• Sebuah Perjalanan

    Perjalanan apapun, dimulai dari sebuah langkah kecil.

  • Singha Barwang

    Singha Barwang / Macan Ali adalah simbol kerajaan di Cirebon. Merupakan kaligrafi berbentuk seekor singa.

  • Makrifatullah

    MAKRIFAT IALAH :Mengenal Allah SWT.pada Zat-nya,pada Sifat-nya,pada Asma'nya dan pada Af'al-nya.

  • Rajah Kalacakra

    Ilmu Rajah KalaCakra merupakan ilmu untuk menyerang makhluk halus yang mengganggu kita.

  • Abdul Jabbar

    لا فتى إلا علي ولا سيف إلا ذوالفقار

Friday, July 8, 2011

Keris dan Psikologi



Empu-empu kita ternyata juga ahli psikoanalisa. Entah ini cuma suatu kebetulan, atau para empu kita dulu dalam berkarya memang telah memikirkan jauh, akan muatan-muatan kejiwaan di dalam karyanya.


Psikoanalisa Keris
Psikoanalisa yang memiliki teori, bahwa kejiwaan manusia terbagi menjadi tiga, yaitu id, ego dan super ego. Id yang berada di alam bawah sadar manusia, memberikan dorongan – dorongan nafsu liar. Nafsu primitif tersebut sangat explosif, selalu minta untuk tersalurkan, yang paling menonjol adalah libido seksual.


Ego sendiri merupakan sisi kejiwaan yang mampu mengerem laju nafsu liar tersebut. ego menjembatani antara id dan super ego. Super ego adalah sisi kejiwaan individu yang mana di dalamnya terkandung unsur-unsur moralitas. Unsur-unsur tersebut seperti halnya sopan santun, agama, aktualisai diri dan semu hal yang mengandung kebaikan secara sosial ataupun transendental.

Bahan keris yang terdiri baja, besi dan pamor dapat dibaca atau diterjemahkan seperti halnya id, ego dan super ego. Baja yang memiliki karakter keras, tajam, mudah patah dan terletak paling dalam pada bilah keris mewakili sifat-sifat yang terkandung dalam id, yang terletak di alam bawah sadar manusia. bahaya dan sangat mencelakakan akan ditimbulkan oleh id maupun baja.

Pada keris besi terletak di lapisan luar baja, besi memiliki kelenturan berfungsi sebagai tempat menempelnya baja dan pamor, dapat di artikan sebagai ego. Pamor yang bersifat lebih tahan dari karat, menancap pada lapisan besi, nampak di permukaan bilah memperindah tampilan sebuah keris. Sehingga pamor dapat di baca sebagai perwujudan super ego manusia.

Cara Merawat Keris



Pastilah semua orang yang mengenal budaya jawa khususnya Keris akan mengetahui bagaimana tata cara merawat keris yang benar sehingga keris sebagai pusaka akan tetap awet dan terawat dengan baik. Namun ada juga yang hanya mengenal tehnik dan tata cara perawatan keris ini hanya sepenggal-sepenggal sehingga antara perawatan dan pelestarian budaya menjadi saling bertentangan. Merawat Keris yang benar adalah yang seperti dilakukan oleh keraton, baik dari Surakarta maupun Yogyakarta.


Perawatan Keris

Keris dibersihkan tiap satu tahun sekali, hal ini seperti yang dilakukan pihak keraton, bisa dilakukan pada bulan Besar, Sura atau Maulud, atau juga bulan yang lain yang anda sukai, ini tergantung dari kepercayaan kita masing-masing. Pembersihan ini secara menyeluruh baik eksoteri maupun isoteri. Pembersihan ini dimaksudkan agar selama satu tahun penyimpanan keris ditempat kita jika mungkin ada karat yang menempel maka harus segera dibersihkan dan dihilangkan agar tidak merusak keris tersebut. Proses ini bisa mulai dari mutih kemudian mewarangi dan memiyaki keris, namun jika keris tidak berkarat maka cukup dibilas dengan air bersih lalu dikeringkan dan diminyaki kembali. Keris dibersihkan tiap bulan sekali dengan cara mengolesi bilah keris dengan minyak yang bebas dari alkhohol. Hal ini dimaksudkan agar sumber karat yang melekat pada besi keris hilang. Jenis minyak dapat menggunakan campuran dari minyak cendana, melati dan kenanga atau sesuai selera masing-masing.


Menyimpan keris yang benar didalam rumah harus juga memperhatikan beberapa hal, seperti tinggi tempat penyimpanan, lembab tidaknya tempat penyimpanan dan cocok tidaknya tempat penyimpanan. Kenapa tempat penyimpanan harus tinggi ? Hal ini dimaksudkan agar anak-anak kita tidak dengan mudah menjangkaunya, bagaimanapun juga keris adalah benda tajam yang berbahaya.


Wassalam...

Cara Memakai Keris



Adapun beberapa tata cara mengenakan keris Versi Yogyakarta tersebut adalah:

  • Klabang pipitan,cara mengenakan keris paling populer di Jogjakarta ketika sedang siaga, di surakarta disebut ngogleng
  • Ngogleng, ketika seseorang ingin menonjolkan dirinya di depan umum, di Solo disebut ngogleng methit
  • Lele Sinundukan atau satriyo keplayu, cara ini dilakukan ketika melalukan aktivitas yang membutuhkan banyak gerak
  • Munyuk Ngilo, dikenakan para pengelana
  • Mangking, dilakukan ketika sedang naik kuda
  • Netep, dikenakan dalam posisi berdiri dan melakukan banyak aktivitas
  • Nyothe kiwa, dilakukan pada saat siaga atau genting di Solo dikenal dengan nama kempitan kiwa
  • Kewalan, dilakukan oleh para parajurit yang bersenjatakan pedang dan para penari kelana
  • Nganggar, dilakukan para prajurit yang membawa senjata sambil mengenakan keris



Versi Jogyakarta

Adapun beberapa tata cara mengenakan keris Versi Surakarta tersebut adalah: :

  • Turut Bokong, yaitu yang dilakukan abdi dalem gandek ketika menyerahkan sesuatu pada yang berpangkat atau bangsawan
  • Kureban, biasa dipakai para prajurit infantri yang memanggul senjata sambil mengenkan keris
  • Kempitan tengan, cara memakai untuk melindungi kerisnya
  • Kempitan kiwa untuk keadaan waspada di dalam suasana perang atau derah yang kurang aman
  • Nganggar yaitu disandang di paha kiri, cara ini dilakukan bila seseorang ingin mengenkan keris lebih dari satu keris
  • Ngogleng, yaitu dikenakan ketika sedang berjalan jongkok, cara menggunakan ngogleng ada tiga yaitu ngogleng, ngogleng tanggung, ngogleng methit
  • Kewalan, dipakai pada saat menunggang kuda prajurit penunggang kuda
  • Nyothe ngajeng, cara mengenakan para rohaniawan atau ulama
  • Nyothe wingking, dilakukan para pembesar ketika sedang menunggang kuda
  • Nyothe methit, dilakukan para petinggi keraton hendak duduk bersila menghadap raja.

Cocok Tidaknya Keris dengan Pemilik



Setelah memiliki sebuah keris baik dari warisan, pemberian, membeli atau mencari dengan berbagai macam cara, maka muncullah pertanyaan dibenak pemilik keris itu :

“Apakah keris ini cocok dengan saya ?”

“Apakah keris ini cocok dengan keluarga saya ?”

“Apakah keris ini cocok dengan usaha saya ?”

“Apakah keris ini cocok dengan agama saya ?”

“Apakah keris ini cocok dengan istri dan anak-anak saya ?”


Mungkin masih banyak pertanyaan - pertanyaan yang sejenis yang akan muncul ketika keris sudah ditangan. Bagaimana menjawab pertanyaan diatas ?


Baiklah ada sedikit pengalaman pribadi yang pernah saya alami mungkin dapat dipakai sebagai pembelajaran dan perbandingan.


1. Memiliki keris dengan niat pertama nguri-uri (melestarikan) budaya, dengan niat ini maka kita tidak akan terjerumus pada kemusrikan / kesyirikan, karena yang kita nilai dari sebuah keris adalah budayanya bukan dayanya/isinya, jika sebuah keris ada tuahnya , ini terjadi atas ijin ALLAH SWT, kita serahkan kembali kepadaNYa.


2.Keris yang baik akan datang kepada kita lewat berbagai macam cara dengan cara memberi tahu kita disaat tidur atau sedang terjaga (Lewat tayuh), Keris yang datang tidak dengan tayuh dapat dipastikan tidak akan cocok dengan kita atau keris tersebut keris baru bukan sebuah keris tangguh sepuh. Kita harus yakin dan percaya bahwa setiap petunjuk yang baik itu pasti bersumber dari ALLAH SWT, sedang kabar yang jahat dan buruk bersumber dari syaitan.


3. Nah dari Tayuhan yang datang tersebut kita dapat meperkirakan keris tersebut cocok atau tidak dengan kita, keluarga kita, bisnis kita atau orang-orang disekitar kita. kenapa sampai ada tayuh ? jawabnya adalah semua benda dialam ini diciptakan ALLAH untuk dimanfaatkan seluas-luasnya bagi manusia, ada benda-benda yang memiliki daya ada juga yang tidak. jika kita membeli kursi atau meja ditoko dan kemudian dikirimkan ke rumah kita pasti tidak akan ada firasat yang datang kepada kita berhubungan dengan pembelian tersebut. Tapi jika istri kita mengandung anak kita pastilah kita akan diberi petunjuk oleh ALLAH lewat mimpi yang beraneka ragam yang mengisyarkatkan bahwa kita akan diberi Seorang anak atau lebih tepatnya dititipi seorang anak. ini semua kuasa dari ALLAH.


4. Setelah keris kita simpan dirumah, perlu dicek apa saja yang terjadi setelah keris itu datang, apakah sering bertengkar dengan anggota keluagra lain, anak sering rewel, tetangga memusuhi, atau pimpinan dan rekan kerja acuh tak acuh dengan kita ? Jika ini terjadi berarti keris yang ada tidak sesuai dengan pribadi kita. Namun jika setelah keris itu datang kita jadi rajin sholat, banyak teman yg berkunjung kerumah, banyak saudara yang berkunjung kerumah juga, banyak order penjualan, rekan bisnis kita jadi sayang dan patuh pada kita, anak-anak dirumah patuh dan taat pada kita, ini artinya berkah dari ALLAH SWT datang lewat keris tersebut. Dan keris tersebut cocok dengan kita, keluarga, bisnis dan anggota keluarga yg lain.


semoga bermanfaat

Daya Linuih Pusaka Leluhur



Bicara soal pusaka2 kita tunduk dan hormat kepada leluhur dengan ilmu pengetahuan leluhur karena leluhur kita itu toto, titi, gemi, nastiti, ati-ati. Kita harus menghormati leluhur walaupun berbeda agama dan tidak benar kalau leluhur kita menganut Animisme.

Tentang Pusaka2 Leluhur dimana pusaka leluhur ada 2 macam :

1. Wujud : Tosan aji.

2. Tidak Wujud : Ajaran.


Meremehkan pusaka berarti meremehkan leluhur kita karena pusaka dibuat oleh beliau-beliau. Pusaka membuka rahasia-rahasia alam.


Keris jumlahnya banyak sekali karena sesuai dengan rahasia alam dengan frekwensi-frekwensinya. Leluhur membuat keris dengan frekwensi-frekwensi umum sesuai dengan yang dibutuh-kan untuk menaikkan derajadnya.


Kitab-kitab suci harus dijabarkan untuk mendapatkan apa yang tersirat demikian juga pusaka harus dijabarkan.


Zat-zat di dalam tubuh yang dapat diolah oleh pusaka :

- Astral Magnetisme.

- Kriya Sakti.

- Kundalini.

- Rahsa.

- Roh.

- Bayu.


Ketinggian bangunan bisa mempengaruhi seseorang untuk dapat terolah. Antara manusia dengan keris terjadi hubungan tarik-menarik :

- Mula-mula tingkat daya pada manusia ada di bawah daya keris.

- Daya pada manusia ditarik / diangkat oleh daya keris.


Manusia dalam keadaan diolah oleh keris.

- Daya pada manusia setingkat dengan daya keris.


Manusia sudah menyatu dengan keris.

- Daya pada manusia berkembang ke tingkat yang lebih tinggi dari daya keris.

- Daya pada keris ditarik / diangkat naik bersama-sama dengan daya pada manusia ke udara, daya keris diudarakan oleh manusia.


Sebaiknya supaya tidak mempunyai ambisi di dalam memiliki pusaka. Pusaka (dan juga batu) dayanya cocok-cocokan dengan seseorang.


Hal semacam ini termasuk dalam Cakra Manggilingan. Kalau dulu pusaka itu miliknya / buatan leluhurnya / milik leluhurnya maka sekarang akan menjadi miliknya lagi. Orang lain mencari (ingin mendapatkan) pusaka itu tidak mendapatkan, tetapi orang ini tidak mencari malah mendapatkan pusaka itu.


Jika ada pusaka di dalam keluarga maka harus dikuasai benar dan dipesankan kepada keturunan bahwa nantinya akan mengalami hal-hal yang tidak wajar supaya keturunan nantinya tidak menjadi bingung dan tidak tahu harus bertanya kemana.


Jika seorang diberi pusaka pertama kali biasanya pusaka akan diganti-ganti,sampai pada suatu saat pusaka yang diberikan adalah pusaka tetap artinya dia sudah kuat oleh daya pusaka tersebut yang isinya semua daya-daya dari pusaka-pusaka sebelumnya ada pada pusaka yang ampuh tersebut.


Pusaka yang sudah menyatu atau manunggal dengan badan halus manusia, maka pusaka itu apabila hilang akan dapat kembali lagi bersamaan dengan pijaran sinar di dekat jantung. Dan jika orang tersebut meninggal dunia maka bersamaan dengan itu ujung pusaka tersebut lepas menembus rangkanya. Orang yang sudah manunggal dengan pusaka biasanya hanya mempunyai satu pusaka itu saja.


Jika suatu pusaka sudah menyatu dengan sesorang maka daya pusaka itu sudah ada di badan orang tersebut (sudah terolah sehingga mempunyai daya pusaka tersebut), tanpa adanya pusaka tersebut maka badan orang tersebut bisa memancarkan daya seperti daya pusaka tersebut.


Di dalam menghunus pusaka hendaknya harus terhunus seluruhnya, jika seandainya terbuka hanya setengah lalu dimasukkan kembali maka apabila kita membatin / berjanji akan tertulis seperti apa yang telah ditetapkan.


Bila sedang menghunus pusaka dan gerak dari pusaka tersebut mengarah kebawah itu tandanya adalah putusan sesuai dengan apa yang dimohon.


Memandikan Pusaka :

Dengan campuran : air nanas (2) dan air kelapa (1). Setelah karat bersih lalu dibersihkan dengan air kemudian diangin-anginkan (dikeringkan tanpa dilap dan jangan terkena sinar matahari langsung), terakhir setelah kering diberi minyak wangi melati atau apa saja (mawar, cempaka, dll).

Waktu yang baik untu pembersihan pusaka: Boleh pada bulan Suro atau bulan Maulud, didalam bulan Suro sebaiknya setelah hari ke sepuluh karena dari tanggal 1 sampai tanggal 10 Suro, pusaka Keraton Yogya dan Solo sedang dimandikan dan dikhawatirkan terjadi benturan daya.



Pengolahan pusaka : 1 set.

* Bagian kiri (cakra X) :

- Getaran masuk dari sebelah kiri badan.

- Menerima kuliah.

- Ilmunya Syeh Maulana Magribhi.

* Bagian kanan (cakra XI) :

- Getaran masuk dari sebelah kanan badan.

- Wisuda tapi belum skop luas.

- Ilmunya Syeh Abdul Kadir Jaelani.

* Bagian tengah (cakra VII) :

- Getaran masuk dari bagian tengah badan.

- Sudah bisa mengobati dan mendayagunakan daya dari alam/jagad.

- Ilmunya Syeh Jumadil Qubro. Jumadil Qubro = Jumbuh Karo

Adiling Jagad = Ketemu dengan adilnya jagad. Qubro = Jagad.


Arti dari pada angka (daya yang berlaku dan luk pada pusaka) :

1 = Manusia.

2 = Manunggaling Kawulo Gusti.

3 = Allah, Muhammad, Rasullullah = Bapa, Putera, Roh Kudus.

= Sang Hyang Nur Cahyo, Pikulun Podo Wenang, Ismoyo (Jinangkungan).

4 = Nafsu-nafsu manusia.

5 = Utusan (Honocoroko).

6 = Nentoake (Menentukan / Menetapkan).

7 = Pitulungan (Pertolongan).

8 = Turunnya Mahkuto Romo.

9 = Wali Songo (Ilmu Tuhan).

0 = Makrifatullah.

10 = Manusia yang mendekatkan diri ke Tuhan (Tuhan Sendiri).

11 = Manusia dengan Tuhannya (Dhat / Atom Allah).

12 = Apostle (Pengikut / Murid Kristus).


Contoh :

Luk 25 artinya : 2 = Manunggaling Kawulo Gusti, 5 = Utusan.

Jadi luk 25 artinya manunggaling kawulo gusti, dhat diolah agar menjadi utusan, dayanya : jika kita semedi maka para malaikat akan turun dan beliaupun akan turun.


Luk 5 mengolah manusia menjadi utusan yaitu menjadi manusia yang relnya lurus di jalan Allah (moral, mental, watak, sifat, perilaku, spiritual dan pembawaan yang terpuji).


Luk 17 artinya : 1 : Manusia. 7 : Langit-langit


Jadi luk 17 artinya kontak dengan para leluhur dari lapisan-lapisan langit.


Luk 12 artinya mengolah manusia dari sifat 12 apostle untuk menjadi pengikut Kristus yang sejati (Podo Wenang), berjalan di jalan yang lurus (12 sifat manusia yang seperti 12 apostle akan diluruskan)


Arti angka pada badan manusia (bagian yang mengalami pengolahan) :

1 = Daerah Sex.?

2 = Pusar.?

3 = Solar Plexus.?

4 = Ulu Hati.?

5 = Bahu Kiri Kanan.?

6 = Punuk.?

7 = Leher.?

8 = Kepala.

9 = Jantung.

Contoh :

Wahyu Makuto Romo kodenya angka 8, 8 = angka kepala.

Jadi untuk mendapatkan Wahyu Makuto Romo maka bagian badan yang terolah adalah kepala.


Khodam adalah isi keris, bukan daya dari keris.

Tingkat dasar seseorang bisa mengetahui isi keris, syaratnya orang tersebut sudah terbuka Shadiqul Wa'dnya (Atom yang tak pernah ingkar) sehingga bisa mendapatkan keterangan yang sejelas-jelasnya.


Apabila orang-orang banyak mengetahui daya dari pusaka-pusaka maka dikhawatirkan akan mengakibatkan pencurian pusaka-pusaka.


Keris Yang Baik


Semakin kita mempelajari dan menggeluti budaya keris semakin kita akan terus menikmati indahnya petualangan-petualangan yang berhubungan dengan keris tersebut. Kenapa menikmati indahnya pengalaman padahal kadang kita mendapatkan sebuah pengalaman pahit dalam mendapatkan sebuah keris?


Benar sekali, saat ini memang pahit tapi nantinya pengalaman itu bisa menjadikan kita semakin pandai dan sulit untuk ditandinggi, disinilah letak nikmat dan indahnya pengalaman itu. Dari proses perburuan sebuah keris kita akan mendapatkan keris yang kita perkirakan keris yang baik.


Maksudnya keris yang baik adalah keris yang sesuai dengan selera kita :

• Ada yang berselera keris dari sisi isi atau tuahnya,

• ada yang dari sisi garapnya,

• ada yang dari sisi pamornya atau

• ada juga yang dari sisi mitos semata.


Karena terinspirasi oleh suatu hal maka dicarilah sebuah keris dari hasil inspirasi tersebut atau membuat sebuah dapur keris berdasarkan inspirasi yang telah diterimanya.


Nah dari sini kita akan mengetahui perbuatan kita ini setelah 5 atau 10 tahun kemudian setelah kita mengetahui budaya keris dengan baik dan benar. Ternyata keris yang dulu diburu sampai keujung pulau hanya sebuah keris biasa pada umumnya, dan bukan sebuah keris yang baik.


Terus seperti apa keris yang baik itu ?


Mudah jawabannyan :

  1. Keris yang baik bagi seseorang adalah keris yang cocok dan bermanfaat bagi pemilik keris, ini jika kita lihat dari sisi isoteri keris.
  2. Keris yang baik adalah keris yang mengikuti pakem perkerisan, garap, ukuran, ketelitian, keseimbangan, pamornya, kandungan besi, baja dan pasikutannya, ini jika kita lihat dari sisi perhitungannya atau eksoteri.

Nah dari dua jawaban diatas akhirnya tinggal si pemilik keris itu sendiri ingin memiliki keris yang baik yang seperti apa ?

Alangkah baiknya kedua jawaban tersebut dipakai sebagai ukuran dalam mencari dan memiliki sebuah keris, keris harus benar dari sisi eksoteri dan cocok dari sisi isoteri. Akhirnya kita akan mendapatkan sebuah keris yang baik secara Garap dan cocok berdasarkan isi atau tayuhannya.

 
  • Ceriwis

    Ceriwis
    Forum Gaul
  • Follower

  • About Me

    My photo
    It's Not Who I Am Underneath, but what I do that defines me.