Belati, sangkur, atau poyard memang sengaja dibuat untuk menusuk lawan, melukai atau membunuhnya, sedangkan keris tidak. Keris dibuat terutama untuk digunakan sebagai pusaka atau sipat kandel, yang dipercaya dapat melindungi serta memberi keselamatan dan kesejahteraan pemiliknya.


Kekeliruan lain yang terasa agak menyakitkan hati, adalah penyebutan keris-keris sajen sebagai keris Majapahit oleh sebagian buku yang ditulis oleh orang Barat. Bagi orang Indonesia, terutama suku bangsa Jawa, keris Majapahit adalah salah satu produk budaya yang indah dan relatif sempurna -- yang sama sekali tidak dapat disamakan dengan keris sajen yang dibuat amat sangat sederhana.


Dari uraian ringkas di atas, cukup beralasan bagi kita kalau memperkirakan bahwa keris sudah mulai dibuat di Indonesia, Di Pulau Jawa, pada abad ke-5 atau 6. Tentu saja dalam bentuk yang masih sederhana.


Keris mencapai bentuknya seperti yang kita kenal sekarang, diperkirakan baru pada sekitar abad ke-12 atau 13. Budaya keris mencapai puncaknya pada zaman Kerajaan Majapahit, seperti yang telah dilaporkan oleh Ma Huan. Pada kala itulah budaya keris menyebar sampai ke Palembang, Riau, Semenanjung Malaya, Brunei Darussalam, Filipina Selatan, Kamboja atau Champa, bahkan sampai ke Surathani dan Pathani di Thailand bagian selatan.


Budaya keris terkadang disalah mengertikan oleh sebagian peneliti Barat, sehingga hasil tulisan mereka terkadang tidak sesuai dengan alam budaya bangsa Indonesia.

 
  • Ceriwis

    Ceriwis
    Forum Gaul
  • Follower

  • About Me

    My photo
    It's Not Who I Am Underneath, but what I do that defines me.