• Sebuah Perjalanan

    Perjalanan apapun, dimulai dari sebuah langkah kecil.

  • Singha Barwang

    Singha Barwang / Macan Ali adalah simbol kerajaan di Cirebon. Merupakan kaligrafi berbentuk seekor singa.

  • Makrifatullah

    MAKRIFAT IALAH :Mengenal Allah SWT.pada Zat-nya,pada Sifat-nya,pada Asma'nya dan pada Af'al-nya.

  • Rajah Kalacakra

    Ilmu Rajah KalaCakra merupakan ilmu untuk menyerang makhluk halus yang mengganggu kita.

  • Abdul Jabbar

    لا فتى إلا علي ولا سيف إلا ذوالفقار

Friday, August 20, 2010

Ucapan-Ucapan Singkat Imam Ali (Bag. 2)

  • Tiada kekayaan lebih utama daripada akal. Tiada kepapaan lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan lebih baik daripada pendidikan. Dan tiada pembantu lebih baik daripada musyawarah.

  • Kesabaran itu ada dua macam : sabar atas sesuatu yang tidak kauingini,dan sabar menahan diri dari sesuatu yg kauingini.

  • Kekayaan adalah tanah air,meskipun seorang berada di negeri yang asih,dan kemiskinan adalah keterasingan sekalipun seseorang berada di negeri sendiri.

  • Qana`ah adalah kekayaan yang takkan ada habisnya.

  • Harta adalah bahan utama pelampiasan hawa nafsu.

  • Orang yang membuatmu berhati hati, sama sperti yang membawakan berita baik untukmu.

  • Lidah itu laksana seekor binatang buas, bila dilepaskan pasti membunuh.

  • Kehilangan orang orang yang sangat dicintai, adalah bentuk keterasingan .

  • Kehilangan sesuatu yang sangat diperlukan lebih ringan dihati daripada mencari sesuatu pada orang orang yang berbudi rendah.

  • Jangan sekali kali merasa malu memberi walapun sedikit,sebab tidak memberi sama sekali pasti lebih sedikit nialinya.

  • Menjaga air muka adalah hiasan bagi orang yang miskin sebagaimana syukur adalah hiasan bagi yang kaya

  • Apabila sesuatu yang kausenangi tidak terjadi ,sengangilah apa yang terjadi.

  • Barangsiapa mengangkat dirinya sebgai pemimpin ,hendaklah ia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingakh lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lidahnya.orang yang menajdi pendidik bagi dirinya lebih patut di hormati daripada mengajri orang lain .

  • Setiap napas seseorang adlah sebuah langkah menuju ajalnya.

  • Ambillah hikmah dimanapun ia berada.Adakalanya himah bersemayam di

  • hati orang munafik,namun ia akan gelisah dan takkan berdiam diri sampai berhasil keluar dan bergabung dengan kawan kawannya di dalam dada si mukmin.

  • Hikmah adalah sesuatu yang senantiasa di cari cari oleh setiap mukmin ,maka ambillah ia walaupun dari orang orang manufik.

  • Nilai seseorang sesuai dengan sesuatu yang pandai dikerjakannya.

  • Sungguh aku merasa heran terhadap orang yang putus asa ( akan ampunan Allah ) sementara ia masih memiliki kesempatan untuk bertaubat.

  • Anda disebut sebagai orang yang beruntung bukan dengan bertambhanya harta dan putra,tetatpi dengan bertambahnya ilmu dan akhlak serta pengabdian kepada Allah SWT.Setiap kali berbuat kebajiakn ,anda bersyukur kepadanya.Setiap kali berbuat keburukan,segera anda memohon ampunan nya. Dan sesungguhnya tak ada kebaikan dalam dunia ini kecuali bagi dua orang : yang merasa telah berbuat dosa lalu ia segera mengikutinya dengan bertobat. Dan yang bersegera dalam mengerjakan kebajikan ( setiap kali hal itu terlintas di hatinya ) .

  • Apabila seseorang telah meninggalkan agama dalam upaya memperbaiki urusan dunianya , maka Allah pasti akan membuka pintu kerusakan yang lebih lebar lagi.

  • Tiada harta berharga daripada akal. Tiada kesendirian lebih sepi daripada kenagkuhan diri . Tiada kebijakan lebih baik daripada hidup sederhana dan terencana . Tiada kemuliaan lebih tinggi daripada ketaqwaan . Tiada kimpoi karib lebih baik daripada keluhuran budi. Tiada harta warisan lebih besar daripada pendidikan. Tiada petunjuk jalan lebih baik daripada taufi Allah. Tiada perdagangan lebih menguntungkan daripada amal saleh. Tiada laba melibihi pahala Allah. Tiada Wara lebih baik daripada pengekangan diri terhadap segala syubuhat. Tiada zuhd lebih baik daripada zuhd terhadap barang yang haram. Tiada amal lebih baik daripada mengerjakan sesuatu yang difardhukan. Tiada ilmu lebih baik daripada hasil tafakkur. Tiada iman lebih baik daripda rasa malu dan sabar. Tiada kehormatan diri lebih baik daripada tawadhu. Tiada kemuliaan lebih baik daripada ilmu . Tiada kekayaan lebih baik daripada kemurahan hati.Dan tiada dukungan lebih baik daripada nasehat yang tulus.

  • Perumpamaan dunia seperti seekor ular; lunak pegangannya namun mengandung bisa yang mematikan. Bocah yang bodoh akan tergiur untuk memegangnya, tetapi seorang yang pandai berakal akan menghindarinya.

  • Islam ialah penyerahan diri . Penyerahan diri ialah keyakinan. Keyakinan ialah pembenaran . Pembenaran ialah ikrar. Ikrar ialah pelaksanaan. Dan pelaksanaan ialah amal perbuatan.

  • Mintalah cuarahan rizki Allah dengan banyak bersedekah.

  • Keresahan adalah setengah dari ketuaan.

  • Kemiskinan adalah kematian terbesar.

  • Bila kau merasa cemas dan gelisah akan sesuatu , masuklah ke dalamnya sebab ketakutan menghadapinya lebih mengganggu daripada sesuatu yang kau takuti itu sendiri.

  • Cabutlah kejahatan dari dalam hati saudaramu dengan mencabutnya dari dalam hatimu sendiri.

  • Ketamakan adalah perbudakan abadi.

  • Penyesalah adalah buah kelalaian , dan keselamatan adalah buah kebijakan.

  • Tidak baik berdiam diri tentang sesuatu yang diketahui dan tidak baik berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahui.

  • Sebagian orang beribadah kepada Allah semata mata karena mengharapkan imbalan ,dan itulah ibadah para pedangang. Sebagian lagi beribadah karena takut terkena hukuman , dan itulah ibadah para hamba sahaya. Dan sebgaian lagi beribadah Karen bersyukur kepada Allah , dan itulah ibadah orang orang yang merdeka.

  • Teman temanmu ada tiga dan musuh musuhmu juga ada tiga.adapun teman temanmu ialah temanmu sendiri, teman dari temanmu dan musuh dari musuhmu.sedangkan musuh musuhmu ialah musuhmu sendiri , musuh temanmu dan teman musuhmu.

  • Orang yang berdoa tanpa beramal ( berbuat kebaikan ) sama halnya sperti pemanah tanpa busur.

  • Memuji seseorang lebih daripada yang ia berhak menerimanya , sama saja dengan “menjilatnya”. Tetapi ,melalaikan pujian bagi yang berhak menerimanya , menunjukkan kebodohan atau kedengkian.

  • Cara terbaik untuk menjaga sesuatu yang tersimpan di dalam wadahnya adalah dengan mengikat erat tali pengikat tutupnya. Demikian pula memperbaiki apa yang tidak sempat kauucapkan ,jauh lebih mudah daripada memperbaiki apa yang terlanjur kauucapkan.

  • Siapa saja banyak bicaranya pasti banyak pula kesalahannya. Siapa saja banyak menggunakan pikirannya , kebenaran akan tampak nyata baginya.

  • Bersahabatlah dengan orang orang yang selalu berbuat baik,niscaya kau menjadi salah seorang dari mereka .Jauhilah orang orang yang berbuat jahat,niscaya kau ternhindar dari akibat kejahatan mereka.

  • Seburuk buruknya makanan adalah makanan haram ,dan sekeji kejinya kezaliman adalah yang tertuju kepada kaum yang lemah.

  • Bila sikap lemah lembut hanya mengakibatkan timbulnya kekerasan , maka kekerasan adalah suatu bentuk kelembutan hati.

  • Sebagian obat justru menjadi penyebab datangnya penyakit,sebagaimana sesuatu yang menyakitkan adakalanya menjadi obat penyembuh .

  • Mengingat ingat pengalaman adalah pekerjaan akal,dan sebaikbaik pengalaman ialah yang memberimu nasihat peringatan.

  • Bersegeralah menggunakan kesempatan yang ada , sebelum ia berubah menjadi penyesalan .

  • Tak ada gunanya seorang penolong yang selalu menghina atau teman yang selalu berburuk sangka.

  • Gunakanlah kesempatan sebaik baiknya selama masa sedang menampakkan kepatuhannya kepadamu.

  • Jangan menerjang resiko yang amat besar demi mengharapkan keuntungan yang lebih besar,dan jangan biarkan dirimu terombang ambing oleh sikap kera kepalamu.

  • “ Telanlah “ amarahmu sebab aku tak pernah menemukan “ minuman “ yang dapat meninggalkan rasa lebih manis dan lebih lezat daripada itu.

  • Kuasailah musuhmu dengan kebajikan ; itulah yang paling”manis” di antara dua kemenangan.

  • Ada dua macam reziki; reziki yang kau cari dan reziki yang mencarimu, yaitu yang seandainya kau tidak mendatanginya ia pasti mendatangimu juga.

  • Dua jenis manusia yang takkan merasa “kenyang” (puas) selama lamanya : pencari ilmu dan pencari harta.
  • Ucapan-Ucapan Singkat Imam Ali (Bag. 1)

    * Bergaullah dengan cara yang mengundang ratap tangis orang bila kau meninggal dunia, dan tariklah simpati mereka selama kau hidup bersama mereka.

    * Bila kau beroleh kemenangan atas musuhmu,jadikanlah pengampunanmu atas dirinya sebagai ungakapan rasa syukur atas kemenangan itu.

    * Sebodoh – bodohnya manusia ialah yang tidak mampu beroleh kawan kawan untuk dirinya , namun yang lebih bodoh lagi ialah yang menyebabkan perginya mereka yang telah diperolehnya .

    * Orang yang tertinggal disebabkan kurang amalnya , takkan dapat menyusul dengan kemuliannya nasabnya.

    * Hai anak adam , ingat dan waspadalah bila kaulihat tuhanmu terus menerus melimpahkan nikmat atas dirimu, sementara kau terus menerus mengerjakan maksiat terhadapnya.

    * Bila keadaanmu makin mundur sedangkan maut terus dating mengejar dibelakangmu,alangkah cepatnya pertemuan akan terjadi.

    * Orang yang berbuat kebaikan adalh lebih baik daripada kebaikan itu sendiri; dan yang berbuat kejahatan adalah lebih jahat daripada kejahatan itu sendiri.

    * Wahai anakku,jangan sekali- kali memilih seorang bodoh sebagai kawan karibmu,sebab ia hanya akan mendatangkan kesulitan bagimu sementara ia justru ingin menolongmu.Jangan kaujadikan seorang bakhil sebagai temanmu,sebab ia akan menjauhkan diri darimu justru pada sat kau sangat membutuhkannya.Jangan berkawan dengan dengan orang yang berbudi rendah ,sebab ia akan menjualmu dengan semurah murahnya harga.Dan jangan berteman dengan seorang pendusta,sebab ia sama aja dengan fatamorgana ,mendekatkan bagimu yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

    * Lidah orang berakal dibelakang hatinya,dan hati orang bodoh berada dibelakang lidahnya.

    * ( Kepada seorang sahabat yang sedang menderita sakit, Imam Ali berkata ) : Semoga Allah menjadikan sakit yang kau keluhkan itu sebgai penyebab gugurnya dosa dosamu.Kendatipun sesungguhnya tidak ada pahala disediakan bagi penderitaan karena sakit , namun hal itu dapat menggugurkan dosa dosa seperti gugurnya daun daun kering dari pohon.Adapun pahala pahala hanyalah disediakan bagi kebaikan ucapan lidah atau perbuatan tangan dan kaki. Dan Allah SWT memasukkan siapa yang dikehendaki nya ke dalam surga dengan adanya niat yang tulus dan hati yang bersih .

    * Suatu perbuatan buruk yang kau sesali lebih utama disisi Allah daripada perbuatan baik yang membuatmu bangga akan dirimu.

    * Nilai seorang sesuai dengan kadar tekadnya.Ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya .Keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan.Dan kesucian hati nurani nya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya.

    * Barangsiapa berlebih lebihan dalam berangan angan (tentang ampunan Allah) dikhawatirkan akan banyak berburuk laku .

    * Jadilah seorang dermawan , tetapi jangan menjadi pemboros. Jadilah seorang yang hidup sederhana , tetapi jangan menjadi seorang kikir.

    * Semulia mulia kekayan milik pribadi ialah meninggalkan banyak keinginan.

    * Kemengan diperoleh dengan kebijakan. Kebijakan diperoleh dengan berfikir secara mendalam dan benar. Pikiran yang yang benar ialah dengan menyimpan baik baik segala rahasia.

    * Hati manusia bagaikan binatang liar. Barangsiapa sungguh sungguh berupaya untuk menjinakkan nya ,ia pasti akan mendekat jg.

    * Semua cacar dirimu tetap tertutup dan tersembunyi selama nasib mujur masih bersamamu.

    * Yang paling patut mengampuni ialah orang yang paling memiliki kemampuan untuk menghukum.

    * Kedermawanan yang sebenarnya ialah yang dilakukan secara spontan. Adapun jika didahului oleh permintaan,maka yang demikian itu hanya lah penutup rasa malu atau upaya penyelamtan diri dari celaan dan perasaan berdosa.

    Thursday, August 19, 2010

    Habib Ali bin Ja'far bin Ahmad Alaydrus






    Teladan dalam Kezuhudan

    Umat Islam kembali ditinggalkan seorang kekasih Allah yang mengajarkan kepada siapa pun bahwa di zaman yang sudah amat maju ini orang masih bisa hidup zuhud dan tawadhu. Dalam kesederhanaannya, ia mengarungi hidup dengan tegar.


    Banyak di antara pecintanya ingin membangunkan rumah mewah sebagai kediaman yang layak bagi orang sebesar dirinya. Namun semuanya ia tolak secara halus. Demikianlah, setiap harinya dia mandi dan mengambil wudhu di kamar mandi yang bersatu dengan sumur tua dalam bangunan yang sangat sederhana.


    Tanda keutamaan dalam dirinya sangat jelas. la adalah orang yang ketika wajahnya dipandang, dapat mengingatkan hati yang memandangnya kepada Allah SWT. Akhlaqnya amat luhur dan mulia, sebagai bias dari akhlaq datuknya, Baginda Rasulullah SAW.


    Sikap zuhud terhadap dunia adalah hiasan terindah dalam kesehariannya. Begitu pula sifatnya yang teramat wara’. Salah seorang kerabatnya dari Indonesia, yang masih terhitung cucunya, suatu saat mengunjunginya. Saat berada di sana, lewat jendela rumah sederhana itu, sang cucu memandangi buah kelapa yang menggantung di pohon kelapa di sisi rumahnya.


    Memperhatikan hal itu, Habib Ali mendekat dan mengatakan kepadanya, “Kamu mau buah kelapa itu? Sebentar. Saya mintakan izin dulu sama si empunya tanah. Sebab, saya hanya menyewa rumahnya, tanahnya tidak ikut saya sewa.” Subhanallah. Rumah sederhana yang ia tempati itu pun ternyata rumah sewaan, bukan rumah miliknya.

    Sangat Memuliakan Tamu

    Hatinya begitu lembut. la tak ingin ada sedikit pun rasa kecewa tumbuh di hati orang yang mengunjunginya. Di rumahnya yang amat sederhana, kecil, dan sempit itu, sedemikian rupa ia muliakan setiap tamu yang datang. Semua ia terima dengan penerimaan yang menyenangkan hati, tak peduli rupa apalagi harta. Berjumpa dengan sosok bersahaja itu, hati pun serasa menjadi lapang seketika.


    Ruang tamunya pun tak pernah kosong dari ratusan botol kemasan air mineral para tamu yang berharap keberkahan dari doa-doa yang ia lafalkan. Meski amat banyak untuk ukuran seorang yang sudah sesepuh Habib Ali Batu Pahat, ia mendoai satu per satu air itu dengan penuh kekhusyu’an.


    la amat santun kepada setiap tamunya. Kaya, miskin, ulama, ataupun awam. Siapa pun.


    Meski hidup sederhana, ia bahkan hampir selalu memberikan uang kepada para tamunya. Jumlahnya terkadang tidak kecil. Jika mereka berkunjung pada jam makan, tak mungkin tamunya diizinkan pulang sebelum mereka makan bersamanya.


    Sifat rendah hatinya kepada setiap tamunya amat mengagumkan. Sebelum sang tamu pulang, orang semulia dirinya ini justru selalu meminta doa dari mereka.


    Kelahiran Purwakarta

    Ayah Habib Ali, Habib Ja’far bin Ahmad Alaydrus, datang ke Singapura dari Purwarkarta dan menetap di Negeri Singa itu selama beberapa tahun pada dekade tahun 1930-an dan tinggal di Lorong 30 Geylang. Habib Ja’far kembali ke Hadhramaut pada tahun 1938.


    la wafat pada tahun 1976 di kota Tarim. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Zanbal, berdekatan dengan makam datuknya, Habib Abdullah Alaydrus.


    Berdasarkan kisah yang disampaikan Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah, ketika ayah Habib Ali ini masih dalam kandungan ibunya, kakeknya, Habib Abdul Qadir bin Salim, berkata kepada istrinya, Hababah Aisyah Assegaf, jika putranya Ahmad dikaruniai anak laki-laki, akan ia namai “Salim”, mengikut nama orangtua Habib Abdul Qadir sendiri. Namun istrinya, Hababah Aisyah, tidak setuju dengan usulan itu dan ia ingin menamainya Ja’far, mengikuti nama datuk sang istri, Habib Ja’far bin Ahmad bin Ali bin Abdullah Assegaf.


    Mendengar usulan sang istri, Habib Abdul Qadir mengatakan, ia bersedia menamainya “Ja’far” sekiranya tampak nyata kelebihan yang ada pada diri anak itu kelak.


    “Baik, kamu akan lihat kelebihannya, giginya akan tumbuh sebelum waktunya,” kata. Hababah Aisyah saat itu.


    Habib Abdul Qadir menimpali kembali, “Kalau memang demikian, aku akan sembelih tujuh ekor kambing.”


    Pada saatnya, benar saja, yang terlahir adalah seorang anak laki-laki. Dan tiba hari ketujuh, hari untuk menyelenggarakan aqiqah sekaligus untuk memberikan nama pada sang anak, nyatalah apa yang dikatakan Hababah Aisyah. Gigi si cucu mulai terlihat. Maka, sang cucu pun dinamai “Ja’far”.


    Habib Ja’far kemudian tumbuh dewasa dalam lingkungan keluarga yang shalih dan alim. la juga kemudian dikenal sebagai seorang alim pada masanya. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah termasuk yang ber-istifadah (mengambil faidah ilmu) darinya.


    Di antara karyanya, Habib Ja’far meninggalkan sebuah diwan (kumpulan qashidah) yang kini telah dicetak oleh penerbit Darul Ushul, Yaman.


    Habib Ja’far bin Ahmad mempunyai 10 putra, yakni Abdullah, Abdul Qadir, Ali, Salim, ldrus, Thaha, Ahmad, Abubakar, Thahir, dan Alwi, serta beberapa putri. Di antara putri Habib Ja’far yang masih hidup pada saat ini adalah adik Habib Ali yang bernama Syarifah Gamar.


    Mungkin tak banyak orang yang tahu bahwa Habib Ali Batu Pahat ini kelahiran Nusantara, tepatnya di Purwakarta, Jawa Barat, pada tahun 1919. Sebagian keluarganya saat ini juga masih berada di sana.


    Tahun 1926, yaitu saat berumur tujuh tahun, ia tiba di Singapura. Tapi hanya sebentar, lalu ia kembali lagi ke Indonesia. Tahun 1929, untuk kedua kalinya ia datang ke Singapura dan kemudian menetap di sana hingga tahun 1942.


    Di Singapura, ia tinggal bersama ayah dan kakaknya, Habib Abdul Qadir bin Ja’far Alaydrus, di sebuah rumah di Arab Street. Ketika itu sang kakak barn datang dari Hadhramaut. Berdasarkan cerita yang pernah disampaikan Habib Ali sendiri, kedatangan sang kakak mendapat sambutan yang amat hangat dari penduduk Singapura pada saat itu. Habib Abdul Qadir sendiri wafat di Purwakarta dan dimakamkan di sana.


    Tahun 1942, Habib Ali hijrah ke Batu Pahat, Johor, Malaysia. Semasa hidupnya di negeri rantaunya yang baru ini, Habib Ali menjadi tempat mengadu berbagai permasalahan banyak orang.


    Tempat Ziarah para Ulama

    Semasa hidupnya, Habib Ali menjadi tempat mengadu berbagai permasalahan banyak orang. Mereka yang berasal dari Nusantara dan negara-negara Arab, apabila berkunjung ke Malaysia, akan meluangkan waktu untuk mengunjunginya, demi mendapatkan mutiara nasihat dan keberkahan dari sosok yang jiwa dan raganya ini senantiasa bergantung kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.


    Di antara petuah yang pernah ia sampaikan, “Allah SWT adalah Sang Khaliq. Manusia hanyalah makhluk. Maka, manusia harus mematuhi apa pun perintah Sang Maha Pencipta. Bukan Sang Maha Pencipta yang mematuhi perintah manusia.”


    Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki, bila berkunjung ke Malaysia, pun kerap menziarahi Habib Ali di Batu Pahat. Pada perjumpaan terakhirnya dengan Habib Ali, Al-Maliki mengatakan, ia meyakini bahwa Habib Ali adalah seorang yang diberi anugerah besar dari sisi Allah di negeri rantaunya ini. Sebelum pulang, Sayyid Muhammad Al-Maliki pun mengarang sebuah qashidah untuknya yang menggambarkan sifat-sifat mulia Habib Ali bin Ja’far Alaydrus.


    Pernah suatu kali Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki rahimahullah berkunjung pada beliau, sepanjang jalan Sayyid Muhammad berbicara tentang rindunya pada Rasulullah saw, maka ketika sampai di kediaman beliau, maka semua tamu tidak diperkenankan masuk, kecuali Sayyid Muhammad Al Maliki, mereka masuk berdua cukup lama, lalu keluarlah Sayyid Muhammad Al Maliki dengan airmata yg bercucuran.., seraya berkata : hajat saya sudah terkabul… terkabul.., sambil menutup wajah beliau dengan linangan air mata.


    Diantara Ulama yang pernah mengunjungi dan bersilaturrahmi kepada beliau antara lain, Al Habib Zein bin Ibrahim bin Semith dari Madinah, Al Habib Salim bin Abdullah Asy Syatiri (Hadramaut), Al Habib Umar bin Hafidh (Hadramaut), Al Habib Anis bin Alwi Al Habsyi dari Solo dan tokoh habaib dan ulama lainnya.


    Tenggelamnya sebuah Bintang

    Habib Ali wafat sekitar pukul 17.10 atau 17.15 petang waktu setempat. Syed Ibrahim dan Syed Ja’far, keduanya cucu Habib Ali, dari putranya yang bemama Syed Husein, di sampingnya ketika itu. Hari wafatnya ini menjelang lima hari sebelum haul ayahandanya, Habib Ja’far bin Ahmad, yaitu pada 3 Jumadil Akhirah.


    Dari saat Habib Ali wafat waktu dimandikan keesokan harinya, jenazahnya tak putus-putus dikunjungi ribuan manusia dari segala penjuru dan lapisan masyarakat, terutama dari Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di antara yang hadir menyampaikan ta’ziyahnya pada saat itu adalah Syed Hamid bin Ja’far Al-Bar, mantan menteri luar negeri dan menteri dalam negeri Malaysia.


    Begitu juga bacaan Al-Quran, Yaasin, dan tahlil tak putus-putusnya dibacakan hingga jenazahnya usai dimandikan oleh keluarga sekitar pukul 09.30, Jum’at pagi.


    Karena begitu banyaknya penta’ziyah yang datang untuk dapat menghadiri prosesi shalat Jenazah, akhirnya jenazah Habib Ali dishalatkan sebanyak dua kali. Pertama, sebagaimana wasiatnya, dishalatkan di dalam rumah, yang diimami oleh Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad Alaydrus, dan kedua di luar rumah, dengan imam Habib Hasan bin Muhammad bin Salim Al-Attas.


    Jenazahnya kemudian dimakamkan sebelum shalat Jum’at, 29 Jumadil Akhirah 1431 H/14 Mei 2010, di Tanah Pekuburan Islam Bukit Cermai, Batu Pahat, Johor, Malaysia. Habib Umar bin Hamid AI-Jilani dari Makkah yang membacakan talqin pada saat itu.


    Habib Ali bin Ja’far Alaydrus meninggalkan seorang putri bernama Syarifah Khadijah dan tiga orang putra, yaitu Syed Muhammad, Syed Umar, dan Syed Husein. Semoga ketabahan dan ketawakalan mengiringi hati keluarga dan para pecintanya atas kepergian sosok yang amat mereka cintai dan muliakan ini.


    Ulama adalah pewaris para nabi. Kepada para pewarisnya itu, Nabi SAW tidak mewariskan harta, tetapi beliau mewariskan ilmu kepada mereka, yang nilainya melebihi bilangan harta, seberapa pun besarnya. Siapa yang mengambil ilmu mereka, dia telah mengambil harta yang amat bernilai.


    Oleh karenanya, wafatnya seorang ulama adalah musibah yang sulit tergantikan dan satu kelemahan yang susah ditutupi. Wafatnya seorang ulama ibarat sirnanya sebuah bintang di antara gugusan bintang-bintang lainnya. Rasulullah SAW mengatakan, “Sesungguhnya wafatnya satu kabilah lebih ringan musibahnya dibandingkan atas wafatnya seorang yang alim.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibn Majah, dan Al-Bayhaqi).


    Habib Ali meninggal hari kamis, 13 Mei 2010/28 Jumadil Ula 1431 H, sore menjelang maghrib, atau tepat 40 hari setelah Habib Abdul Qadir wafat, satu lagi pilar Bani Alawi, Habib Ali bin Ja’far bin Ahmad Alaydrus, atau yang sering disebut ‘Habib Ali Batu Pahat’, pergi menuju haribaan mulia Sang Pencipta. Dengan segala kemuliaannya, ia telah berada di sisi Sang Khaliq. Tinggal kita semua yang saat ini telah ditinggalkannya. Kita yang masih banyak bergelimang dengan dosa. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah di atas jalan hidup kita, mengampuni kita atas dosa-dosa kita, dan mengumpulkan kita kelak di surga-Nya bersama orang-orang yang kita cintai.

    Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad (Mbah Priuk)




    Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad lahir di Seberang Ulu, Palembang, Sumatera Selatan, pada tahun 1727 M. Semasa kecil beliau belajar mengaji kepada kakek dan ayahnya di Palembang. Saat remaja, beliau mengembara selama beberapa tahun ke Hadramaut, Yaman, untuk belajar agama, sekaligus menelusuri jejak leluhurnya, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Shohib Ratib Haddad, yang hingga kini masih dibaca sebagian besar kaum muslimin Indonesia. Beliau menetap beberapa tahun lamanya, setelah itu kembali ke tempat kelahirannya, di Seberang Ulu, Palembang.


    Pada tahun 1756, ketika usianya 29 tahun, beliau berkunjung ke Jawa, ditemani saudaranya, Habib Ali Al-Haddad, dan tiga orang pembantunya, untuk berziarah ke makam Habib Husein Al Aydrus di Luar Batang, Jakarta Utara, Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Sunan Ampel di Surabaya. Dalam perjalanan menggunakan perahu layar itu, beliau banyak menghadapi gangguan dan rintangan. Mata-mata kompeni Belanda selalu saja mengincarnya. Sebelum sampai di Batavia, perahunya di bombardier oleh Belanda. Tapi Alhamdulillah, seluruh rombongan hingga dapat melanjutkan perjalanan sampai di Batavia.


    Dalam perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua bulan itu, mereka sempat singgah di beberapa tempat. Hingga pada sebuah perjalanan, perahu mereka dihantam badai. Perahu terguncang, semua perbekalan tumpah ke laut. Untunglah masih tersisa sebagian peralatan dapur, antara lain periuk, dan beberapa liter beras. Untuk menanak nasi, mereka menggunakan beberapa potong kayu kapal sebagai bahan bakar. Beberapa hari kemudian, mereka kembali dihantam badai. Kali ini lebih besar. Perahu pecah, bahkan tenggelam, hingga tiga orang pengikutnya meninggal dunia. Dengan susah payah kedua Habib itu menyelamatkan diri dengan mengapung menggunakan beberapa batang kayu sisa perahu. Karena tidak makan selama 10 hari, akhirnya Habib Hasan jatuh sakit, dan selang beberapa lama kemudian beliaupun wafat.


    Sementara Habib Ali Al-Haddad masih lemah, duduk di perahu bersama jenazah Habib Hasan, perahu terdorong oleh ombak-ombak kecil dan ikan lumba-lumba, sehingga terdampar di pantai utara Batavia. Para nelayan yang menemukannya segera menolong dan memakamkan jenazah Habib Hasan. Kayu dayung yang sudah patah digunakan sebagai nisan dibagian kepala; sementara di bagian kaki ditancapkan nisan dari sebatang kayu sebesar kaki anak-anak. Sementara periuk nasinya ditaruh disisi makam. Sebagai pertanda, di atas makamnya ditanam bunga tanjung. Masyarakat di sekitar daerah itu melihat kuburan yang ada periuknya itu di malam hari selalu bercahaya. Lama-kelamaan masyarakat menamakan daerah tersebut Tanjung Priok. Sesuai yang mereka lihat di makam Habib Hasan, yaitu bunga tanjung dan periuk.


    Konon, periuk tersebut lama-lama bergeser dan akhirnya sampai ke laut. Banyak orang yang bercerita bahwa, tiga atau empat tahun sekali, periuk tersebut di laut dengan ukuran kurang lebih sebesar rumah. Diantara orang yang menyaksikan kejadian itu adalah anggota TNI Angkatan Laut, sersan mayor Ismail. Tatkala bertugas di tengah malam, ia melihat langsung periuk tersebut. Karena kejadian itulah, banyak orang menyebut daerah itu : Tanjung Priok.



    Sebenarnya tempat makam yang sekarang adalah makam pindahan dari makam asli. Awalnya ketika Belanda akan menggusur makam Habib Hasan, mereka tidak mampu, karena kuli-kuli yang diperintahkan untuk menggali menghilang secara misterius. Setiap malam mereka melihat orang berjubah putih yang sedang berdzikir dengan kemilau cahaya nan gemilang selalu duduk dekat nisan periuk itu. Akhirnya adik Habib Hasan, yaitu Habib Zein bin Muhammad Al-Haddad, dipanggil dari Palembang khusus untuk memimpin doa agar jasad Habib Hasan mudah dipindahkan. Berkat izin Allah swt, jenazah Habib Hasan yang masih utuh, kain kafannya juga utuh tanpa ada kerusakan sedikitpun, dipindahkan ke makam sekarang di kawasan Dobo, tidak jauh dari seksi satu sekarang.


    Salah satu karomah Habib Hasan adalah suatu saat pernah orang mengancam Habib Hasan dengan singa, beliau lalu membalasnya dengan mengirim katak. Katak ini dengan cerdik lalu menaiki kepala singa dan mengencingi matanya. Singa kelabakan dan akhirnya lari terbirit-birit.


    Pelabuhan Tanjung Priok
    Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A kurang lebih 23 tahun dimakamkan, pemerintah Belanda pada saat itu bermaksud membangun pelabuhan di daerah itu. Pada saat pembangunan berlangsung banyak sekali kejadian yang menimpa ratusan pekerja (kuli) dan opsir belanda sampai meninggal dunia. Pemerintah belanda menjadi bingung dan heran atas kejadian tersebut dan akhirnya menghentikan pembangunan yang sedang dilaksanakan.


    Rupanya pemerintah belanda masih ingin melanjutkan pembangunan pelabuhan tersebut dengan cara pengekeran dari seberang (sekarang dok namanya), alangkah terkejutnya mereka saat itu ketika melihat ada orang berjubah putih sedang duduk dan memegang tasbih di atas makam. Maka dipanggil beberapa orang mandor untuk membicarakan peristiwa tersebut. Setelah berembuk diputuskan mencari orang yang berilmu yang dapat berkomunikasi dengan orang yang berjubah putih yang bukan lain adalah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A. setelah berhasil bertemu orang berilmu yang dimaksud (seorang kyai) untuk melakukan khatwal, alhasil diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :


    1.Apabila daerah (tanah) ini dijadikan pelabuhan oleh pemerintah belanda tolong sebelumnya pindahkanlah saya terlebih dulu dari tempat ini.
    2.Untuk memindahkan saya, tolong hendaknya hubungi terlebih dulu adik saya yang bernama Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Seberang Ulu Palembang, Sumatera Selatan.


    Akhirnya pemerintah belanda menyetujui permintaan Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A (dalam khatwalnya) kemudian dengan menggunakan kapal laut mengirim utusannya termasuk orang yang berilmu tadi untuk mencari Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yang bertempat tinggal di Ulu, Palembang.


    Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A sangat mudah ditemukan di Palembang, sehingga dibawalah langsung ke Pulau Jawa untuk membuktikan kebenarannya. Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A dalam khatwalnya membenarkan “Ini adalah makam saudaraku Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A yang sudah lama tidak ada kabarnya.”


    Selama kurang lebih 15 hari lamanya Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A menetap untuk melihat suasana dan akhirnya Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A dipindahkan di jalan Dobo yang masih terbuka dan luas. Dalam proses pemindahan jasad Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A masih dalam keadaan utuh disertai aroma yang sangat wangi, sifatnya masih melekat dan kelopak matanya bergetar seperti orang hidup.


    Setelah itu Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta kepada pemerintah belanda agar makam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A itu dipagar dengan kawat yang rapih dan baik serta diurus oleh beberapa orang pekerja. Pemerintah belanda pun memenuhi permintaan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A.


    Setelah permintaan dipenuhi Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A meminta waktu 2 sampai 3 bulan lamanya untuk menjemput keluarga beliau yang berada di Ulu, Palembang. Untuk kelancaran penjemputan itu, pemerintah belanda memberikan fasilitas. Dalam kurun waktu yang dijanjikan Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A kembali ke Pulau Jawa dengan membawa serta keluarga beliau.


    Dalam pemindahan jenazah Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A tersebut banyak orang yang menyaksikan diantaranya :
    1. Al Habib Muhammad Bin Abdulloh Al Habsy R.A
    2. Al Habib Ahmad Dinag Al Qodri R.A, dari gang 28
    3. K.H Ibrahim dari gang 11
    4. Bapak Hasan yang masih muda sekali saat itu
    5. Dan banyak lagi yang menyaksikan termasuk pemerintah belanda


    Kemudian Bapak Hasan menjadi penguru makam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A. Saat ini semua saksi pemindahan tersebut sudah meninggal. Merekalah yang menyaksikan dan mengatakan jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A masih utuh dan kain kafannya masih mulus dan baik, selain itu wangi sekali harumnya.


    Dipemakaman itulah dikebumikan kembali jasad Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad R.A yang sekarang ini pelabuhan PTK (terminal peti kemas) Koja Utara, Kecamatan Koja, Tanjung Priok – Jakarta Utara.


    Setelah pemindahan makam banyak orang yang berziarah ke makam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadda R.A sebagaimana yang diceritakan oleh putera Al Arif Billah Al Habib Zein Bin Muhammad Al Haddad R.A yaitu Al Arif Billah Al Habib Ahmad Bin Zein Al Haddad R.A.

    Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad





    Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad dilahirkan di kota Qeidun, Hadramaut, pada tahun 1299 H. Sanad keturunan beliau termasuk suatu silsilah dzahabiyyah, sambung-menyambung dari ayah yang wali ke datuk wali, demikian seterusnya sampai bertemu dengan Rasulullah SAW. Sebagaimana kebanyakan para Saadah Bani Alawi, beliau dibesarkan dan dididik oleh ayahnya sendiri Al-Habib Muhammad bin Thohir bin Umar Alhaddad.


    Datuk beliau Al-Habib Thohir bin Umar Alhaddad adalah seorang ulama besar di kota Geidun, Hadramaut. Sedangkan ayah beliau adalah seorang Wali min Auliyaillah dan ulama besar yang hijrah dari kota Geidun, Hadramaut ke Indonesia dan menetap di kota Tegal. Beliau Al-Habib Thohir banyak membaca buku dibawah pengawasan dan bimbingan ayah dan kakek beliau, sehingga diberi ijazah oleh ayah dan kakeknya sebagai ahli hadist dan ahli tafsir. Setelah digembleng oleh ayahnya, beliau lalu berguru kepada : As-Syaikh Abdullah bin Abubakar Al-Murahim Al-Khotib (di kota Tarim) As-Syaikh Abud Al-Amudi (di kota Geidun).


    Setelah itu beliau memulai pengembaraannya di sekitar kota-kota di Hadramaut untuk menuntut ilmu dan menghiasi kemuliaan nasabnya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Beliau keliling dari satu kota ke kota yang lain untuk mengambil ilmu dari ulama-ulama besar yang beliau jumpai.

    Diantara para guru yang beliau berguru kepada mereka adalah :
    - Al-Habib Husain bin Muhammad Albar (di Gerain)
    - Al-Habib Umar bin Hadun Al-Atthas (di Masyhad)
    - Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas (di Huraidhah)
    - Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-Atthas (di Maula Amed)
    - Al-Habib Umar Maula Amed (di Maula Amed)
    - Al-Habib Abdillah bin Umar bin Sumaith (di Syibam)
    - Al-Habib Abdullah bin Hasan bin Shaleh Al-Bahar (di Thi Usbuh)
    - Al-Habib Abdullah bin Muhammad Al-Habsyi (di Hauthoh Ahmad bin Zein)
    - Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi (di Ghurfah)
    - Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (Mufti Hadramaut)
    - Al-Habib Idrus bin Alwi Alaydrus Al-Habib Abdulqodir bin Ahmad Alhaddad (di Tarim)


    Itulah guru-guru beliau yang ada di Hadramaut, dimana mereka semua kebanyakan adalah ulama-ulama besar dan tidak jarang pula yang termasuk Wali min Auliyaillah. Pada suatu saat, beliau ingin sekali menunaikan ibadah Haji dan lalu berziarah ke datuk beliau termulia Rasulullah SAW. Setelah mendapat ijin dari kakek beliau Al-Habib Thohir bin Umar Alhaddad, berangkatlah beliau menuju ke kota Makkah dan Madinah. Setelah beliau menunaikan keinginannya, timbullah niat beliau untuk belajar dari para ulama besar yang ada di dua kota suci tersebut.


    Lalu beliau menuntut ilmu disana dengan berguru kepada : As-Syaikh Said Babshail As-Syaikh Umar bin Abubakar Junaid Al-Habib Husin bin Muhammad Al-Habsyi (Mufti Syafi’iyah pada masa itu) Setelah dirasa cukup menuntut ilmu disana, timbullah keinginan beliau untuk berhijrah ke Indonesia, sebagaimana yang dilakukan sebelumnya oleh ayah beliau Al-Habib Muhammad. Sesampailah beliau di Indonesia, beliau lalu berziarah ke makam ayah beliau Al-Habib Muhammad bin Thohir Alhaddad yang wafat di kota Tegal, Jawa Tengah, pada tahun 1316 H. Keinginan beliau untuk selalu menuntut ilmu seakan tak pernah luntur dan pupus terbawa jaman.


    Inilah salah satu kebiasaan beliau untuk selalu mencari dan mencari ilmu dimanapun beliau berada. Tidaklah yang demikian itu, kecuali beliau mencontoh para Datuk beliau yang gemar menuntut ilmu, sehingga mereka bisa menjadi ulama-ulama besar.


    Diantara para guru beliau yang ada di Indonesia adalah :
    - Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (di Surabaya)
    - Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor (di Surabaya, yang kemudian beliau dikawinkan dengan anaknya)
    - Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-Atthas (di Bogor)
    - Al-Habib Salim bin Alwi Al-Jufri (menetap di Menado)
    - Al-Habib Idrus bin Husin bin Ahmad Alaydrus (wafat di India dalam dakwahnya)


    Di Indonesia, beliau memilih untuk menetap di kota Bogor. Disana beliau berdakwah dan menyebarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Beliau dikenal sebagai seorang ulama besar dan ahli hadits. Di kota Bogor beliau banyak mengadakan majlis-majlis taklim dan mengajarkan tentang Al-Islam. Sampai akhirnya beliau dipanggil oleh Allah menuju ke haribaan-Nya. Beliau wafat di kota Bogor tahun 1373 H dan dimakamkan di Empang, Bogor. Seorang ulama besar telah berpulang, namun jejak-jejak langkah beliau masih terkenang. Nama baik beliau selalu tersimpan dalam hati para pecintanya…dalam hati yang paling dalam, menyinari kehidupan suram nan kelam… Radhiyallahu anhu wa ardhah…

    Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Habib Ali Kwitang)




    Al-Habib Ali Alhabsyi adalah putera dari Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi. Ayah beliau tinggal di Jakarta. Ibunda beliau yaitu Nyai Salmah berasal dari Jatinegara, Jakarta Timur. Dalam perkawinannya dengan Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi lama sekali tidak memperoleh seorang putera pun. Pada suatu ketika Nyai Salmah bermimpi menggali sumur dan sumur tersebut airnya melimpah-limpah hingga membanjiri sekelilingnya. Lalu diceritakanlah mimpinya itu kepada suaminya. Mendengar mimpi istrinya, Al-Habib Abdurrahman segera menemui Al-Habib Syeikh bin Ahmad Bafaqih untuk menceritakan dan menanyakan perihal mimpi istrinya tersebut. Lalu Al-Habib Syeikh menerangkan tentang perihal mimpi tersebut bahwa Nyai Salmah istri Al-Habib Abdurrahman akan mendapatkan seorang putra yang saleh dan ilmunya akan melimpah-limpah keberkatannya. Apa yang dikemukakan oleh Al-Habib Syeikh itu tidak berapa lama menjadi kenyataan. Nyai Salmah mengandung dan pada hari Minggu tanggal 20 Jumadil ‘Awal 1286 bertepatan tanggal 20 April 1870 lahirlah seorang putra yang kemudian diberi nama Ali bin Abdurrahman Alhabsyi.

    Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi tidak lama hidup mendampingi putra yang beliau cintai tersebut. Beliau berpulang ke rahmatullah ketika putra beliau masih berumur 10 tahun. Tetapi sebelum beliau wafat, beliau sempat menyampaikan suatu wasiat kepada istrinya agar putra beliau hendaknya dikirim ke Hadramaut dan Makkah untuk belajar ilmu agama Islam di tempat-tempat tersebut.


    Untuk memenuhi wasiat suaminya, Nyai Salmah menjual gelang satu-satunya perhiasan yang dimilikinya untuk biaya perjalanan Habib Ali Alhabsyi ke Hadramaut dan Makkah. Karena di waktu wafatnya Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi tidak meninggalkan harta benda apapun. Dalam usia 10 tahun berangkatlah Al-Habib Ali Alhabsyi dari Jakarta menuju Hadramaut, dengan bekal sekedar ongkos tiket kapal laut sampai di tempat yang dituju.


    Sesampainya di Hadramaut, Al-Habib Ali sebagai seorang anak yang sholeh, tidak mensia-siakan masa mudanya yang berharga itu untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, sambil mencari rizki yang halal untuk bekal hidup beliau selama menuntut ilmu di tempat yang jauh dari ibunya. Sebab beliau menyadari bahwa ibunya tidak mampu untuk mengirimkan uang kepada beliau selama menuntut ilmu di luar negeri tersebut.


    Diantara pekerjaan beliau selama di Hadramaut dalam mencari rizki yang halal untuk bekal menuntut ilmu ialah mengambil upah menggembala kambing. Pekerjaan menggembala kambing ini rupanya telah menjadi kebiasaan kebanyakan para sholihin, terutama para Anbiya’. begitulah hikmah Ilahi dalam mendidik orang-orang besar yang akan diberikan tugas memimpin umat ini.


    Di antara guru-guru beliau yang banyak memberikan pelajaran dan mendidik beliau selama di Hadramaut ialah Al-’Arif billah Al-Imam Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi, dan juga Al-Imam Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-’Attos serta yang lain daripada ulama-ulama pada saat itu.


    Setelah belajar di Hadramaut, beliau melanjutkan pelajaran di tanah suci Makkah, dibawah didikan ulama-ulama besar disana, diantaranya Mafti Makkah Al-Imam Muhammad bin Husin Alhabsyi, Sayid Bakri Sa’ta, As-Syeikh Muhammad Said Babsail, As-Syeikh Umar Hamdan dan lain-lain.


    Berkat doa ibu dan ayah beliau, juga berkat doa para datuk-datuk beliau, terutama datuk beliau RAsullulloh SAW, dalam masa 6,5 tahun belajar di luar negeri Al-Habib Ali telah memperoleh ilmu Islam yang murni, luas dan mendalam yang dibawanya kembali ke Indonesia.


    Sekembalinya di tanah air, mulailah beliau menjalankan dakwahnya, mengajak umat Islam untuk mengikuti ajaran-ajaran Islam yang suci dengan dasar cinta kepada Allah dan Rasul-Nya SAW.


    Selain di pengajian tetap di majlis ta’lim Kwitang yang diadakan setiap hari Minggu pagi sejak kurang lebih 70 tahun yang lalu hingga sekarang dengan kunjungan umat Islam yang berpuluh-puluh ribu, beliau juga aktif menjalankan dakwah di lain-lain tempat di seluruh Indonesia. Bahkan hingga ke desa-desa yang terpencil di lereng-lereng gunung. Selain itu Al-Habib Ali Alhabsyi juga berdakwah ke Singapura dan Malaysia.


    Beliau selain ahli dalam menyampaikan dakwah ilAllah, beliau juga terkenal dengan akhlaknya yang tinggi, baik terhadap kawan maupun terhadap orang yang tidak suka kepadanya. Semuanya dihadapinya dengan ramah-tamah dan sopan santun yang tinggi. Terlebih lagi khidmat beliau terhadap ibunya adalah sangat luar biasa. Dalam melakukan rasa bakti kepada ibunya sedemikian ikhlas dan tawadhu’nya, sehingga tidak pernah beliau membantah perintah ibunya. Biarpun beliau sedang berada di tempat yang jauh, misalnya sewaktu beliau sedang berdakwah di Surabaya ataupun di Singapura, bila beliau menerima telegram panggilan dari ibunya, segera beliau pulang secepat-cepatnya ke Jakarta untuk memenuhi panggilan ibunya tersebut.


    Maka tidak heran apabila ilmu beliau sangat berkat, dan dakwah beliau dimana-mana mendapat sambutan yang menggembirakan. Setiap orang yang jumpa dengan beliau, apalagi sampai mendengarkan pidatonya, pastilah akan tertarik. Terutama di saat beliau mentalqinkan dzikir atau membaca sholawat dengan suara mengharukan, disertai tetesan air mata, maka segenap yang hadir turut meneteskan air mata. Dan yang demikian itu tidak mungkin jika tidak dikarenakan keluar dari hati yang ikhlas, hati yang disinari oleh nur iman dan nur mahabbah kepada Allah dan Rasul-Nya SAW.



    Beliau berpulang ke rahmatulloh pada hari Minggu tanggal 20 Rajab 1388 bertepatan dengan 13 Oktober 1968, di tempat kediaman beliau di Kwitang Jakarta, dalam usia 102 tahun menurut Hijriyah atau usia 98 tahun menurut perhitungan Masehi.


     
    • Ceriwis

      Ceriwis
      Forum Gaul
    • Follower

    • About Me

      My photo
      It's Not Who I Am Underneath, but what I do that defines me.